Semalam Dengan Mantan Ku

Semalam Dengan Mantan Ku
Pelampiasan Alenka


__ADS_3

" Gak sabar deh, pengen cepet-cepet ketemu sama anak kita. " ucap Dean seraya mengelus perut Alenka yang sudah sangat besar.


" Kata dokter dua minggu lagi kak, oh iya kita mau di panggil apa nanti sama anak kita ?" tanya Alenka yang kini sedang bersandar pada bahu sang suami.


Dean berpikir sejenak, ia dan Alenka terlalu sibuk mencari nama untuk bayi nya yang akan lahir sampai melupakan panggilan mereka sendiri untuk sang anak. " Eeemmm gimana kalo Mamoy? " tanya sang suami. Yang langsung membuat Alenka mengerutkan dahinya.


Alenka merubah posisinya hingga duduk tegak di sebelah sang suami. " Mamoy? panggilan apa itu? kok aneh panggilannya? " Ini pertama kali Alenka mendengar panggilan itu, yang dirinya tau hanya panggilan ibu, umi, bunda, mama dan mommy. Sementara mamoy masih terasa asing di telinganya.


" Mama gemoy, sayang. " jawab Dean sambil terkekeh.


Alenka sontak menepuk pelan dada sang suami


" Issshh, kamu ada-ada aja. Yang normal aja kak terlalu asing untuk aku panggilan itu. "


" Kita harus cari yang beda sayang, biar gak pasaran kaya yang lain. Gimana kalo.... "


" Ibu aja? aku suka panggilan itu terdengar lebih sederhana. " sahut Alenka memotong ucapan Dean.


Dean menggelengkan kepalanya, jelas ia protes karena kalau Alenka di panggil ibu, dirinya pasti akan di panggil bapak dan itu jelas bukan panggilan yang ingin Dean dengar, bukan karena panggilan itu buruk, hanya saja Dean merasa terlalu tua di panggil bapak seperti itu.


" Gak mau sayang, yang lain aja ya. Didi sama mimi aja gimana? Aku rasa itu gak terlalu aneh. Mau ya. " ucap Dean dengan tatapan memohon.


Alenka menghembuskan napas pelan, ia hanya ingin dipanggil ibu atau bunda tapi sepertinya Dean menginginkan panggilan yang unik untuk mereka, malas berdebat karena ia tau akan percuma, memilih nama anak mereka saja membutuhkan waktu berbulan-bulan karena Dean menginginkan nama yang unik untuk sang anak, jadi lebih baik Alenka mengalah saja pada sang suami terlebih dirinya sudah mengantuk ingin segera tidur.


" Oke Didi dan Mimi aja. " Dean tersenyum senang dan langsung menghujani ciuman di seluruh wajah sang istri. " Udah kak, geli. Tidur yuuk aku ngantuk."


" Oke. " Dean langsung membopong tubuh Alenka yang cukup berat menuju kamar mereka.


.

__ADS_1


...----------------...


" Jadi kapan loe nikah, Di? " tanya Kalan yang kini sedang membantu Dean mengurus perusahaan, karena sejak sebulan yang lalu Dean mulai cuti, karena beralasan tak tenang meninggalkan Alenka di rumah sendirian, oleh sebab itu untuk sementara perusahan Kalan ambil alih karena Dean tak ingin di repotkan masalah pekerjaan sekalipun ia bisa bekerja dari rumah, ia ingin menjadi suami siaga untuk Alenka.


" Gimana mau nikah, mana sempet gue ngurusin pernikahan sementara Dean ngerepotin gue kaya gini. " gerutu Dion, ia bahkan sering keluar kota meninggalkan Tasya sendirian, karena Kalan tak mungkin mengambil alih tugas itu, dirinya pun harus pintar membagi waktu antara perusahaan dan juga cafe miliknya.


" Sorry ya, gue sama Dean udah ngerepotin Loe. Loe tau kan gue juga harus ngecek resto dan cafe juga. " ujar Kalan tak enak hati.


Mama sherlin sebenarnya menawarkan untuk tinggal bersama dengannya agar Dean bisa tenang meninggalkan Alenka untuk bekerja tapi Dean keras kepala ia mengatakan bahwa ingin menjadi suami siaga yang selalu ada untuk istrinya, ia tak ingin jauh dari sang istri apalagi sampai melewatkan kelahiran sang anak karena sibuk bekerja.


" Gak masalah Kal, gue tau loe punya tanggung jawab sama cafe loe, asal bonusnya gede aja lumayan buat modal nikah. " kekeh Dion.


Kalan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengar perkataan Dion.


...----------------...


" Kalau ada yang gak nyaman atau kamu lelah bilang aku ya, kita langsung pulang. " ujar Dean yang benar-benar mengkhawatirkan istrinya.


" Iya sayang, aku pasti bilang kalau ada yang gak enak. " Alenka tersenyum untuk menenangkan suaminya, karena memang sebulan ini ia merasa bosan sebab Dean sama sekali tak memperbolehkannya keluar dari rumah. Hadir di pesta seperti ini seolah mengobati rasa rindunya bertemu dengan banyak temannya saat bekerja di kantor Dean.


" Aku ngasih sambutan dulu ya. " ucap Dean seraya mengelus kepala sang istri. " titip istri gue." titahnya pada Dion dan Doni yang duduk satu meja bersama dengan Alenka.


" Iya bawel udah sana. " usir Dion yang sedari tadi bosan sekali mendengar perintah Dean ini dan itu untuk menjaga Alenka seolah-olah ia ingin pergi berperang padahal hanya naik ke atas panggung untuk memberikan sambutan saja, tapi permintaannya banyak sekali.


" Ada kita berempat tenang aja. " timpal Doni.


Dean berjalan menuju sebuah panggung kecil untuk mengucapkan beberapa kata sambutan, tapi


baru saja naik ke panggung tiba-tiba Alenka merintih.

__ADS_1


" Aaahhh... " Alenka meringis memegangi perutnya.


" Kenapa , Len? " tanya Dion dengan wajah panik.


" Ada yang sakit? " tanya Doni juga dengan wajah tegang.


" Kamu gimana sih beb, Alenka meringis ya udah pasti sakit, pake di tanya lagi. " omel Angel yang duduk di sebelah sang suami.


"Aaahhhh, sakit kak. Perut aku sakit banget kaya nya aku mau lahiran deh. " sahut Alenka yang mendadak berkeringat serta wajahnya menjadi pucat, ia meringis memegangi perutnya yang semakin sakit.


" Apa? " teriak Dion, Doni dan pasangan mereka secara serentak. Mereka mematung seketika, panik dan bingung harus apa, seolah waktu berhenti saat itu juga sampai akhirnya... "


"Akhhhh, Alenka. Rambut gue. " teriak Doni yang tiba-tiba rambutnya di jambak oleh Alenka bahkan sampai tubuhnya bergeser ke kursi kosong sebelah Alenka yang sebenarnya adalah tempat duduk Dean.


" Sakit kak.. " rintih Alenka tapi tetap tak melepas tangannya dari rambut Doni.


" Beb, tolong aku ini sakit banget. Akhhh, gila ya Len, tenaga loe. Astaga! " teriak Doni lagi. Sudut matanya bahkan sampai keluar air mata, pedih sekali seolah kulit kepalanya terkelupas.


Angel panik melihat Alenka dan juga ia merasa kasihan melihat sang suami. " Bentar beb, sabar aku panggil Dean dulu. " Angel bangkit dari duduknya untuk menghampiri Dean yang masih memberi sambutan di atas panggung.


" Kak Alenka tarik napas, buang. Tarik napas lagi..buang." Tasya yang duduk di sebelah kiri Dion mencoba menenangkan Alenka, sementara Dion duduk persis di sebelah Alenka.


Sedari tadi ia menahan tawanya melihat Doni menjadi pelampiasan Alenka, meskipun ikut panik tapi ia masih bisa senyum melihat penderitaan temannya, tapi sayang kesenangan Dion tak bertahan lama karena tiba-tiba Alenka memegang tangan Dion dan mencengkramnya dengan sangat kuat seperti tengah memakai tenaga dalamnya, mungkin kalau hanya mencengkram Dion masih bisa menahan sakitnya tapi masalahnya Alenka secara refleks mengambil tangan Dion dan menggigitnya dengan giginya yang tajam.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.

__ADS_1


__ADS_2