
Baru saja Alex hendak menjawab, ponsel Tasya kembali bergetar. Lalu ia meminta ijin pada Alex untuk mengangkatnya sebentar.
" Halo kak. "
" Ko chat aku di read doang, kenapa gak di bales. " ketua Dion. Tasya bisa mendengar ada nada kemarahan di sana.
" Eem, iya itu tadi aku lagi makan sama teman jadi gak enak kalau maen HP terus. " elak Tasya.
" Kamu dimana? " tanya Tasya balik.
" Masih di kantor, Temen kamu yang mana? " tanyanya penuh selidik.
" Siapa? " tanya Alex begitu saja hingga terdengar oleh Dion di seberang sana.
" Oh temen pria?" sahut Dion cepat. " Apa itu Alex?" Dion sangat tau Tasya tak punya teman pria selain Alex dan dia yakin saat ini yang bersama Tasya adalah Alex, orang yang paling ia benci.
Tasya bingung, ia mencoba menjawab pertanyaan Alex dan mendengarkan Dion berbicara.
" Ini teman aku. " jawab Tasya ke arah Alex yang saat ini sedang memperhatikannya.
Suara tawa Dion terdengar jelas dari balik telepon dan itu membuat Tasya semakin bergerak gelisah.
" Temen? temen main di atas ranjang? " sahut Dion penuh penekanan, ia sebal luar biasa mendengar ucapan Tasya barusan.
" Oh kirain orang spesial. " Alex bersuara lagi.
" Iya spesial, sampe bisa bikin merem melek. " balas Dion dari seberang telepon seolah menyahuti omongan Alex.
__ADS_1
Tasya mendelik, jantungnya berdebar semakin kencang, konsentrasinya terpecah belah saat suara Dion terus menerus berceloteh di telinganya. Tasya bergeser menjauh, lalu berbisik pelan dari balik ponselnya. " Kak udah dulu ya. "
" Iya bestie." sahut Dion. Sebelum Tasya benar-benar mematikan sambungan itu, Dion kembali bersuara. " Bilangin sama pria yang ada di hadapan kamu, dapet salam dari temen kamu yang suka ngajak main di atas ranjang! "
Oh God, ingin sekali Tasya berteriak pada Dion saat ini, pria itu benar-benar membuat jantungnya berdebar tak karuan dan membuat Tasya menjadi salah tingkah. Dion adalah orang paling menyebalkan di muka bumi ini menurut Tasya.
" Dasar rese! dah aku tutup. Bye. "
Sementara di seberang sana Dion mendengus kesal. Ia melempar ponselnya ke atas meja kerjanya yang penuh dengan berkas-berkas perusahaan, bahkan terdengar umpatan sebelum akhirnya Dion menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi.
Mata Dion terpejam dengan kedua tangan memijat pelipisnya. Ia merasakan kepalanya berdenyut nyeri karena sejak tadi ia harus menyelesaikan beberapa masalah yang terjadi di bandung.
Tadinya Dion menyempatkan diri menghubungi Tasya berharap lelah di otaknya akan hilang saat menghubungi gadis itu setelah menghadapi beberapa masalah yang cukup membuat otaknya panas ingin meledak, tapi yang ia dapati justru membuat kepalanya semakin sakit.
" ****! " umpatan itu keluar lagi dari mulut Dion. percuma saja ia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya di bandung saat ini agar bisa cepat pulang bertemu Tasya, tapi nyatanya gadis itu seperti merasa bebas dan bahagia berjauhan dengan dirinya. Padahal tadi sebelum berangkat Dion mengatakan untuk langsung pulang ke apartemen setelah selesai bekerja tapi gadis itu malah melanggar perintah nya dan pergi makan malam dengan pria lain.
Dion merasa butuh bernapas dengan baik, ia lantas melonggarkan kerah kemejanya dan membuka simpul dasinya dengan kasar.
Malam itu Dion tutup dengan terus menggerutu sambil mengeluarkan berbagai macam kata umpatan. Bahkan sampai dia kembali ke hotel pun pria itu masih saja sesekali mengoceh dan mengumpat di dalam kamarnya.
" Kamu yakin mau pindah? " tanya Alex saat mereka berada di kosan Tasya. Sepulang dari restoran Tasya memang berniat pulang ke kosannya dulu dan ingin bermalam di sana sekalian untuk membenahi semua barang dan pakaiannya, dia juga berniat bicara dan pamit baik-baik pada Alex dan mamanya. Sementara kalau Dion mengantarnya ke kosan untuk mengambil barang-barangnya sudah pasti ia tak bisa berlama-lama berbincang dengan Alex.
" Iya kak, Paman minta aku untuk tinggal sama sepupu aku aja di apartemennya lagi pula dia tinggal sendiri di sana. " dusta sekali Tasya, ia sampai tak habis pikir kenapa sekarang dia jago sekali berbohong, entah sudah berapa banyak karangan yang ia buat untuk Alex.
Bahkan Tasya berkata akan berhenti bekerja bulan depan, karena itu adalah permintaan Dion. Toh nanti juga Tasya akan kuliah jadi lebih baik ia berhenti bekerja agar fokus dengan kuliahnya nanti.
Tasya mengatakan bahwa ia akan kembali melanjutkan pendidikannya oleh sebab itu ia berhenti bekerja. Dan juga paman nya yang akan membiayai kuliahnya nanti. Agar Alex tak curiga dengan keadaannya yang tiba-tiba banyak perubahan seperti ini.
__ADS_1
Dengan Tasya yang sebentar lagi akan jauh darinya membuat Alex meminta Tasya banyak menghabiskan waktu dengannya.
Seperti sekarang Alex berhasil mengantarkan Tasya sampai depan lobby gedung apartemen saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Setelah mengajak Tasya ke cafe tadi Alex juga mengajaknya berjalan jalan sebentar.
" Besok sepulang kantor nonton mau gak? "
" Iya mau banget. Apalagi ada film yang pengen banget aku tonton. " Awalnya Tasya mengangguk dengan mata berbinar namun tak berapa lama senyumnya menghilang saat mengingat Dion akan pulang dari bandung esok hari. Pria itu sudah pasti tak akan mengijinkannya pergi dengan Alex, pikir Tasya.
" Tapi kayanya gak bisa deh kak, aku lupa besok aku ada janji lain. " lirih Tasya.
" Kalau aku yang main ke apartemen boleh gak? " kali pertama Alex bertanya seperti ini, ia sangat hati - hati khawatir Tasya tak nyaman dengan permintaannya.
" Jangan gak enak sama sepupu aku, itu kan bukan apartemen aku, jadi gak mungkin seenaknya aku bawa temen ke sana. " elak Tasya. Bisa kacau kalau sampai Alex tau ia tinggal dengan Dion, pikir Tasya.
" Aku sebenarnya pengen ngomong sama kamu besok sya, tapi karena kamu gak bisa aku ajak jalan besok, aku ngomong sekarang aja. " Alex menarik napas dalam sebelum kembali bersuara.
" Aku sayang sama kamu , Sya. " ungkap Alex.
Mata Tasya mengerjap bingung menatap Alex, lalu membulat sempurna saat Alex mengecup keningnya tiba-tiba.
Tasya bahkan sampai terhenyak dengan detak jantung yang mulai tak aman sama sekali, kecupan di keningnya menempel cukup lama seolah Alex sedang menyalurkan rasa sayangnya yang begitu dalam pada Tasya, hingga rasanya tubuh Tasya membeku di tempatnya.
Tanpa mereka berdua sadari, ada sepasang mata yang sedang menatap tajam mereka dari balik kaca mobil dengan rahang yang mengeras. Emosinya yang kemarin masih tersisa kini kembali tersulut begitu melihat pemandangan di depan sana.
" Berani juga melanggar peraturan dari gue. Liat aja nanti gue bakal menghukum si gadis kecil itu. " gumam Dion dengan senyum menyeringai.
.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.