
" Tunggu di mobil gue, gue mau bicara sama temen gue dulu. " ucap Dion seraya menyerahkan kunci. mobilnya pada Tasya.
" Mau kemana loe, bawa anak bocah. Mau jadi penerus Dean? " tanya Doni dengan senyum mengejeknya.
" Di, ada apa sebenarnya. " tanya Kalan yang juga penasaran. " Jangan macem-macem sama anak kecil. "
" Gue mau anter Tasya pulang, tadi dia ada masalah nanti gue ceritain, loe tenang aja Kal gue bukan Dean." Setelah mengatakan itu ia bergegas meninggalkan kawanannya menuju mobil dimana Tasya sudah menunggunya.
" Gua balik juga kalo gitu. " ucap Kalan sambil menepuk bahu Doni.
" Yakin gak mau seneng-seneng dulu? "
Kalan tau apa yang di maksud seneng-seneng oleh Doni, yaitu bermain wanita, dan ia benar-benar tak menginginkannya saat ini." Gak usah, loe aja Don. " Kalan pamit dari tempat itu meninggalkan Doni yang ingin mencari mangsa.
Di saat Dean dan Alenka baru saja selesai bergulat di atas ranjang, ponsel Dean tiba-tiba berdering dan itu adalah panggilan dari sang kakak.
" Ada apa? untung aja gue gak lagi nanggung. " ucap Dean dengan napas yang masih terengah karena baru saja menyelesaikan pertarungannya dengan sang istri.
" Sinting! " umpat Kalan dari seberang telpon.
" Ya loe, lagian malam-malam ganggu pria beristri ya begini. " ketus Dean, kesal sekali rasanya padahal sang kakak lah yang mengganggu nya tapi malah kakaknya juga yang malah mengumpat nya, bukan kah itu terbalik. pikir Dean.
" Ya sorry ada berita penting yang mau gue kasih tau. Masalah Dion , dia bawa gadis remaja dari club malam. "
" Hah, wiih mantep akhirnya temen gue bisa normal lagi. " seru Dean bersorak gembira mendengar sahabatnya membawa seorang gadis.
" Bukan itu yang mau gue denger bodoh, emang dasar ya iblis, anak buahnya ngikutin jejaknya dia malah seneng."
" Eh tunggu, kok loe tau dia bawa cewek dari club malam, jangan bilang loe...? "
__ADS_1
" Besok aja kita ketemu, kita sidang Dion sekalian." Kalan menutup sambungan teleponnya begitu saja padahal Dean belum melanjutkan omongannya.
" Dasar gak waras, gak ada sopannya sama sekali."
Mendengar sang suami terus saja menggerutu sambil mengumpat membuat Alenka penasaran.
" Mas Kalan kenapa sayang? "
" Gak tau, gak jelas. Udah ganggu gak permisi dulu bahkan maen tutup telpon Seenak jidatnya aja. " gerutu Dean.
.
...----------------...
Dion mengajak Tasya ke apartemennya, Tasya pun tak bisa menolak, seperti yang dikatakan Dion pada pamannya di club bahwa Dion sudah membelinya dan kini Tasya menjadi miliknya.
Mereka berdua masuk ke dalam apartemen, Dion mengambilkan minum untuk Tasya dan kini mereka duduk berhadapan.
Tasya lahir dari keluarga sederhana , sang ibu yang sakit parah saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar membuat sang ayah harus mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan sang ibu, semua akan Ayah Tasya berikan asal sang istri bisa hidup sehat seperti sedia kala.
Tapi sayang pengobatan sang ibu berakhir sia-sia, ibunya meninggal saat usia Tasya baru saja menginjak 13 tahun. Sungguh tragis memang nasibnya dua tahun setelah kepergian sang ibu sang ayah pun mulai sakit-sakitan, sampai akhirnya Tasya meminjam uang pada pamannya. Tasya terpaksa meminjam karena ia butuh uang untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-harinya bersama sang Ayah juga untuk biaya pengobatan Ayahnya, Setelah tiga tahun berjuang Ayah Tasya pun menghembuskan napas terakhirnya tiga bulan yang lalu.
Setelah lulus sekolah menengah atas satu bulan yang lalu Tasya bekerja sebagai OB di perusahaan Dean, apapun akan Tasya kerjakan asal halal dan bisa membayar hutang pada pamannya, tapi sayang hutangnya terlalu banyak dan paman nya tak sesabar itu menunggu Tasya membayar hutangnya oleh sebab itu sang paman memutuskan menjual Tasya di sebuah club malam.
" Jadi gitu ceritanya pak, oh iya makasih juga ya pak, sudah mau bantu Tasya. Kalau gak ada pak Dion aku gak tau gimana nasib aku sekarang . " ucap Tasya dengan tulus. Ia benar-benar takut, beruntung sekali malam ini ia bertemu Dion di sana.
Dion tersenyum menyeringai. " Itu semua gak gratis Tasya. "
" Pak Dion boleh potong hutang aku dari gaji ku tiap bulan juga gak apa kok pak. " jawab Tasya dengan polos nya, jelas bukan itu yang Dion maksud.
__ADS_1
Entah kerasukan setan mana, atau memang karena dia anak buah si iblis Dean sehingga otaknya juga licik seperti bosnya. Dia mulai memikirkan hal gila yang ingin dia lakukan bersama gadis remaja di depannya ini.
" Potong gaji? sampai kapan Tasya? 300 juta itu gak sedikit. Kapan bisa lunasnya dengan gaji kamu yang gak seberapa itu." ucap Dion sarkas.
Tasya benar-benar di buat bingung dengan perkataan Dion. " Lalu aku harus lunasin pakai apa kalau gak pakai uang dari gaji aku pak, aku udah gak punya apapun untuk di jual. "
" Jadi partner ranjang ku. " ucap Dion santai tanpa beban.
Mata Tasya terbelalak mendengar permintaan Dion, itu sama saja keluar kandang buaya masuk kandang singa, apa bedanya kalau Dion membantunya tapi dia harus membayar dengan tubuhnya bukan kah itu sama saja dengan menjual dirinya pada Dion, pikir Tasya
" Bapak jangan kurang ajar ya, saya gak nyangka bapak punya pikiran licik kaya gitu, apa bedanya kalau kaya gitu sama aja kaya saya jual diri ke bapak " ketus Tasya dengan mata yang sudah mendelik tajam menatap Dion penuh permusuhan.
" Harusnya kamu berterima kasih sama aku, setidaknya kamu hanya perlu melayani ku bukan melayani banyak pria seperti di club malam. "
" Tapi gak gitu pak. " ucap Tasya melemah. " Saya bersedia jadi pembantu bapak di sini, atau mengerjakan apapun yang bapak suruh tapi asal jangan jadi partner ranjang bapak. "
" Kalau kamu gak bersedia, lebih baik kembalikan uang aku besok atau kamu akan ku jual ke tempat tadi. Kamu pikirkan baik-baik! malam ini kamu menginap disini kalau kamu pulang sudah terlalu malam saya juga males mengantar kamu yang ada nanti kamu kabur tanpa pertanggung jawaban."
Tasya menatap bingung Dean, kenapa juga tadi tidak diantar ke kosan aja biar gak bolak balik, pikir Tasya. Lagi juga siapa yang minta diajak kesini. Benar-benar berbuat seenaknya. Ia pikir orang didepannya malaikat tapi ternyata iblis sungguh sangat licik. Wajah tampan kelakuan setan, batin Tasya.
Dion meninggalkan Tasya begitu saja, apartemen nya hanya ada satu kamar, jadi ia meminta Tasya tidur di sofa tak lupa ia memberi Tasya selimut berserta bantal. Setelah itu Dion berlalu ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Pakaian Tasya yang cukup seksi sungguh mengganggu fokusnya sejak tadi gadis itu berada di club malam, sungguh berbeda dari yang ia lihat di kantor, maka dari itu saat mendengar Tasya bercerita tiba-tiba ia mempunyai ide gila.
Dion adalah lelaki normal, selama ini ia tak pernah melewati batas bahkan saat dulu memiliki kekasih. tapi entah kenapa dia menginginkan gadis kecil didepannya ini, ia ingin merasakan tanpa harus menikah, salahkah dia yang tak ingin terikat pada suatu hubungan?
Dion merasa lebih baik menjadikan Tasya partner ranjangnya, dari pada harus berganti lubang setiap saat seperti Dean setidaknya ia hanya melakukan itu hanya pada satu orang gadis saja walaupun tanpa hubungan di dalamnya.
.
.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...