Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Di tolak


__ADS_3

" Maaf, maafkan aku, Al. Tapi untuk semua yang terjadi aku tak pernah menyesalinya. Aku menganggap itu adalah cara takdir untuk menyatukan kita, jadi menikahlah denganku. "


Alenka yang tadi menangis kini malah mengambil jarak, melepaskan pelukan Dean dan malah memegang kening pria itu. " kamu sakit, kak? "


" Hah? Enggak. " Dean mencoba memegang keningnya juga dan merasa bahwa tak ada yang salah dengan suhu tubuhnya, tapi kenapa reaksi Alenka seperti ini, tanya Dean dalam hati.


" Ucapan kamu ngelantur, menikah? Aku bahkan lebih memilih sendiri kalaupun nanti Tommy meninggalkan ku karena hal ini. " tegas Alenka.


" Aku gak mau punya suami playboy, yang suatu saat nanti akan menyakiti perasaan aku lagi." lanjut Alenka yang ragu dengan kesetiaan Dean.


Ternyata tidak sesuai ekspektasinya, Dean berpikir Alenka akan senang kalau ia mengajaknya menikah tapi reaksi wanita itu di luar dugaannya.


" Yaa ampun Al, berapa kali udah aku bilang selama sama kamu aku gak pernah mengkhianati kamu. " ucap Dean membela diri. Sepertinya dia harus mencari tau siapa orang yang sudah mengirimkan foto itu pada Alenka terlebih Alenka sendiri tak mengetahui siapa yang mengirimkan foto itu, karena memang Tommy menggunakan nomer ponsel baru saat itu agar Alenka dan Dean tak curiga bahwa dia lah yang sudah merencanakan menjebak Dean dan mengirimkan foto itu pada Alenka seolah Dean sedang berselingkuh.


" Aku mau lanjut kerja, soal tawaran menikah maaf aku gak bisa, kak. Kamu gak perlu bertanggung jawab, anggap aja kejadian itu sebuah kesalahan. Aku cuma mau kamu merahasiakan ini dulu dari siapapun." Alenka beranjak dari duduknya dan langsung bergegas keluar dari ruangan Dean, bahkan Dean belum sempat mengatakan apapun.


" Dion sialan, ini gara-gara omongan dia kemarin gue jadi di tolak, gak mikir apa tuh orang sebelum ngomong kalau omongan itu adalah doa, suka asal ceplos aja." gumam Dean yang sedang kesal karena di tolak Alenka. Baru saja dia menggerutu sendiri tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, panjang umur sekali memang, baru saja Dean mengumpat kini Dion berdiri di hadapannya.


" kusut amat tuh muka kaya benang layangan. " celetuk Dion asal. Sungguh mulutnya ingin sekali Dean tukar dengan burung kenari yang bahkan suaranya lebih merdu dan enak di dengar ketimbang celotehan Dion yang terkadang membuatnya kesal luar biasa.


" Ini semua karena omongan loe yang kemarin. Inget Di, omongan adalah doa dan sekarang benar kejadian Alenka nolak gue. " Dean tak habis pikir wanita mana yang sudah di ambil kesuciannya dan dia dengan niat baik ingin bertanggung jawab malah di tolak mentah- mentah.


Bukannya prihatin lamarannya pada Alenka di tolak, Dion justru tertawa kencang. Bahkan mungkin karyawan yang ada di luar ruangan Dean mendengar tawanya.


" Karma buat loe yang sering mempermainkan wanita. " ucap Dion yang masih tak bisa berhenti tertawa.


" Sinting, temen lagi susah bukannya di bantuin malah diketawain. " semakin kesal Dean semakin senang Dion itu lah mereka.


" gue sumpahin loe suatu saat kalau jatuh cinta sama cewek, loe di tolak mentah-mentah kaya apa yang gue rasain sekarang." lanjut Dean.

__ADS_1


" Gue gak akan pernah jatuh cinta lagi, karena gue udah gak mau berhubungan sama yang namanya wanita. Sendiri itu lebih baik !" prinsip yang masih sama seperti dulu. Bahkan sang mama tak bisa berbuat apa-apa saat Dion memutuskan untuk tak menikah dan juga tak mau menjalin hubungan dengan wanita mana pun hingga detik ini.


" Terserah loe, jangan sampai ke makan sama omongan sendiri aja. Mending loe bantuin gue sekarang. "


" Tenang, sebagai teman yang baik pasti gue bantu. " ucap Dion dengan penuh keyakinan.


" Bantu apa? "


" Bantu doa! "


Astaga, salah sekali dia mempercayai Dion, memang benar bantu doa itu bagus, tapi kalau tanpa di barengi dengan usaha, mana mungkin akan berhasil begitu saja, pikir Dean.


" Terserah loe deh mau bantu apa. " Dean tak bisa berkata-kata lagi, tak ada gunanya menurutnya berdebat dengan si jomblo akut itu.


Setelah kepergian Dion dari ruangannya, Dean mencoba menghubungi sang sahabat di masa SMA yaitu Doni, ia ingin menanyakan tentang kejadian di masa lalu yang sama sekali tak ia ingat karena mabuk berat pada saat itu, tapi sayang Doni tak kunjung menjawab telepon darinya. Sampai akhirnya dipanggilan ke lima nya Doni pun menjawab dari seberang telepon.


" Aaakkkhhhhh baby, you are so hot. " dessah Doni di sela-sela menjawab telponnya. Entah lah sepertinya dia belum sadar kalau saat ini Dean sedang mendengar suara laknatnya itu.


Dean yang kesal luar biasa mematikan teleponnya. begitu saja, bagaimana tidak kesal, bukannya menjawab telponnya, Doni malah terus mendessah membuat Dean terbayang lagi akan malam panjangnya bersama Alenka, ingin sekali Dean melaminating mulut laknat Doni itu.


" Loe kenapa, De? tanya Dion, dia yang mengantar dokumen untuk Dean tanda tangani dibuat heran lantaran wajah pria itu memerah seperti sedang menahan sesuatu, entah amarah atau apa Dion pun tak tau.


" Gue abis nelpon Doni, niatnya pengen minta dia menjelaskan apa yang terjadi waktu itu karena gue gak inget sama sekali, mungkin aja Doni bisa memberi petunjuk. "


" Terus apa katanya? "


" Katanya aaakkhh baby you are so hot, gimana gue mau nanya kalau dia lagi kaya gitu, yang ada gue cuma di suruh denger suara laknatnya itu. "


" Hahahaha, harusnya loe video call, De. Lumayan bisa nonton live streaming. " ceplos Dion asal. yang membuat Dean mendengus kesal mendengarnya.

__ADS_1


" Sakit jiwa, gak waras! " sepertinya kelamaan sendiri membuat Dion menjadi gila seperti ini, pikir Dean . Bisa-bisanya menyarankan menonton sahabatnya sendiri.


" Sialan, lagi ngapain sih loe tadi. " oceh Dean saat mengangkat panggilan teleponnya dari Doni yang menghubunginya balik setelah selesai melakukan kegiatan yang menguras tenaga.


" Kaya gak tau aja, De. Masa harus gue jelasin kan loe lebih pro. Lagian ngapain sih loe nelpon pas gue lagi tanggung. " padahal Doni tau, dia salah. tapi mana mau Doni di salahkan, karena menurutnya Dean lah yang mengganggu kegiatannya itu.


Dean mendengus kesal mendengar jawaban sahabatnya yang tak punya adab itu.


" Eh sinting, emang gue bisa lihat loe lagi tanggung apa gak tadi?


" Makanya harusnya tadi loe video call aja, jadi tau Doni lagi tanggung apa gak. " bisik Dion yang tiba-tiba menyela pembicaraan Dean dengan Doni.


Dean menarik napas dalam dan menghembuskannya lewat mulut , ia mencoba menetralisir emosinya yang sudah sampai ke ubun-ubun karena mempunyai dua sahabat yang sama-sama tak waras dan tak punya adab.


" Lagian kalau emang tanggung kenapa gak nanti aja angkat telpon dari gue. Terkontaminasi nih telinga gue. " keluh Dean.


Doni tertawa renyah mendengar perkataan Dean yang seolah- olah baru pertama kali mendengar dessahan laknat itu." Kaya gak pernah aja. Lagian tadinya tuh gue pikir gue bisa ngomong sama loe eh tapi cewek gue terlalu liar jadi bukannya ngomong, gue cuma bisa mendessah. Apalagi pas mulutnya ada di....... " Doni tak lagi melanjutkan ceritanya karena tiba-tiba Dean berteriak dari seberang telpon.


" Dasar gila! Gak usah di perjelas, loe pikir gue mau denger. " menjijikan sekali, pikir Dean.


" Loe ada apa nelpon gue? "


" Gue mau nanya tentang kejadian di ulang tahun Nadia yang ke 18 waktu itu. "


.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2