
" Sya, ada yang mau aku bicarakan. " ucap Dion saat mereka baru saja tiba di apartemen.
Tasya mengerutkan dahinya melihat wajah serius Dion. " Mau bicara apa, kak? serius banget kayanya. " Tasya dan Dion duduk berdampingan di sofa ruang tamu.
" Kamu tau kenapa aku pengen menikah sama kamu?"
" Tau, kan kemarin kamu udah jelasin ke aku. "
" Tapi ada satu hal yang aku belum bilang, sya. Aku belum bilang alasan utama aku pengen nikah sama kamu, karena aku udah jatuh cinta sama kamu, jadi kalau kamu berpikir aku hanya ingin tubuh kamu, kamu salah! Apa kamu enggak ngerasa dengan sikap aku serta keposesifan aku selama ini, itu artinya aku cinta sama kamu. Aku pengen milikin kamu selamanya, sya. "
" Hah? " Tasya mengerjapkan matanya mendengar perkataan Dion. Ia cukup terkejut tiba-tiba Dion mengutarakan perasaan nya padahal mereka baru saja tiba dari Bali.
" Mungkin tanpa aku sadari, aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak kita bertemu di club malam itu, tapi mungkin aku kurang peka dengan perasaanku sendiri sehingga kamu terjebak dengan cara seperti ini bersama ku. Maaf karena rasa taruma ku, aku memilih jalan itu. Harusnya aku menikahi kamu sejak awal bukan menjadikanmu partner ranjang ku, sya."
Dion mendadak turun dari sofa dan berlutut di hadapan Tasya seraya mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. " Nikahi aku, please! " ucapnya dengan tatapan mengiba.
Tasya tertawa mendengar perkataan Dion, sudah dibuat terharu atas ucapan romantisnya beberapa saat lalu, tapi bukannya mengatakan will you marry me, pria di hadapannya malah berkata begitu.
Sontak Dion bangkit dari berlutut nya dan duduk kembali di sofa dengan tubuh menghadap Tasya.
" Kenapa malah ketawa? " wajah nya mendadak memerah lantaran malu saat Tasya menertawakannya. Dion jadi berpikir, apakah kata-kata yang ia susun saat di pesawat terlalu alay?
" Ya lucu aja, awal nya udah romantis tapi kata-kata terakhirnya itu loh, masa "nikahin aku, please! Di mana-mana will you marry me, kak. Itu mah kesannya maksa minta aku nikahin. " setelah berkata begitu Tasya bangkit dari duduknya baru akan melangkah tangannya langsung di cekal Dion.
" Mau kemana? " tanya Dion yang heran karena Tasya malah beranjak dari sofa tanpa mengatakan apapun." Bukannya di jawab dulu, malah mau ninggalin aku gitu aja. "
" Mau ke toilet dulu kak bentar nanti aku jawab, mules ini perut aku. " keluh Tasya yang memang sejak tadi sudah menahannya karena Dion ingin bicara serius padanya.
" Ngerusak suasana aja, bukannya dari tadi sih sya, sebelum aku ngomong gitu. " gerutu Dion.
" Tadi mulesnya belum sehebat sekarang, masih bisa di tahan kak, lagi juga kan kamu bilang mau ngomong serius jadinya aku tahan aja dulu. Udah ah aku udah gak tahan ini. " Tasya menyentak tangan Dion yang masih memegangnya, membuat Dion langsung menghela napas kasar.
Dion mengikuti Tasya ke kamar mandi, ia berdiri di depan pintu yang di kunci olah Tasya.
tok. tok. tok.
" Udah belum, sya. "
__ADS_1
" Baru juga masuk kak, ya belum lah. " teriak Tasya.
dua menit kemudian..
" Masih belum juga. "
" Belum, sabar kenapa nanti juga kalo udah aku keluar, gak usah di tungguin. bikin aku gak fokus tau gak. " teriak Tasya dengan kesal.
" Ya jawab dulu, aku kan penasaran kalo kaya gini." sahut Dion, ia bertekad menunggu Tasya di depan pintu kamar mandi sampai Tasya memberikan jawabannya.
Tasya mendengus kesal, benar-benar pria pemaksa dan keras kepala. " Yaudah, iya aku Terima lamaran kamu. udah puas kan? sekarang biarin aku menikmati panggilan alam ini dengan tenang. "
" Yes. " Dion berjingkrak bahagia mendengar jawaban yang ia inginkan. " Yaudah aku pesan makanan dulu ya, makasih sayang. I Love you. " teriak Dion.
" I Love you too. " Tasya menggeleng dengan tingkah Dion. " Dari tadi kek perginya, gak tau apa jadi susah keluar gara-gara di gangguin mulu. " meskipun ia kesal dengan tingkah Dion tapi tak dipungkiri ia merasa bahagia dengan ungkapan cinta Dion, terlebih sekarang status mereka akan jelas, tak lagi mejadi partner ranjang Dion melainkan menjadi istri dari pria yang juga ia cintai.
...----------------...
" Bahagia amat loe? " ujar Dean saat Dion baru saja masuk ke ruangannya.
" Gak gitu juga, loe senyum mulu dari tadi sampai tong sampah loe senyumin, dikira sinting nanti loe. Bikin malu aja! gak mau ya gue di kira punya asisten sinting. " oceh Dean, bukannya ia tak senang sang sahabat bahagia tapi melihat tingkah Dion bukan seperti orang yang bahagia melainkan lebih mirip orang gila, membuat Dean bergidik ngeri melihatnya.
" Namanya juga lagi bahagia, ya wajar gue senyum gini, giliran gue bersikap dingin gak pernah senyum kata loe kaku banget, gak enak dilihatnya udah kaya bodyguard, giliran gue senyum ramah kata loe kaya orang gila.Heran gue serba salah banget." gerutu Dion.
" Bukan gitu maksud gue Ciripa! senyum itu harus apalagi kalo berhadapan sama klien, kan gak enak kalo loe kaku gitu, tapi jangan berlebihan senyumnya kalo loe gak berhenti senyum loe lebih mirip orang gila tau gak. "
" Terserah loe! " Dion beranjak dari duduknya.
Belum juga melangkah Dean sudah bertanya padanya. " Mau kemana loe? "
" Kerja lah, biar bisa cepet pulang ketemu ayang. "
" Najis lebay. Udah sana loe, eneg gue lama-lama ngelihat orang bucin. "
Dion mengedikan bahunya dan melangkah keluar ruangan Dean, tapi alangkah terkejutnya ia saat membuka pintu ada seorang pria menatapnya tajam hingga membuat Dion susah payah menelan salivanya.
" Kal-kalan, loe kesini? " tanya Dion terbata
__ADS_1
" Udah sana kerja kenapa malah di depan pintu. " Dean yang tak sadar dengan kedatangan Kalan seenaknya saja berteriak. " Buruan, biar bisa pulang cepet nanti ayang kesepian di apar..... "
Dean tak lagi melanjutkan ucapannya karena Kalan tiba-tiba masuk melewati Dion begitu saja.
" Ayang siapa? " tanyanya yang langsung duduk di sofa yang berada di ruangan Dean.
" Eemm gue kerja dulu ya, banyak kerjaan mau meeting. " Dion ingin bergegas keluar tapi belum sempat melangkah tiba-tiba Kalan menahannya.
" Masuk lagi, Di. Gue mau bicara. " ujar Kalan.
Dengan langkah gontai Dion kembali mendudukan bokongnya di sofa, begitu pula dengan Dean yang beranjak dari kursi kebesarannya dan ikut bergabung di sofa dengan Dion dan Kalan.
" Loe ngapain di sini, Kal? " tanya sang adik penasaran karena setau Dean Kalan sedang sangat sibuk akhir-akhir ini bahkan sampai tak bisa hadir ke pernikahan Doni dan Angel.
" Kalian belum jawab pertanyaan gue, Ayang siapa? " Kalan balik bertanya karena penasaran, sudah lama tak bertemu ia merasa melewatkan banyak hal.
" Pacar Dion. " celetuk Dean santai, namun membuat Dion langsung menatapnya tajam.
Kalan menautkan alisnya " Loe punya pacar, siapa? " sepertinya memang banyak hal yang ia tak ketahui dari sahabat yang sudah ia anggap seperti adik seperti Dean, karena terlalu sibuk bekerja Kalan merasa seolah kehilangan banyak momen bersama teman-temannya, oleh sebab itu ia datang karena merindukan mereka.
" Tasya, yang waktu itu ketemu di club malam waktu itu, ada loe sama Doni juga kok. " sahut Dean.
" Bisa diem dulu gak mulut loe, De. Gue lagi nanya sama Dion bukan sama loe. " ucap Kalan ketus.
" Ya kan gue cuma mewakili, barang kali Dion susah mau cerita sama loe. " ucapnya tanpa beban.
Menarik napas dalam Dion mencoba menceritakan singkatnya dan baiknya saja pada Kalan, karena kalau sampai Kalan tau yang sebenarnya bisa-bisa dia akan mengadu pada orang tuanya, pikir Dion.
Dion adalah anak tunggal sehingga orang tuanya menitipkan Dion pada Kalan yang lebih dewasa dan waras dibanding mereka berdua. Oleh sebab itu apapun yang terjadi pada Dion, Kalan pasti akan menceritakanya pada orang tua Dion.
" Bagus lah kalau loe akan nikah, gue dukung. " ucap Kalan sambil tersenyum bahagia melihat sahabatnya yang sudah menemukan pawangnya, andai saja Kalan tau yang sebenarnya mungkin bukan senyum yang ia berikan pada Dion tapi bogem mentah.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
__ADS_1