Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Masih partner ranjang


__ADS_3

Dengan langkah tergesa Dion bergegas pergi dari apartemen Dean menuju kosan Tasya, tapi sayang sesampainya di sana ternyata Tasya sudah pindah sejak sebulan yang lalu, bahkan gadis itu mengganti nomer ponsel nya, mau tak mau Dion harus menunggu sampai esok pagi untuk menemui Tasya di kantor.


Dion baru saja sampai di kantor, ia baru saja memarkirkan mobilnya tapi ia mengurungkan niat untuk turun dari mobil saat melihat Tasya turun dari sebuah motor bersama seorang pria.


" Apa itu anak magang yang Dean bilang kemarin ya? " gumam Dion.


Dion berjalan di belakang sepasang anak manusia yang sedang asik bercanda, sungguh kesal melihat mereka bisa seakrab itu, menyesal rasanya ia mengabaikan Tasya selama tiga bulan ini.


Deg


jantung Tasya berdetak kencang saat memasuki lift ternyata ada Dion yang juga memasuki lift yang sama dengannya. Tasya mendadak menjadi pendiam tak seperti tadi, bahkan Alex di buat bingung oleh sikap Tasya, Alex berpikir mungkin karena ada salah satu atasan mereka di dalam lift sehingga Tasya menjaga bicaranya.


" Tasya buatkan saya kopi dan antar keruangan saya. " ucap Dion saat keluar dari lift.


" Ba-baik pak. " Perasaan Tasya menjadi tak enak, selama satu bulan di abaikan, dan dua bulan menghilang begitu saja tiba-tiba Dion berbicara lagi dengannya, ada apa? apa ia ingin menagih hutangnya lagi? pikiran Tasya benar-benar kacau sekarang.


" Sya, kamu kenapa? " tanya Alex yang melihat raut wajah Tasya berubah menjadi pucat.


Pertanyaan Alex membuyarkan lamunan Tasya, ia sampai lupa kalau saat ini ada Alex yang sedang berjalan bersamanya. " Gak apa kak... Emm yaudah aku kerja dulu ya kak. " ucap Tasya mengalihkan pembicaraan ia ingin menghindari pertanyaan Alex saat ini, ia tak mau Alex semakin banyak bertanya karena Tasya tau Alex sangat peka terhadap sekitarnya.


" Nanti aku tunggu, kita pulang bareng lagi ya dan kalau ada apa-apa hubungi aku. " kata Alex.


" Siap kak. " Tasya tersenyum kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Alex yang sudah sampai di depan ruangannya.

__ADS_1


...----------------...


Jantung Tasya berdetak lebih cepat saat memasuki ruang Dion dengan membawa secangkir kopi pesanannya.


" Ini pak Kopi nya. " Tasya menaruh secangkir kopi itu di meja kerja Dion. Baru saja hendak melangkah keluar dari ruangan Dion, Tiba-tiba Dion menahan tangan Tasya.


" Duduk dulu, ada yang mau aku bicarakan. " Dion menarik pelan tangan Tasya menuju sofa yang ada di ruang kerjanya dan mereka duduk berdampingan sekarang.


" Dia siapa? " Dion bertanya sambil menatap wajah Tasya yang selama tiga bulan ini selalu membayanginya.


" Siapa yang bapak maksud? " tanya Tasya yang memang tak mengerti maksud pertanyaan Dion.


" Pria tadi. " jawab Dion dingin dan datar.


" Aku tau Tasya dia anak magang, tapi bukan itu maksud aku. Aku mau tau hubungan kamu sama dia apa? " masih pagi saja sudah menguji kesabarannya, pikir Dion.


" Cuma teman, kebetulan dia anak pemilik kosan aku sekarang tinggal. " memang itu adanya, hubungannya dengan Alex hanya sebatas teman dekat, mana mungkin Tasya berharap lebih. Sekalipun Alex begitu baik padanya tapi ia tak pernah bermimpi menyukai pria itu karena Tasya menganggap dirinya tak pantas untuk laki-laki baik seperti Alex, apalagi kalau sampai Alex tau dia bahkan menjual dirinya pada atasan mereka hanya untuk membayar hutang.


" Kenapa kamu pindah kosan? kenapa mengganti nomer telpon kamu tanpa sepengetahuan ku? kenapa di antar sama Alex? dimana motor kamu? " begitu banyak pertanyaan yang Dion lontarkan, membuat Tasya bingung sendiri menjawab yang mana lebih dulu, lagi juga bukan salahnya juga kan kalau Dion tak mengetahui itu semua, toh selama tiga bulan ini pria itu yang mengabaikannya.


" Motor ku hilang, jadi aku pindah kosan karena di daerah sebelumnya gak aman, masalah nomer ponsel aku rasa bukan hak bapak melarang saya menggantinya, lagi pula bukankah selama tiga bulan ini bapak yang mengabaikan saya, jadi saya rasa urusan kita sudah selesai kan? " jelas Tasya panjang lebar.


" Kamu masih ingat kan perjanjian kita, di larang dekat dengan pria lain selama jadi partner ranjang ku. " ujar Dion penuh penekanan di akhir kalimatnya agar Tasya sadar kalau dia masih menjadi partner ranjangnya.

__ADS_1


" Perjanjian kita hanya dua bulan dan bapak sudah melewatkan nya karena ini sudah tiga bulan, jadi saya anggap perjanjian kita sudah tak berlaku lagi." Entah dari mana Tasya mendapat keberanian sebesar itu untuk melawan perkataan Dion, mungkin karena saat ini ia sangat kesal sebab Dion tiba-tiba membahas perjanjian mereka lagi setelah beberapa bulan berlalu dan di saat ia sudah melanjutkan hidupnya kembali.


Dion tersenyum menyeringai, gadis di hadapannya ini sangat berani membalas perkataannya, pikir Dion. Tapi bukan Dion namanya kalau tak punya akal yang licik.


" Dengar aku baik-baik, perjanjian kita dua bulan menjadi partner ranjang ku, kamu tau kan 1 bulan itu berapa hari? 30 sampai 31 hari. Tapi kita baru melakukan nya hanya 1 kali itu artinya hanya 1 hari, masih tersisa 59 hari lagi kamu menjadi partner ranjang ku Tasya, tiga bulan yang sudah berlalu tidak bisa kita hitung, itu adalah jeda waktu yang aku beri untukmu anggap saja itu jatah cuti untuk jadi partner ranjang ku, tapi setelah ini jangan harap aku akan memberi mu libur, karena setiap hari aku akan menagihnya sampai terhitung 59 kali kita melakukannya, sehari sekali sudah cukup untukku.


" Sinting! dasar iblis, mana bisa begitu. Bapak jangan licik ya jadi orang. " sentak Tasya yang tak terima dengan omongan Dion yang tak masuk akal menurutnya, dapat teori dari mana bisa seperti itu, pikir Tasya.


" Memang aku iblis! terserah kamu mau menyebut ku apa, yang jelas hutangmu belum lunas! Ah iya jangan sampai aku memberi tahu Alex perihal surat perjanjian kita, bukan kah kamu akan sangat mengecewakannya nanti. "


Mungkin Alex bukan siapa-siapa untuknya tapi Tasya tak mau Alex tau seburuk apa dirinya apalagi kalau sampai Alex mengusir nya dari kosan terlebih selama ini Alex sudah begitu baik padanya ia tak ingin mengecewakan pria itu.


" Gak bisa kalo 59 hari, saya itu ada masa menstruasi pak. " kesal Tasya pada atasannya yang suka berbuat seenaknya itu.


" Oh iya saya lupa, kalau gitu anggap saja selama kamu menstruasi itu masa libur kamu jadi jatah kamu saya kurangi. Seneng kan kamu. " kata Dion sambil tersenyum ke arah Tasya tanpa rasa bersalah sama sekali.


Dari mana senangnya, pikir Tasya. Bukankah tetap saja dia harus melayani pria licik itu setiap hari nantinya, padahal ia pikir selama ini dia sudah bisa bernapas lega tapi Tasya salah, pria itu tak mungkin mau rugi.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.

__ADS_1


__ADS_2