
Betapa mengenaskannya kondisi tiga pria itu,
Mereka seperti habis di keroyok masa, bahkan saat turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah sakit, beberapa orang termasuk suster cukup terkejut melihat penampilan ketiganya, sangat memprihatinkan.
Kini Dion dan Tasya juga Doni dan Angel menunggu di depan ruang bersalin Alenka, sementara Dean menemani sang istri yang akan berjuang melahirkan buah cinta mereka.
" Beb, kami jangan hamil ya, aku gak siap kalo harus menderita kaya gini lagi." lirih Doni yang seakan trauma kalau sampai sang istri bersikap seperti Alenka kalau melahirkan nanti.
" Gak semua perempuan kaya gitu beb, mungkin aku gak gitu. " Angel mencoba menenangkan sang suami, ia juga ingin memiliki anak tetapi sedari awal Doni memang ingin menundanya terlebih mendapat perlakuan seperti itu dari Alenka, sudah di pastikan Doni semakin enggan memiliki anak.
" Gak, pokoknya aku gak mau! " Doni tetap kekeh pada pendiriannya. Angel memilih mengiyakan permintaan sang suami, ia tau ini bukan saat yang tepat membahas anak dengan Doni yang sudah lelah dan sakit dibagian kulit kepalanya. Jadi Angel memutuskan membiarkan sang suami tenang dulu.
Lain dengan Doni dan Angel, lain pula dengan pasangan yang sebentar lagi akan menikah yang duduk tak jauh dari mereka. Sama seperti hal nya Doni dan sang istri, kini mereka pun membahas hal yang sama.
" Sayang kamu operasi aja ya kalau nanti melahirkan, jadi sebelum perut kamu kontraksi anak kita udah lahir dan kamu gak perlu merasakan sakit kaya Alenka, terlebih kamu gak perlu ngalamin drama kaya tadi, aku juga gak perlu ngerasain penganiayaan kaya barusan.
" Kalian tuh ya, melahirkan ya kaya gitu. Nikmatin aja prosesnya, masih mending cuma dijambak dan dicakar beberapa menit doang, dibanding sama istri kalian yang nahan sakit berjam-jam, lagian jangan cuma mau enaknya doang pas bikin, sakitnya ikut rasain lah." gerutu Tasya. Kalah telak mereka kalau sudah berdebat dengan para pawang di sampingnya, Sehingga membuat mereka diam tak bisa berkata apa-apa lagi.
" Lagian aku hamil aja belum kak, kamu udah mikirin lahiran. Emang operasi gak sakit setelah nya? sama aja sakit kak. " lanjut Tasya lagi.
Kembali ke pasangan yang sedang berjuang menantikan kelahiran bayi mereka.
" Sakit kak aku gak kuat. " lirih Alenka yang sudah lemas sekali.
Dean menggenggam tangan Alenka seraya mengusap keringat yang membasahi dahi istrinya.
" Kamu pasti bisa sayang demi anak kita kamu pasti kuat, sayang. "
Dean terus memberi semangat pada Alenka bahkan menciumi tangan sang istri, sementara sang istri mengikuti instruksi dokter untuk mengejan, Sampai tak berapa lama suara tangis bayi mereka pun pecah, membuat Dean bisa bernapas lega.
__ADS_1
" Cantik banget anak loe , De. " ucap Doni yang kini sudah berada di ruang perawatan Alenka.
" Iya dong, bibit gue mah premium. " sahut Dean bangga.
" Itu mah nurun karena kecantikkan istri loe kali. " celetuk Dion yang tak terima dengan pernyataan Dean.
" Namanya siapa? " tanya Angel yang kini sibuk memandangi wajah cantik bayi Dean dan Alenka.
" Ehem, namanya... Warna Jingga. "
" Namanya unik . " celetuk Tasya yang juga sangat gemas dengan bayi perempuan yang masih asik terlelap.
" Iya tuh kak Dean yang ngasih nama. " ujar Alenka yang kini tengah menggendong sang putri.
Mereka semua sangat senang dengan kehadiran jingga yang cantik dan menggemaskan, Doni pun begitu terpesona melihat bayi mungil itu, meskipun ia menyukainya tapi bukan berarti dia ingin memiliki bayi, pendiriannya masih sama belum ingin punya anak, tidak dengan Tasya yang terus merengek ingin yang seperti itu, sampai Dion dibuat kewalahan karena tiba- tiba Tasya minta minggu depan mereka menikah karena ingin cepat punya bayi lucu seperti jingga.
Setelah Dion dan Tasya pamit pulang, juga Doni dan Angel yang juga ikut pulang, kini ayah dan adik Alenka pun datang menengok baby jingga, dan saat ini setelah keluarga Alenka pulang giliran orang tua Dean beserta Kalan yang menjenguk baby jingga. Tak hentinya keluarga silih berganti menjenguk Alenka dan juga Jingga. Kelahirannya sebagai cucu pertama membuat semua keluarga sangat antusias ingin melihat dan menggendong Jingga.
" Ihhhh cantik banget cucu grandma. " ucap mama sherlin yang saat ini tengah menggendong sang cucu .
" Iya cantik mirip kamu, hidungnya mirip Kalan bayi mancung. " timpal papa Brian sambil mengelus rambut sang cucu.
" Dari mana miripnya. Papa lupa itu anak Dean bukan anak Kalan. " gerutu Dean yang tak terima hasil kerja keras nya dimiripi sang kakak.
" Ya kalian kan adik kakak, ya hampir mirip-mirip lah, lagian cuma hidungnya yang mirip Kalan bukan wajahnya. " elak papa Brian yang tak mau kalah dengan Dean hanya karena perkara hidung.
" Ya tetep aja aku gak terima, orang itu hasil keringat Dean dan Alenka tiap malam, malah di miripin sama si jomblo akut. "
plak
__ADS_1
" Kalo ngomong sopan sedikit sama kakak kamu. " Alenka memukul lengan Dean yang duduk di tepi ranjang perawatannya, ia sebal suaminya bicara tanpa filter, ia takut Kalan tersinggung oleh ucapannya terlebih kini ada orang tua Dean bersama mereka.
" Emang tuh si jomblo bikin mama pusing , di jodohin sama anak temen mama dia malah nolak." ungkap Mama Sherlin yang merasa malu oleh temannya karena tiba- tiba Kalan menolak anak temannya karena dia bukan tipe Kalan.
" Tuh liat adik kamu sudah punya anak, kamu kapan?" sindir Papa Brian pada sang anak sulung.
" Ya elah bikin anak mah gampang Pa, Papa mau cucu dari aku? Bisa kok aku bikinin sekarang juga." Kalan berkata tanpa beban sama sekali membuat sang mama yang sedang menggendong jingga langsung memukul lengan putranya tersebut.
" Nikah dulu baru bikin anak, jangan ngadi- ngadi ya Kal, awas sampai kejadian beneran, mama potong burung pipit kamu. "
Sontak hal tersebut membuat tawa Dean pecah, ia tertawa terbahak bersama sang papa yang ikut menertawai putranya. " kecil dong kalo burung pipit. "
" Butuh pawang dia, De. Biar burung pipit berubah jadi burung elang. " timpal papa Brian.
Kalan yang kesal langsung bangkit dari duduknya dan melempar bantal sofa ke arah wajah Dean lalu keluar dari ruang rawat Alenka karena tak tahan dengan pembahasan keluarganya.
" Siallan! dasar bujang lapuk. " teriak Dean saat Kalan menutup pintu ruang rawat Alenka.
" Dean! " sentak mama sherlin. " kalo ngomong di jaga, jangan gitu sama kakak kamu. " mata mama sherlin sekarang beralih pada sang suami.
" Kamu juga kenapa harus di ketawain anaknya."
" Lah kan kamu yang ngasih julukan punya Kalan burung pipit, jadi ya lucu lah aku kan jadi ngebayangin kecil imut-imut gitu. Gak salah kan kalo aku ketawa. " sahut sang suami tanpa dosa.
" Itu kan istilah nya aja Pa, kenapa mesti di ketawain. kalau Kalan marah gimana? " mama Sherlin khawatir Kalan baper atas sikap papa dan adiknya yang menertawakannya , terlebih saat tiba- tiba Kalan keluar dari ruangan Alenka begitu saja tanpa pamit, mama Sherlin tak enak hati karena ucapan asalnya sang anak jadi ditertawakan.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1