Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Kehidupan pernikahan


__ADS_3

Hari ini tepat sebulan Dean dan Alenka menjadi sepasang suami istri. Banyak perubahan yang Alenka rasakan selama sebulan menjadi istri Dean, dia yang biasanya harus bangun pagi untuk berangkat ke kantor kini harus beralih bangun lebih awal untuk menjalankan tugasnya sebagai istri untuk menyiapkan segala keperluan Dean dan menyiapkan sarapan untuk sang suami tercintanya.


Benar kata Alenka seharusnya mereka mengenal lebih jauh sebelum memutuskan menikah agar menghindari terjadinya banyak perdebatan tidak penting di pernikahan mereka, Alenka yang kesabarannya selalu di uji dan Dean adalah sosok yang selalu menguji kesabarannya. Alenka yang hidupnya serba tertata rapih, sementara Dean yang serba asal dan berantakan, kerap kali perbedaan seperti itu membuat hari- hari mereka penuh dengan ketegangan, terutama untuk Dean.


Seperti saat ini, saat Alenka sedang berada di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka tiba-tiba Dean berteriak. " Sayang, dasi aku dimana? "


" Udah aku siapin di tempat biasa. " balas Alenka dengan teriakkan juga karena Alenka tak mungkin meninggalkan nasi gorengnya yang masih berada di atas kompor.


" Gak ada sayang, aku udah cari tapi gak ketemu, coba deh kamu yang cari. " pinta Dean tanpa rasa bersalah.


Alenka berdecak kesal seraya mematikan kompor lebih dulu ." Kapan selesainya kalau kaya gini, kebiasaan banget deh." gerutunya.


" Nih ... "Alenka menyodorkan satu buah dasi berwarna merah maroon kepada sang suami. "Biasanya juga aku taro di sini, makanya kalau nyari itu pake mata bukan pake mulut, gimana mau ketemu coba. " benar-benar membuat darah Alenka mendidih seketika.


" Nyari ya pake tangan sayang, kalau gak pake tangan gimana nyarinya, masa cuma di liatin doang pake mata. " ada saja memang jawaban Dean yang membuat kepala Alenka rasanya ingin pecah.


Melihat sang singa betina mulai menunjukkan sifat agresifnya yang siap menyerang, Dean langsung meralat ucapannya. " Bercanda sayang, tadi tuh aku udah cari tapi emang gak ketemu, makanya aku teriak minta bantuan sama kamu. lagi juga aneh ya kalo barang di rumah ini gak ada cuma kamu doang yang bisa nemuin. "


Alenka mencibir, pasti itu hanya alasan sang suami saja, karena sebenarnya ia malas mencarinya sendiri.


Belum juga reda rasa kesalnya Alenka kembali di buat emosi lantaran Dean menaruh handuk basahnya di atas kasur.


" Kamu kebiasaan banget sih kak, kan aku udah bilang handuk basahnya langsung di jemur, jangan di taruh di atas kasur gini, kan jadi lembab." Alenka meraih handuk itu dengan kasar, kemudian menggantungnya di tempat yang semestinya.


" Maaf sayang, aku lupa karena tadi kerepotan cari dasi. " ada lagi saja bukan alasannya yang membuat Alenka mendengus kesal mendengarnya.

__ADS_1


Sebenarnya Dean agak takut dengan kemarahan istrinya itu. Satu hal yang Dean baru tau ketika menikah yaitu saat Alenka datang bulan, emosi wanita itu menjadi tak terkontrol, dia menjadi lebih galak dan menyeramkan , bagaimana kalau hamil, pikir Dean. Mungkin singa betina itu akan lebih galak dari ini. Padahal dulu saat pacaran tak begini, dia gadis yang manja, polos dan penurut walaupun sangat keras kepala, tapi Alenka tak suka marah bagaimana pun kondisi hatinya. sekesal apapun Alenka dia sangat jarang marah, kalaupun marah dia lebih memilih diam dari pada harus mengomel seperti sekarang.


Rasanya Dean ingin cepat -cepat berangkat kerja saja daripada harus mendengar ocehan Alenka lebih lama lagi. " Udah dong yank, kamu jangan marah-marah terus. "


Alenka mendelik menatap ke arah Dean. " Gimana gak marah, kamu pagi - pagi udah bikin salah terus kaya gini."


" Iya-iya maaf, emang aku yang salah. Udah ya jangan marah lagi. " ucap Dean pasrah, daripada istrinya semakin marah lebih baik dia mengalah.


Ya begitulah kehidupan pernikahan yang harus mereka lalui hampir setiap hari, Dean menjadi si selalu salah dan Alenka menjadi si Hulk yang mudah terpancing amarahnya.


...----------------...


" Akhirnya kelar juga meetingnya, laper gue. makan siang dimana kita hari ini? " tanya Dion.


" Pesen antar aja, lagi males keluar gue. " sahut Dean yang memang sedang tidak mood untuk beranjak dari kantor.


" Biasa ngadepin bini datang bulan, mood swing banget. "keluh Dean. " Baru tau gue Alenka bisa seemosian itu kalau lagi datang bulan.


" Ribet kan? mending gak nikah deh. Gak perlu ngadepin hal kaya gini. " Semakin malas saja ia menikah mendengar cerita Dean tentang sang istri.


" Gak gitu juga gila. Gak selamanya dia mood swing terus hanya saat tertentu doang, lebih banyak menyenangkannya menikah tau gak, coba aja loe rasain, pulang kerja cape ada yang urusin gak cuma di boboin doang. " Dean merasa salah bicara, harusnya ia tak menceritakan hal semacam itu pada Dion, harusnya ia ceritakan hal yang menyenangkan dan enak-enak saja, agar sahabatnya itu tak takut berkomitmen.


" Gak makasih, gue masih suka sendiri kaya gini. " ucapnya penuh keyakinan.


" Tasya gimana?"

__ADS_1


" Gue bakal nagih janji dia sekarang, udah satu bulan masa belum siap juga. " sejak pembicaraan terakhir mereka Tasya memang belum memenuhi janjinya, setiap kali Dion bertanya ia akan menjawab belum siap, tapi sepertinya kesabarannya sudah habis. Siap atau tidak Dion akan tetap melakukannya meski harus dengan cara memaksa sekalipun.


...----------------...


Setelah makan siang dengan Dean, Dion meminta Tasya menemuinya di cafe dekat kantor karena hari ini Tasya sedang libur kerja.


" Ini sudah satu bulan Tasya, kesabaran saya tidak setebal itu. " kata Dion tanpa basa-basi saat Tasya kini sudah duduk di hadapannya.


Tasya merasakan jantungnya berdebar kencang saat membicarakan perjanjian itu dengan Dean, dia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil meremat jari jemarinya.


" Tatap aku, saat aku sedang bicara. " titah Dion.


Tasya mendongakkan kepalanya menatap Dion


" Ya, kan katanya pak Dion mau nunggu sampai aku siap. "


" Iya tapi gak sebulan juga Tasya, kamu punya kalender kan? bisa lihat kan bulan nya sudah berganti? masa belum siap juga? apa perlu saya paksa? aku bayarin hutang kamu aja gak pake mikir dan gak pake lama, kenapa sekarang diminta pertanggung jawaban kamu lama banget."


Tasya menelan salivanya, melihat Dion menatapnya penuh kemarahan membuat nyali Tasya langsung menciut, ia pikir pria di hadapannya ini punya sedikit belas kasihan untuk menunggunya lebih lama lagi, tapi sayang ia salah, kesabaran Dion sangat tipis mungkin setipis selembar tisue, pikir Tasya.


" Oke,saya udah siap. Nanti malam saya ke apartemen pak Dion." entah keberanian dari mana dia bisa menjanjikan hal itu malam ini. Mau tidak mau ia harus melayani atasannya sendiri nanti malam.


" Good Girl, harusnya sejak lama kamu bicara begini, jadi gak bikin saya menunggu terlalu lama."


.

__ADS_1


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2