
" Selamat ya, akhirnya kamu mau nikah juga! kirain kamu lebih suka kebebasan. " cibir Vania yang tau bagaimana Dean dulu.
" Itu dulu, Van sebelum aku menemukan orang yang tepat, kebebasan memang menyenangkan tapi itu kesenangan sesaat, karena kebahagiaan sejati untuk aku adalah bisa memiliki keluarga kecil seperti ini. " ucap Dean sambil menggenggam tangan sang istri kemudian tersenyum manis menatap Alenka, perkataan nya cukup menohok untuk Vania, ia tak menyangka casanova seperti Dean bisa berubah seperti itu.
" Yaudah semoga pernikahan kamu langgeng terus, aku ke dalam dulu ya. " Vania berucap sambil mengelus pundak Dean sebelum ia beranjak masuk kedalam minimarket.
Setelah wanita itu pergi, Alenka beranjak dari duduknya menuju mobil, ia masih diam tak mengeluarkan sepatah kata pun hanya memberi tatapan tajam yang siap membunuh Dean saat itu juga.
" Aku gak mau tidur sama kamu, kamu tidur aja di kamar tamu" Kalimat keramat yang paling menyeramkan untuk Dean akhirnya terlontar juga dari mulut sang istri.
" Tapi apartemen kita kan cuma ada satu kamar sayang, kita gak punya kamar tamu. " ucap Dean sambil mencoba menahan tawanya, gemas sekali dengan sang istri, saking di liputi amarah istrinya itu sampai lupa kalau mereka hanya punya satu kamar.
" Yaudah kamu tidur di luar aja kalo gitu, di sofa depan TV." Alenka membuang pandangan nya keluar jendela mobil, sungguh sangat malu rasanya, bisa-bisanya ia lupa kalau cuma memiliki satu kamar.
Semenjak menikah baru kali ini Alenka meminta pisah kamar darinya, karena mau bertengkar seperti apapun Alenka tak akan pernah tidur jauh darinya, bahkan dalam keadaan kesal saja istrinya masih tidur dalam pelukan Dean tak ingin lepas sama sekali, tapi kalau sudah urusan wanita memang Alenka cemburu luar biasa mengingat perjalanan asmara sang suami yang suka bermain wanita dan setiap mengingat hal itu membuat Alenka semakin kesal luar biasa.
Alenka membanting pintu mobil dengan kencang saat Dean baru saja memarkirkan mobilnya. Raut wajah Alenka seperi seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
" Sayang. " panggil Dean seraya menyusul Alenka yang sudah lebih dulu masuk ke dalam apartemennya.
Dean terlihat sangat frustasi, ia tau mood istrinya selalu naik turun semenjak hamil. Kalau dulu ia menghadapi mood swing Alenka saat wanita itu datang bulan, kini berbeda bahkan mood Alenka sering menguji kesabaran Dean setiap hari.
Salah siapa kalau sudah seperti ini, Dean bahkan tak tau kalau akan bertemu dengan mantannya di minimarket tadi, dia juga bukan cenayang yang bisa memprediksi siapa yang akan dia temui nanti.
Dean menoleh saat pintu kamar terbuka ia sedikit bisa bernapas lega karena sang istri mau membukakan pintu kamar untuknya, tapi kelegaan itu tak berlangsung lama karena Alenka keluar dengan membawa bantal dan selimut.
" Nih, aku gak mau tidur sama kamu! " ucapnya sambil melempar bantal dan selimut ke arah Dean.
" Jangan gini sayang, ini juga kan bukan salah aku. Mana aku tau bakal ketemu dia di sana. " bujuk Dean.
__ADS_1
" Bukan salah kamu gimana, ya jelas salah kamu lah, siapa suruh punya mantan banyak, setiap kemanapun pasti akan ketemu salah satunya. " kata Alenka dengan kesal.
Padahal Suaminya tak melakukan apapun dengan wanita tadi, tapi mengingat wanita itu juga mantan partner ranjangnya membuat Alenka murka mengingat suaminya sudah tidur dengan banyak wanita.
" Jangan marah sayang, aku minta maaf karena masa lalu aku yang buruk, tapi sumpah dari dulu sampai sekarang cuma kamu yang ada di hati aku." Dean mencoba merayu Alenka tapi sepertinya rasa kesal Alenka malam ini sudah tak bisa teratasi.
" Dari sekian banyaknya minimarket, kenapa dia harus berada di sana ? minimarket dekat apartemen kita, itu artinya dia sengaja pengen ketemu sama kamu. Kangen kali sama kamu " ketus Alenka.
" Ya aku gak tau sayang kenapa dia ada di sana. " ingin jawab mungkin kebetulan, tapi ia takut istrinya akan semakin murka dan mengira ia membela wanita itu.
" Alasan aja! aku mau sendiri dulu. " Alenka menutup pintu kamar dengan sangat keras, seperti nya istrinya itu memakai tenaga dalam, pikir Dean.
Dean hanya bisa menghembuskan napas kasar, terpaksa malam ini harus tidur di sofa, membiarkan istrinya lebih tenang dulu dan besok ia akan coba merayu sang istri kembali.
Pagi-pagi sekali Dean sudah bangun dari tidurnya, mana bisa ia tidur nyenyak tanpa memeluk sang istri begitu pun Alenka tapi karena gengsi ia memilih tidur sendiri memeluk guling sebagai pengganti Dean, walaupun tak nyaman ia berusaha memejamkan matanya semalam, meski sangat sulit untuknya.
Pria itu bergegas ke dapur membuat kan sarapan dan susu untuk sang istri yang sedang merajuk.
tok. tok. tok
" Sayang, udah bangun belum? " Dean berdiri di depan pintu kamar Alenka sambil mengetuk kamarnya karena Alenka menguncinya sejak semalam.
" Yank, aku udah buatin roti bakar kesukaan kamu nih sama susu . " teriak Dean lagi dengan nampan yang masih ia pegang.
Alenka yang mendengar samar-samar suara sang suami tersenyum senang, matanya berbinar karena sang suami masih perhatian padanya meskipun ia sedang marah.
" Sayang... "
Pintu kamar terbuka dari dalam, Alenka membuka pintu itu lebar-lebar , seakan mempersilahkan Dean untuk masuk kedalam.
__ADS_1
" Udah boleh masuk? " tanya Dean hati-hati.
" Ya kamu mau masuk gak? atau aku tutup lagi nih."
Mendengar ancaman sang istri membuat Dean buru-buru melangkah masuk sebelum Alenka kembali menguncinya di luar.
Setelah pintu tertutup kembali Alenka duduk di sofa dalam kamar, Dean pun duduk di sampingnya sambil memberikan susu dan roti yang tadi ia buatkan.
Alenka memakan sarapannya dengan lahap, mungkin efek emosi yang sudah menguras banyak tenaga dan pikirannya membuat perut nya terasa sangat kelaparan dan susu adalah asupan terbaik untuk memulihkan kembali tenaganya, menurut Alenka.
Tangan Dean menyentuh pinggul dan perut Alenka, mengelus dengan lembut dan perlahan perut sang istri yang masih kelihatan rata itu.
" Maafin aku ya sayang , maaf udah buat kamu marah. " ucapnya lembut sambil terus mengelus perut sang istri. Meski sebenarnya itu murni bukan salahnya juga, tapi lebih baik ia mengalah karena tak ingin bertengkar terlalu lama dengan sang istri tercintanya.
" Aku udah keterlaluan ya, kak? udah marah-marah gak jelas padahal kamu gak ngapa-ngapain. " lirih Alenka. Ada rasa bersalah di dalam hati kecilnya, terlebih itu hanya masa lalu sang suami, tapi kini Dean tak pernah macam-macam semenjak menjadi suaminya dan begitu mencintainya tapi entah kenapa ia merasa begitu sangat marah semalam.
" Gak sayang, itu wajar kok. Katanya kalau hormon ibu hamil emang gitu, lebih sensitif perasaannya. Maaf ya karena masa lalu aku yang buruk kamu jadi kaya gini. " ucap Dean merasa bersalah.
" Maafin aku juga ya kak, kalau sering marah sama kamu, bikin kamu kesulitan ngadepin aku. "
" Gak sayang, kamu gak perlu minta maaf. Aku gak kesulitan kok, aku paham mood kamu sering berubah-ubah karena pengaruh kehamilan, itu juga kan anak aku, aku yang udah bikin kamu hamil, masa gitu aja aku ngeluh. " jelas Dean.
" Makasih ya kak, kamu udah ngertiin aku. " Alenka langsung menghambur memeluk erat Dean , ia rindu semalam tak tidur dengan sang suami dan Dean senang hati menyambut pelukan dari istri tercintanya.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
__ADS_1