Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Perkara Lubang


__ADS_3

Pagi yang cerah, dengan wajah yang berseri. Itulah Dean saat ini, sejak kemarin ia tak berhenti tersenyum karena bisa mendapatkan Alenka kembali. Bahkan saat dia datang ke kantor pagi ini, Dean tak berhenti tersenyum dan menyapa semua karyawan yang ia lewati. Sungguh bukan seperti kebiasaan Dean sama sekali.


" Pagi, Dion yang mukanya lecek banget kaya kemeja belum di setrika. " sapa Dean mengejek. Dia yang baru masuk ruangannya langsung di suguhkan dengan kehadiran Dion yang berwajah kusut itu. Entah apa masalahnya, wajahnya sudah seperti orang paling menderita di muka bumi ini.


" Pagi Dean si penjahat kelamin yang sudah tobat." balas Dion tak mau kalah. "


" Pagi dua bocah tengik. " sapa Kalan yang tiba-tiba masuk ruangan Dean tanpa mengetuk lebih dulu.


" Lah, kalian ngapain sih pagi-pagi gini udah ada di ruangan gue. Kaya pada gak punya kerjaan aja. " baru juga tadi tersenyum senang, tapi mendadak moodnya rusak karena ada pengacau sedang berkumpul bersama di ruangannya. Kalau Dion saja mungkin ia masih biasa saja, tapi kalau sudah menyangkut Kalan, pikiran Dean tiba-tiba tak tenang, takut sekali ia kalau Kalan ke kantor untuk mengganggu Alenka nya.


" Cie yang udah menemukan lubang yang pas, sombong amat. Gue kesini bukan seperti yang loe pikirkan ya. " ucap Kalan seolah- olah tau apa yang Dean pikirkan.


" Semua lubang juga pas bodoh. Kalau gak pas gak bisa gue masukin semua dong. " sahut Dean nyeleneh.


" Tau Kal, semua lubang itu pas. Buktinya hampir semua lubang udah di masukin Dean tuh, bedanya ada yang sempit ada yang longgar aja." timpal Dion dengan menaik turunkan alisnya.


Menyebalkan sekali wajah Dion saat ini.


padahal tadi saat Dean masuk wajahnya sangat kusut sekarang Kalan datang, Dion kembali lagi dengan mode asal ceplosnya, senang sekali sepertinya mereka menyindir dirinya, pikir Dean.


awal paginya yang cerah ini harus di mulai dengan percakapan mereka yang unfaedah sama sekali.


" Tapi sekarang cuma satu lubang ya? cie yang udah menetap di satu lubang, yakin nih gak pindah-pindah lubang lagi? " tanya Kalan.


Sebenarnya ini alasan dia datang ke kantor pagi ini, karena foto yang Dean kirim kemarin. Dia ingin bertanya langsung pada Dean tentang keseriusannya dengan Alenka dan meyakinkan adiknya tak akan berganti wanita lagi seperti sebelum-sebelumnya.


" Yakinlah cukup lubang Alenka seorang! " ucap nya penuh keyakinan.

__ADS_1


" Lagian Sinting loe ya berdua, masih pagi gini udah bahas lubang. Bikin gue gak fokus kerja aja. " kesal Dean. Dia yang harus menahan hasratnya sejak kejadian kemarin bersama Alenka jelas sangat jengkel dengan pembahasan ini. Otaknya mendadak terbayang akan dua bukit Alenka yang dia cicipi kemarin, tapi Dean juga tak ingin membuat kesalahan lagi dengan meniduri Alenka seperti saat di Bali waktu itu, Dean ingin melakukanya saat mereka sudah sah menjadi suami istri nanti. Jadi dia harus menahan hasratnya mulai saat ini meski sulit dia akan berusaha sekuat tenaga.


" Jadi kapan De loe bakal nikahin Alenka, gue gak yakin loe bisa tahan lama-lama kalau gak mendaki gunung lewati lembah ?" sindir Dion dengan senyum mengejeknya.


" ******, loe pikir gue ninja hatori! Minggu ini gue mau lamar Alenka, nanti malam gue mau menemui mama dan papa untuk membicarakan ini sekalian mengenalkan Alenka sama mereka. " jawab Dean.


" Sorry untuk kejadian waktu itu , gue gak akan ganggu Alenka lagi. Gue juga gak punya perasaan apa-apa untuknya, gue cuma ngerjain loe aja kemarin. " jelas Kalan, ia tak ingin adiknya salah paham padanya, karena memang kenyataannya dia hanya menganggap Alenka adik tak lebih. Dia senang Dean sudah menemukan kebahagiaannya dan berhenti bermain wanita lagi.


" Gue tau kok, saat kemarin gue lihat loe terus menatap Kyara di pesta ulang tahun Aletta, di situ masih ada dia kan? " tunjuk Dean ke arah dada sang kakak.


Kalan hanya mampu tersenyum tipis , ia tak bisa berkata tidak karena memang benar apa yang Dean katakan.


" Lupain Kal, dia istri orang! " sahut Dion menimpali.


" Sedang gue coba, udah kalian tenang aja. Gue akan mencoba buka hati kok mulai sekarang. " kata Kalan mencoba meyakinkan keduannya agar tak perlu mengkhawatirkan dirinya lagi.


" Coba apa? " tanya Kalan dan Dean serempak.


" Cobain macam-macam lubang. " celetuk Dion tanpa dosa.


plak


Dean dan Kalan memukul kepala Dion berbarengan membuat si pemilik kepala merasakan nyeri dua kali lipat di kepalanya, entah lah dua kakak beradik itu seperi punya dendam tersembunyi padanya, pikir Dion.


" Sinting, gue tobat loe malah mau coba begitu. " kesal Dean mendengar perkataan sahabat bodohnya itu.


" Kelakuan calon penghuni neraka jangan loe ikutin Dion, loe emang mau jadi kaya nih iblis satu, jadi penghuni neraka. " Kalan sampai syok mendengar keinginan Dion yang nyeleneh itu. Sepertinya terlalu lama bersama Dean, dia mulai terkontaminasi kelakuan iblis itu, pikir Kalan.

__ADS_1


" Mending loe berdua kerja, keluar dari ruangan gue." sentak Dean yang kesal luar biasa di sebut iblis calon penghuni neraka, walaupun mungkin itu memang benar adanya, tapi tetap saja ia tak suka mendengarnya, karena itu sama saja mengingatkannya akan dosa-dosanya yang sudah meniduri banyak wanita, meskipun para wanita itu sendiri yang dengan senang hati melemparkan tubuhnya pada Dean tetap saja ia merasa bersalah pada Alenka. Tiba-tiba ia merasa tak pantas bersanding dengan wanita itu.


Pembicaraan mereka berakhir, Dion kembali keruangannya sementara Kalan kembali ke resto nya.


ceklek


" Mau ngapain lagi sih kamp......." Dean tak jadi melanjutkan ucapannya setelah melihat yang datang adalah Alenka bukan Dion atau Kalan seperti yang ia kira.


" Kenapa, gak suka aku di sini? " tanya Alenka dengan mengerucutkan bibirnya.


" Bukan gitu sayang, aku pikir tadi si kampret Dion atau Kalan yang datang. " Dean beranjak dari kursi kebesarannya dan menghampiri sang kekasih yang masih berdiri di depan pintu kemudian menarik Alenka untuk duduk di sofa bersamanya.


" Ada Kalan tadi di sini? ngomongin apa? " tanya Alenka.


" Hem.. biasa pembicaraan unfaedah, kamu ada apa ke sini? kangen ya? " tanya Dean penuh percaya diri.


" Nanti malam jadi ke rumah orang tua kamu? " Dean memang berencana memperkenalkan Alenka kepada orang tuanya sekaligus memberi tahu niat keduanya untuk menikah.


" Jadi dong, kan udah aku bilang. Aku gak mau menunggu lama-lama sayang, lihat nih tiap di dekat kamu dia selalu bangun padahal belum di apa-apain. " ucap Dean santai seraya menunjuk barang pribadi kebanggaannya itu.


Wajah Alenka langsung memerah mendengar omongan Dean yang tak tau malu itu.


" Dasar mesum, Gila! "


.


.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2