SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 8 SEMUA ORANG PUNYA MIMPI


__ADS_3

"Iya Mak. Jovan janji!", jawab Jovan dengan yakin.


Mobil yang membawa mereka tiba-tiba terhenti karena telah sampai. Namun Mak Silah harus berjalan ke rumah dengan memakai tongkat dari rumah sakit.


Ada beberapa tetangga yang hanya memperhatikan. Ada yang bertanya namun ada juga yang acuh dengan kejadian yang menimpa Mak Silah. Menjadi orang yang tak di anggap memang tidaklah mudah. Tapi juga tidak perlu di ambil pusing.


"Tadi Jovan sudah masak Mak. Lebih baik Emak makan setelah itu minum obat!", pinta Jovan sambil mengambilkan nasi dan sayur asam buatannya.


"Kamu tadi nunggu Emak ya?", tanya Emak sambil menerima piring berisi makan.


"Iya. Tapi Emak nggak pulang-pulan jadi Jovan nyusul Emak saja".


Mereka makan dengan lahap. Beralaskan piring plastik dan duduk di atas dipan seperti biasanya. Menu sayur asam sore ini berhasil membuat mereka nambah makan.


Menu sederhana yang bagi mereka sangat menggugah selera. Lauk yang di buat dari tulusnya cinta dan kasih sayang dari seorang anak kepada ibunya. Sungguh tidak ada tandingannya.


Selesai makan. Adzan isya berkumandang. Mereka mengambil air wudlu untuk sholat berjamaah seperti biasa. Kali ini Mak Silah hanya bisa duduk karena kesusahan berdiri. Tak menyurutkan niatnya untuk terus beribadah.


Malam datang menyapa dengan indahnya. Angin semribit mulai menembus dinding bambu rumah mereka. Menciptakan hawa dingin di dalamnya.


Suara katak bersahutan dari sungai pinggir sana. Karena hujan siang tadi menyisakan genangan-genangan air untuk mereka berlomba. Bernyanyi dengan suara merdunya.


Di atas tikar panjang. Jovan tengah bersiap untuk tidur. Tak lupa mengucap syukurnya untuk kenikmatan hari ini. Serta meminta kelancaran di setiap jalan hidupnya. Doa yang selalu ia panjatkan setiap harinya.


Jika dikasih pilihan...


Aku tidak ingin menjadi orang susah. Menjadi orang yang serba kekurangan. Dan sudah tidak memiliki ayah.


Namun aku tak pernah menyalahkan takdir yang telah diberikan Tuhan untukku. Karena aku percaya Tuhan punya rencana lain di balik perjalanan hidupku yang seperti ini.


Semua orang punya mimpi. Dan aku berhak juga bermimpi. Bermimpi untuk jadi orang yang berguna di kemudian hari. Menjadi anak yang selalu berbakti hingga nanti. Mak, Jovan pasti bisa bahagiain Emak!!!


"Jo, cepat tidur. Besok harus bangun pagi belajar!", ucap Emak. Membuat Jovan mengakhiri doanya dalam hati.

__ADS_1


"Iya Mak. Emak juga istirahat ya. Biar cepat sembuh kakinya", balas Jovan sambil merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan mata.


Pagi datang. Meski masih petang. Matahari belum bersinar. Tepatnya baru jam setengah lima subuh. Inilah kebiasaan Jovan dan emak setiap harinya.


Meski masih merasakan nyeri di kakinya. Mak Silah tidak melupakan kewajibannya. Ia setengah jam bangun lebih awal dari Jovan. Merasa kasihan dengan anak semata wayangnya kalau harus menggantikan pekerjaannya di pagi buta.


Langkahnya ia perlambat. Agar anaknya tak mendengar kalau dirinya sudah bangun lebih dulu. Tapi tetap saja Jovan tahu kalau emaknya tidak bisa dilarang.


"Mak, biar Jovan saja yang menanak nasi", pintanya mendekat kepada Emak.


"Tidak. Kamu belajarlah!!".


"Tapi Emak masih sakit. Biar Jovan yang menggantikan tugas emak sampai emak sembuh", rengeknya ingin mengambil alih pekerjaan emaknya.


"Jangan!! Cepat pergi belajar. Tepati janjimu pada Emak. Kalau kamu ingin sukses", ucap emak penuh ketegasan.


Akhirnya Jovan menurut. Dan beringsut mundur. Segera kembali ke dalam mengambil buku pelajaran. Mengulang bab-bab yang ia belum paham.


Sedangkan emak sibuk menanak nasi dan menggoreng tempe. Ia berusaha menyiapkan sarapan seadanya untuk Jovan. Merasa kasihan bila Jovan sering menahan rasa laparnya karena tidak membawa uang jajan.


Jovan dengan lahab makan dengan tempe goreng tepung buatan emak. Sungguh nikmat untuk perutnya yang kosong. "Emak tidak makan?", melihat emaknya hanya diam menatapnya makan.


"Nanti saja. Emak makannya".


"Biar Jovan suapin. Ak mak!", menyuruh emak buka mulut.


"Emak harus makan. Buat minum obat. Biar emak cepat sembuh!", ucapnya sambil terus menyuapi emaknya. Emak yang merasa tersentuh hatinya meneteskan air matanya.


"Kenapa emak menangis?", mengusap air mata emaknya.


"Emak hanya bersyukur. Beruntung memiliki kamu nak! Kamu anak yang baik".


"Seharusnya Emak bangga pada diri emak. Karena emaklah Jovan seperti ini. Karena emak Jovan adalah wanita tangguh berhati peri", meletakkan piring dan memeluk emaknya.

__ADS_1


Sarapan penuh tangis haru akhirnya selesai. Jovan menggendong tasnya dan pamit kepada Emak. Di perjalanan ia terus memikirkan uang sekolahnya. Ia sudah berjanji akan melunasi hari ini kalau ingin mengikuti ujian kelulusan.


Tapi kenyataan berbanding terbalik. Ia bahkan tidak bisa kemana-mana kemarin untuk mencari uang tambahan. Karena harus menjemput emak ke rumah sakit.


Harus beralasan apa aku nanti kalau dipanggil? Aku tidak mungkin meminta waktu tambahan lagi.


Ucapnya dalam hati sambil melangkahkan kakinya. Tiba-tiba suara klakson mobil membuatnya kaget. "Kak, ayo naik!", teriak Jessy dari dalam.


Ya, ternyata Jessy hari ini berangkat lebih pagi dari biasanya. "Ta...tapi", jawab Jovan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Kakak tenang saja. Ini masih pagi. Anak-anak lain belum ada yang melihat. Ayo naik!", ajaknya lagi. Ia paham apa yang Jovan sedang pikirkan. Untuk itu berusaha menolaknya.


Jovan masih saja bengong. Kemudian Jessy turun dan menariknya. Di dalam mobil Jovan masih saja diam. "Kakak kenapa?".


"Maaf Jes, merepotkan kamu. O ya maaf juga dari Emak hari ini belum bisa ke rumahmu karena sakit".


"Lhoh emak sakit apa?", tanya Jessy kaget.


"Emak tertimpa bata kakinya. Kemarin sore".


"Astaga. Boleh nanti Jessy menjenguknya?".


"Tidak usah Jes. Itu sangat merepotkanmu. Lagipula emak hanya butuh beberapa hari istirahat".


"Aku tidak merasa direpotkan Kak. Lagipula ini kan kemauan aku sendiri",ucapnya ingin meyakinkan Jovan.


"Baiklah", ucap Jovan.


Tak terasa sudah sampai di depan gerbang sekolah. Sebelumnya Jovan meminta turun beberapa meter dari pintu sekolah. Namun Jessy tidak memperbolehkannya. Kalaupun sampai ada yang melihatnya, biarkanlah. Jessy akan melawan siapa saja yang menghina Jovan.


"Jess, terimakasih. O ya ada apa kamu berangkat pagi-pagi seperti ini?", tanyanya.


"Sama-sama Kak. Aku ada urusan dengan kepala sekolah. Sudah dulu ya Kak. Dada!", ucap Jessy terburu-buru. Mereka menuju ke tempat yang berbeda.

__ADS_1


Hati Jovan masih dag dig dug. Mempersiapkan mentalnya nanti ketika ditagih uang sekolah. Persoalan ini membuatnya tak tenang. Bagaimana tidak. Ini adalah tentang nasib sekolahnya.


Ia berjalan sambil menghibur diri. Mengambil nafas lalu membuangnya pelan. Begitu seterusnya. Sampai ia di depan kelasnya.


__ADS_2