SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 10 MIMPI BERTEMU BAPAK


__ADS_3

Pagi hari.


Adzan subuh berkumandang. Tak biasanya Emak melihat Jovan masih meringkuk tidur. Biasanya anak ini sudah bangun dari tadi.


"Nak, bangun", mengguncang lengan Jovan. Emak sudah lumayan bisa berjalan normal. Hari ini adalah jadwalnya kontrol dan melepas perbannya.


Jovan belum juga terbangun. Ada apa dengan anak ini? Emak sampai berulang-ulang menghampirinya. Karena belum terbangun juga Emak memegang dahinya dan ternyata ia terkena demam.


Ya ampun ternyata dia demam. Emak segera mengambil kompres berisi air dingin dan juga kain lap bersih seadanya. Mencelupkan kain ke dalam air di wadah kemudian memeras dan menempelkan di dahinya.


Beliau menggantinya kalau kain sudah tak terasa dingin lagi. Dan melakukannya berulang-ulang. Dengan setia Emak merawat Jovan. Sampai matahari terbit berjaga di samping anaknya.


Ingin membuatkan bubur untuk anaknya namun ia teringat berasnya tinggal sedikit. Ya sudah aku buat bubur saja dulu dengan beras yang masih tersisa. Ucapnya lalu pergi membuat bubur.


Membuat api dari kayu tidaklah mudah. Butuh kesabaran ekstra. Tanpa bantuan daun-daun kering atau kertas bekas akan lama jadinya. Namun dengan telaten emak meniup-niup api hingga menyala sempurna.


Akhirnya nyala juga. Ucap wanita itu.


Hampir empat puluh menit bubur pun siap. Mungkin kalau memakai kompor tidak akan memakan waktu selama ini. Tapi apalah daya kalau harus memakai tungku.


"Nak, bangun makanlah. Biar Emak menyuapimu", ucap emak sembari membangunkan.


Jovan kali ini mulai membuka matanya. Mencoba bangun namun kepalanya terasa berat. "Mak, Jovan mimpi bertemu Bapak", ucapnya.


"Jovan mimpi Bapak bilang akan kasih hadiah kalau Jovan pintar".


Emak tak kuasa menahan tangis. Apalagi kalau menyangkut suaminya yang telah tiada. Sungguh ia merasa iba dengan anaknya. Yang tak merasakan kasih sayang seorang ayah.


"Mungkin itu hanya karena kamu demam Nak. Jadi kebawa mimpi bertemu Bapak. Sudah ayo cepat makan keburu dingin buburnya".


Emak mengusap bekas air matanya. Dan mulai menyuapi anaknya. Jovan menerima suapan demi suapan dari Emak hingga habis tak tersisa.


Satu jam berlalu.

__ADS_1


Emak sudah rapi memakai pakaian terbaiknya. "Emak mau kemana?", tanya Jovan yang berbaring diatas tikar.


"Emak mau ke tempat kerja Emak yang dulu Nak. Mengucapkan terimakasih sekaligus pamit. Setelah itu Emak ke rumah sakit".


"Maafkan Jovan tidak bisa mengantar Emak. Apa Emak ada uang untuk ke rumah sakit kontrol?", tanya Jovan khawatir. Karena biaya ke rumah sakit tidaklah murah.


"Kamu tenang saja Nak. Emak masih punya simpanan untuk naik angkot. Sedangkan biaya rumah sakit Emak hanya tinggal datang saja. Semua sudah ditanggung bos Emak".


"Alhamdulillah Mak. Hati-hati Mak!", ucap Jovan.


"Kamu juga makanlah lagi nanti. Tidak usah menunggu Emak pulang".


Panas yang mulai terasa tak menyurutkan niatnya pergi ke tempat kerjanya. Bosnya sudah banyak membantunya. Ia harus berterimakasih. Meski berterimakasih saja tidak akan setara untuk membalas budi baiknya.


Tapi setidaknya Emak adalah orang baik. Orang yang tahu terimakasih karena sudah di tolong. "Eh Mak Silah, bukankah hari ini jadwal kontrol, kenapa malah pergi kesini?", tanya pak mandor.


"Iya Pak. Saya mau ketemu Pak Bos. Apa beliau kesini?".


"Biasanya sih sebentar lagi sampai. Emak mau menunggu?", tanya pak mandor.


"Silahkan. Cari tempat yang teduh Mak", ucap pak mandor.


Tak lama mobil mewah melintas di kawasan bangunan itu. Datang bersama wanita cantik dengan pakaian seksi. Mereka turun dari mobilnya.


"Pak ada yang ingin bertemu dengan Bapak", ucap Pak mandor setelah menyambut kedatangan bosnya.


"Siapa? Suruh ke sini", karena tidak ada ruangan yang sudah jadi, ia menunggu Mak Silah menghadap di depannya.


Mak Silah segera datang menghampiri. Menjabat tangan Pak Bos. "Saya Silah Pak", ucapnya.


"O, pekerja wanita satu-satunya kan? Ada apa? Bagaimana dengan kakinya?", tanyanya penuh perhatian. Sedangkan wanita disampingnya bermuka masam seperti tidak suka pria di sebelahnya perhatian dengan pekerja buruh seperti Mak Silah.


"Iya Pak. Saya kesini untuk mengucapkan banyak terimakasih. Selama ini Bapak telah mengijinkan saya bekerja disini. Dan Bapak sudah banyak membantu saya".

__ADS_1


"Tidak perlu sungkan Bu. Saya ikhlas membantu Ibu".


Setelah berbincang cukup lama. Dan berulang kali Mak Silah mendengar deheman dari wanita yang sedari tadi berdiri di samping bosnya. Mak Silah segera sadar diri dan pamit pergi.


Tak lupa Mak Silah juga menyapa teman-temannya sesama pekerja. Sebagai salam perpisahan. Dan memberitahu pada mereka bahwa Mak Silah tidak bekerja di tempat itu lagi.


Selanjutnya Mak Silah menuju rumah sakit yang kemarin ia sempat dilarikan. Untuk kontrol dan membuka perban kakinya.


Di tempat berbeda. Jessy terlihat sedih karena hari ini adalah sidang pertama kedua orang tuanya. Akhirnya kedua orang tuanya memilih jalan perceraian ketimbang berdamai.


Ia terus menunduk dengan di dampingi bibinya. Seharusnya bibinya sudah pergi dari rumahnya. Tapi karena ia terus memohon meminta waktu dua hari lagi akhirnya bibinya merasa iba dan menuruti permintaannya.


Sepulang sidang. Jessy terus menunduk di dalam mobil. Kali ini ia harus semobil dengan papanya dan wanita yang menjadi selingkuhannya. Sungguh ironis. Papanya secara terang-terangan membawa wanita itu ke tempat persidangan.


"Sayang kenapa kamu daritadi diam?", tanya papanya melihat wajah Jessy dari balik kaca spion.


"Kenapa Papa dan Mama harus pisah? Kenapa tidak bisa memahami perasaan Jessy?", tanyanya dengan berani.


"Sayang, dengarkan Papa. Diantara mama dan Papa sudah tidak ada lagi kecocokan. Dan kami akan terus bertengkar. Untuk itu lebih baik kami berpisah", ucap papanya memberi penjelasan.


"Tapi Jessy tidak ingin hal itu. Huu huu huu", menangis tersedu.


Wanita yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Jessy jangan nangis ya. Lebih baik kita cari es krim atau ke tempat yang ada maianannya. Jessy bisa main sepuasnya sama tante disana", ucapnya berusaha menghibur.


"Nggak mau!!! Jessy nggak mau. Jessy maunya pulang", jawab Jessy menolak ajakan tante itu.


Wanita itu merasa kesal. Namun ia tak akan menunjukkan di depan papa Jessy. "Jangan di ambil hati sayang, maklum dia masih kecil", papa Jessy paham dengan wanitanya.


Mobil terus melaju. Hingga berhenti di kawasan rumah elit. Ini adalah rumah kedua papa Jessy. Disinilah ia banyak menghabiskan waktu bersama selingkuhannya ini.


Jessy turun dari mobil dan langsung menuju kamarnya. Kemudian menutup pintu kamar rapat-rapat. Tak ingin seorang pun masuk ke dalamnya.


"Jessy sayang, buka pintunya papa mau bicara", papanya mengetuk pintu kamar Jessy.

__ADS_1


Namun tak ada jawaban dari dalam. Takut kalau anaknya melakukan hal yang tak diinginkan, papanya meminta kunci cadangan pada penjaga rumah.


__ADS_2