Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Perihal Panggilan


__ADS_3

Dengan tangan bergetar Tasya menekan passcode apartemen Dion. Perlahan ia masuk mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sosok Dion tapi pria itu tak kunjung terlihat sampai akhirnya Tasya memilih mengambil minuman dingin lebih dulu untuk menetralkan rasa gugupnya, baru saja membuka kulkas tiba-tiba seseorang melingkarkan tangannya di perut Tasya.


" Udah datang? " tanya Dion sambil mengecup leher Tasya, hingga membuat gadis itu meremang.


pertanyaan konyol macam apa itu, pikir Tasya. Sudah tau dia ada di sini itu artinya dia sudah datang bukan, kenapa masih bertanya begitu.


Tasya berbalik menghadap Dion alangkah terkejutnya dia melihat Dion hanya mengenakan handuk, sepertinya pria itu baru saja selesai mandi, pikir Tasya.


Tanpa menunggu lama Dion langsung menyerang bibir Tasya dengan ganas sampai gadis itu terbelalak mendapat serang tiba-tiba, ini adalah kali pertamanya berciuman sungguh ia bingung harus bagaimana.


Tidak ada yang bisa menahan sebuah gairah, apalagi jika sudah menahannya sejak sebulan yang lalu, itulah yang Dion rasakan saat melihat Tasya di sebuah club malam.


" Pak. " Tasya menepuk- nepuk pundak Dion saat merasakan dirinya hampir kehabisan napas.


Dion menarik wajahnya dengan napas memburu, Tasya menarik napas banyak-banyak seolah sedang mengisi oksigen dalam paru-parunya yang sudah hampir habis.


" Pelan-pelan pak." dengus Tasya. " Ini pertama kalinya aku ciuman. " ucapnya lagi sambil menunduk malu.


" Bisa gak jangan panggil Pak kita bukan sedang di kantor Tasya. " protes Dion, kupingnya merasa sakit mendengar Tasya terus memanggilnya pak.


" Terus aku harus panggil apa? apa Om aja ? " tanya Tasya yang bingung dengan permintaan Dion, sebenarnya dia di suruh ke apartemen untuk apa? apa untuk membahas masalah panggilannya pada Dion atau bagaimana.


" Aku gak setua itu Tasya, usia kita cuma beda 8 tahun, emang di otak kamu ini gak ada panggilan lain yang lebih bagus untuk aku? " kesal sekali Dion, seolah-olah dia sudah tua sekali dipanggil Pak atau Om.


" Mas aja gimana? "


" Masih terdengar tua. "


" Kalau abang gimana? "


" Gak suka. "


" Oppa, gimana? "

__ADS_1


" Itu lebih tua lagi Tasya, kamu menghina aku? " ucap Dion yang tampak sewot.


" Ini tuh Oppa panggilan orang Korea, bukan opa kakek-kakek. " ribet sekali masalah panggilan harus berdebat dulu seperti ini, pikir Tasya.


" Ya gak enak di dengarnya, kita bukan di Korea. kalau sampai ada orang lain yang dengar bisa mengira aku kakek kamu. " sungguh membuang waktu sekali, pikir Dion. Bahkan gairahnya yang tadi menggebu mendadak menguap entah kemana hanya karena perihal panggilan.


" Kan kita cuma berdua, siapa juga yang mau denger, kita juga bukan sepasang kekasih yang butuh panggilan khusus, aku panggil Dion ajalah dari pada ribet. " sudah habis kesabarannya berdebat dengan Dion.


Mendengar hal itu Dion langsung bertolak pinggang. " Kamu gak belajar sopan santun, aku lebih tua dari kamu, gak peduli kita ada hubungan atau tidak. "


" Ya terus mau di panggil apa, ribet banget kalau buang waktu begini, mending aku pulang aja lah. " ancam Tasya.


" Yaudah kak aja, kalau lagi di luar kantor panggil kak aja, mau panggil hubby juga boleh. " ucap Dion tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


" Kita bukan suami istri, gak sadar diri apa? " ketus Tasya.


" Banyak orang pacaran yang pakai panggilan hubby gitu, gak harus orang yang sudah menikah aja. " mana mau Dion mengalah, sudah pasti akan panjang urusannya berdebat dengan Dion.


" Tapi..... "


" Masih mau bahas ini? kalau aku kesini cuma mau bahas ini, mending aku pulang. Buang-buang waktu aja. " ujar Tasya dengan wajah cemberut nya.


Heran sekali Dion, kenapa anak kucing di depannya ini menjadi galak pada sang majikan, bahkan dia berani mengancamnya, apa dia lupa berbicara pada siapa? padahal Dion adalah pemilik kuasa atas dirinya. "Siapa yang ijinin kamu pulang?" lebih baik ia mengalah dari pada harus menahan gairahnya lagi hari ini." Yaudah udah cukup bahas ini, sekarang ada hal lain yang lebih penting dari ini. " Dion tersenyum menyeringai, dia semakin mengikis jarak dengan Tasya, Meraih pinggang gadis itu agar semakin menempel dengan tubuhnya.


" Tunggu, masa kita mau ngelakuinnya di dapur? " protes Tasya, karena memang posisi mereka saat ini masih di dapur tepatnya di depan kulkas.


" Oke, kita ke kamar sekarang. " Dion mengangkat tubuh Tasya, ia menggendong gadis kecil itu ala bridal style.


Wajah Tasya memanas dan jantungnya berdetak lebih cepat, bagaimana pun ia tidak pernah siap kehilangan mahkotanya, tapi hutang adalah hutang, Dion akan tetap menagihnya, mungkin ini juga salah tapi setidaknya jauh lebih baik dari pada harus menjual tubuhnya ke club malam.


Dion merebahkan tubuh gadis itu perlahan ke atas ranjang " Sekarang udah siapkan?"


Tasya bingung harus menjawab seperti apa, karena ini adalah pengalaman pertama untuknya, jelas rasa takut itu pasti ada.

__ADS_1


" Aku janji gak akan sakit. " rayu Dion sambil mengecup kening Tasya cukup lama, hingga membuat gadis itu tertegun mendapat perlakuan lembut dari Dion.


" Hm? " tanya Dion lagi, yang langsung mendapat anggukkan kepala dari Tasya.


Tanpa menunggu lama Dion melepas handuk yang masih melilit di pinggangnya dan melemparkannya ke lantai.


Tasya terkejut, karena ini adalah pertama kalinya dia melihat tubuh polos lawan jenis secara langsung, melihat Dion bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk saja dia sangat malu, apalagi sekarang harus berhadapan dengan tubuh telanjang Dion.


" Kak, aku malu. " ujar Tasya sambil menutup kedua matanya dengan tangan.


Dion terkekeh. " gak apa-apa buka aja mata kamu, mulai sekarang kamu harus biasakan lihat aku seperti ini. "


Dengan ragu Tasya menurunkan tangannya dan membuka mata secara perlahan. Jujur saja wajah tampan dan tubuh Dion yang bagus itu membuat nya terpesona.


Dion kembali mencium bibir Tasya dengan lembut dan perlahan , ia tidak ingin tergesa-gesa karena ini pertama kalinya untuk gadis itu.


Hisapan dan lumatttann di bibirnya membuat Tasya memegang lengan Dion erat , sesekali mulutnya mengeluarkan dessahan yang tertahan apalagi saat tangan Dion menelusup masuk ke dalam kaos yang Tasya kenakan dan meremas dua gundukan kenyal yang sejak kemarin membuat Dion penasaran, tidak terlalu besar tapi cukup pas di tangan Dion.


Dion mengigit kecil bibir Tasya agar gadis itu membuka mulutnya dan menyusupkan lidah nya di sela-sela bibir. " Balas ciuman ku. " ujar Dion disela-sela ciumannya, gadis itu benar-benar kaku hingga diam saja saat Dion menciumnya. " ikuti seperti yang aku lakukan. " ucapnya lagi.


Lalu perlahan Tasya mengikuti permainan lidah Dion seperti yang pria itu minta, gadis itu membalas belitan di dalam mulutnya, masih kaku tapi cukup bisa mengimbangi ciuman Dion.


Dion menyingkap kaos yang Tasya gunakan sampai terlihat dua buah gundukan sintal yang terpampang nyata di depan matanya. Lantas ia mengangkat tubuh Tasya sedikit, lalu melepaskan kaos gadis itu melewati kepala dan kemudian melepas kain penutup gundukannya.


" K-kak. " Tasya berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah setengah telanjang itu, dia sangat malu karena belum pernah ada laki-laki yang melihat tubuhnya tanpa baju seperti sekarang.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


Mohon dukungannya 🙏

__ADS_1


__ADS_2