SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 40 POV JOVAN DAN KINTAN


__ADS_3

Pov Kintan.


Jovan mengantarkan aku pulang ke rumah. Rencana jogging bersama tadi pagi tidak terlaksana karena ternyata dia bangun kesiangan.


Berulang kali aku menghubunginya dan beberapa kali pula mengiriminya pesan. Namun tak ada satupun balasan dan jawaban telpon darinya. Aku panik.


Aku sengaja pagi-pagi ke rumahnya menggunakan jasa taxi online karena khawatir keadaannya. Meski aku datang dengan meminta dirinya menemaniku ke toko buku. Itu hanya alasanku saja untuk memastikan keadaannya.


Sesampainya dirumahnya, emak yang menyambutku. Karena ternyata dia belum bangun. Dengan segera emak membangunkannya dan meminta aku untuk menunggu.


Dan aku bisa bernafas lega akhirnya setelah melihatnya keluar dari rumah menyapaku. Badannya terlihat lemas. Pancaran matanya mengisyaratkan sesuatu. Ada yang disembunyikan darinya. "Kamu sakit?", tanyaku setelah melihatnya di ambang pintu.


Dan dia menjawab dengan kata hanya lelah saja. Aku melihat wajahnya lekat. Lama sekali ku perhatikan. Aku tahu pasti ada yang sedang ia pikirkan.


Akupun kembali bertanya apa yang sedang ia pikirkan? Kemudian dia malah menarik tanganku untuk membonceng motornya. Hingga tibalah kami di sebuah taman.


Taman yang cukup luas dan indah menurutku. Baru pertama kali aku ke taman ini bersamanya. Dan ternyata ditempat itulah, ia menorehkan luka.


Aku masih bertanya-tanya mengapa dia membawaku kesini? Sampai akhirnya dia meminta aku duduk di sampingnya dan kuturuti saja kemauannya.


Mungkin karena sudah lama di pendam. Jovan langsung saja berbicara ke pokok intinya.


"Hubungan ini lebih baik hanya sampai disini. Aku tidak ingin membuatmu terluka semakin dalam", itulah kalimat pertama yang dia ucapkan.


Aku tersentak kaget dengan kalimat yang dia ucapkan. Tubuhku bergetar. Aku berusaha menahan air mata yang secara tiba-tiba ingin menetes ke pipiku.


Mengapa begitu mudah ia mengucap kalimat itu tanpa berpikir bagaimana perasaanku. Hampir dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Mengapa? Ada apa? Apa salahku? Sehingga dia meminta seperti itu?


"Apa salahku Jo? Bukankah hubungan kita selama ini baik-baik saja?", ku beranikan diri untuk bertanya sambil menahan airmata yang akan turun begitu saja.

__ADS_1


Dia belum menjawab. Terdengar dia menarik nafas berat. Lalu berkata. "Hati aku sudah terisi oleh orang lain Tan, sampai kapanpun aku nggak akan bisa terima kamu. Meski selama ini telah ku coba", itulah jawabannya.


Air mata yang ku tahan, lolos begitu saja. Benteng pertahananku mungkin sudah jebol ketika aku mendengar kalimatnya barusan.


Aku menyimak kalimat selanjutnya yang dia ucapkan. Sampai akhirnya aku tahu dia memang tidak akan pernah bisa membuka hati untukku. Secara tidak langsung dia sudah menutup hati untuk orang lain. Demi orang yang teramat dicintainya.


Aku bertanya padanya siapa gadis yang berhasil mendapatkan tempat dihatinya? Bahkan sampai Jovan menganggap dia paling istimewa dan tak tergantikan. Meski kalimat itu tak diucapkan tapi aku bisa menarik kesimpulan. Dengan tidak bisanya dia mencoba membuka hati untukku selama ini.


Sakit iya, kecewa apalagi. Tapi anehnya aku tak bisa marah dengannya. Mungkin aku terlihat seperti orang bodoh yang secara terang-terangan malah akan menerimanya dengan tangan terbuka kalau gadis itu tidak menerima cintanya.


Dan kini sakit itu semakin terasa. Apalagi ketika dia tadi mengantarku hanya diam saja tak seperti biasa.


Kemudian bilang ini adalah terakhir kalinya dia mengantarku. Sungguh aku tak terima. Aku tidak rela dia meninggalkanku begitu saja.


Mana bisa aku tanpa dia? Bahkan separuh nyawaku sudah ku berikan untuknya? Egoiskah aku kalau terus mengejarnya? Meski yang dikejar tidak akan menengok sedikitpun kepadaku?


Sampai sekarang aku tidak berselera makan dan hanya mengurung diri di kamar. Aku tidak mungkin bercerita kepada mama saat ini tentang masalahku.


Karena lama tidak dibukakan. Akhirnya mama menyerah. Ku dengar langkahnya pergi meninggalkan pintu kamar.


Aku tahu pasti mama khawatir denganku. Namun aku hafal sifat mama yang tidak akan bertanya lebih dulu padaku sebelum aku mau jujur sendiri dengannya.


PovJovan.


Aku duduk termenung setelah mengantar pulang Kintan. Rasanya tidak tega melihatnya menangis sambil terisak. Hingga membuat matanya sembab.


Sampai di depan rumahnya pun ia masih terisak. Aku bingung mau bilang apa lagi dengannya.


Akhirnya ucapan ini terakhir kalinya aku mengantar dia adalah kalimat yang keluar dari mulut. Menambah isak tangisnya semakin keras.

__ADS_1


Sungguh tidak berniat melukai hatinya. Aku hanya bermaksud memperjelas perasaanku padanya. Agar dia tidak banyak menaruh harapan padaku lagi. Walaupun nyatanya aku memang menorehkan luka di hatinya. Gadis itu pasti syok.


Aku jahat. Baru menjelaskan padanya saat ini. Setelah kami banyak melalui waktu bersama. Aku merutuki ketidakberanianku berterus terang dari awal.


Dari awal masuk rumah, emak menodongku dengan berbagai macam pertanyaan. Karena melihat wajahku sangat kusut. Tapi aku selalu menjawab tidak ada apa-apa dan aku baik-baik saja.


Agar tidak terus bertanya, aku sengaja menghubungi Dodi. Meminta bertemu dengannya. Karena disaat seperti ini aku membutuhkan sahabatku itu yang bisa memahami masalahku.


"Mak, pinjam Jovan dulu ya! Kita mau tanding basket", itulah alasan Dodi ketika menarikku keluar dari rumah. Dengan begitu emak tidak akan curiga.


Walau nyatanya kami berbohong. Memang benar pergi ke lapangan basket tapi hanya menonton di pinggiran. Sambil menceritakan kejadian tadi.


"Iya aku tahu Jo. Hati cewek mana yang nggak akan sakit kalau tiba-tiba tahu orang yang di anggapnya kekasih selama ini sudah menyimpan nama gadis lain di hatinya. Dan kamu ngegantungin perasaan dia beberapa bulan...dan bahkan tahun. Kamu hampir dua tahun dekat dengannya! Berharap kamu bisa buka hati untuknya. Tapi nyatanya nggak bisa", jelas Dodi mengomentari ceritaku.


"Tapi keputusan yang kamu ambil udah benar Jo. Daripada nanti-nanti, semakin lama hubungan kalian malah makin sakit kasihan dianya", lanjut Dodi.


"Terus apa langkah kamu selanjutnya? Kamu akan ngejar Jessy kembali kan?", tanya Dodi padaku.


Aku mengangguk lemah.


"Ayolah Jo! Kamu harus semangat. Buang semua rasa ketidak percayadirianmu itu", ucap Dodi menyemangati. Anak itu tahu titik lemahku mendapatkan Jessy.


Aku selalu merasa kurang percaya diri. Karena statusku yang secara terang-terangan tidak disetujui oleh orang tuanya.


Tapi bukankah sudah kalah sebelum berperang namanya kalau aku menyerah begitu saja.


Dodi nampak kesal dengan sikapku. Nampak aku berpikir panjang hingga akhirnya memantapkan diri untuk kembali mengejarnya. Toh nasi telah menjadi bubur. Aku sudah berkata jujur pada Kintan hatiku untuk siapa. Jadi menunggu apalagi?


Sekali lagi maaf Kintan, aku telah melukaimu.

__ADS_1


__ADS_2