SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 22 IRI BILANG BOS!!


__ADS_3

Maklum saja sampai menginjak usia saat ini Jovan belum pernah merasakan kehangatan seorang ayah. Beruntung aku punya teman Dodi yang ayahnya sangat baik padaku.


Hanya memakan waktu 35 menit kamipun sampai di sebuah danau pinggiran kota. Meski ayah Dodi sempat mendapati kemacetan karena padatnya kendaraan di minggu pagi.


Mungkin kalau tidak macet akan lebih cepat sampai. Tapi ya sudahlah. Hal ini tidak akan menjadi pembahasan author😁.


Aku membantu mengeluarkan peralatan memancing yang di bawa Dodi dan ayahnya. Setelah itu memilih tempat yang teduh agar tidak terlalu lelah karena sengatan matahari.


Mulai melempar kail dan menunggunya. Bagi yang tidak suka memancing ini adalah momen membosankan. Karena menunggu tanpa kepastian. Kaya cinta author padamu. Ea ea ea.


Tapi bagi yang gemar memancing hal ini dijadikan sebagai tantangan. Dan seperti inilah momen paling seru dan mendebarkan. Berdebar-debar karena nunggu dapet enggaknya. Bukan nunggu diterima enggak cintanya πŸ˜₯.


Empat jam berlalu. Memancing kali ini aku benar-benar payah. Aku hanya mendapat satu ekor ikan gurami kecil. Sedangkan Dodi dan ayahnya berhasil mendapat ikan gurami besar mungkin jika ditimbang hampir satu kilo setengah.


Lelah dan lapar. Kami akhirnya memutuskan untuk pulang. "Jo, jangan pulang dulu. Biar ibuku masak ikan ini. Kita juga bisa membantunya!", ajak Dodi.


Aku menganggukkan kepala dan menyetujui usul Dodi. "Sering-sering kesini Jo, biar Dodi tidak kelayapan terus kerjaannya", ucap ibunya Dodi sambil membersihkan ikan hasil memancing tadi.


"Iya Buk, terimakasih", jawabku sambil membantu mengulek bumbu bakaran.


"Sudah biar Ibu lanjutkan, kalian capek kan? Tunggu saja di depan!", perintah Ibu Dodi dan kami mengangguk.


Dodi mengajakku istirahat di kamarnya. Sedangkan ayah Dodi memilih mencuci mobilnya. "Aku tadi nggak sengaja lihat Jessy bonceng Bagas", ucapku sambil duduk di tepi ranjang Dodi.


"Wajarlah mereka pergi. Sekarangkan hari Minggu pasti mereka kencan. Bukankah sepasang kekasih yang lagi kasmaran seperti itu?", sahut Dodi mengomentari ucapanku tadi.


"Tapi kenapa hatiku sakit ya? Melihat mereka bocengan sedekat itu?", ucapku sambil membaringkan tubuhku.

__ADS_1


Dodi tertawa mendengarnya. Ia seakan tengah mengejekku. "Jelas hati kamu sakit Jo! Karena kamu suka sama Jessy. Dan kamu itu sedang cemburu!", tegas Dodi.


Aku menatap langit-langit. Masih tak percaya kapan rasa ini tumbuh. Mengapa aku begitu mudah menyukai Jessy. Apakah itu karena dia berhasil mencuri perhatianku? Di saat yang lain menganggapku tak nampak, dia hadir dengan tulus dalam hidupku.


"Hei, kenapa malah melamun? Benakan kamu cemburu? Sadar Jo! Jangan cari masalah sama Bagas deh!", Dodi memperingatkan sambil melempar bantal mengenai wajahku. Membuatku sontak terbangun.


Kaget pastinya. Bukan sepenuhnya kaget karena lemparan bantal. Melainkan nama Bagas mengingatkan kembali siapa diriku ini. Aku dan mereka, (Jessy dan Bagas) bagaikan langit dan bumi.


Membuat nyaliku menciut kembali mengingat hal itu. Aku frustasi. Mengacak-acak rambutku yang mulai gondrong. Dodi menepuk bahuku. Memberiku semangat. "Nggak usah putus semangat! Tunjukkan ke dia kalau suatu saat nanti kamu bisa sukses dan layak untuknya! Ku rasa Jessy akan menyukaimu yang apa adanya. Hanya saja saat ini Bagas orang yang berhasil menjadi pemenangnya".


Ya ucapan Dodi benar. Aku tidak boleh menyerah. Suatu saat nanti aku pasti bisa membuat Jessy melihatku karena ketulusanku. Aku harus lebih gigih lagi. Aku harus menunjukkan prestasiku.


"Nak ajak Jovan ke meja makan!", teriakan dari Ibu Dodi membuat kami mengakhiri sesi curhat kali ini. Meski sesama lelaki aku tak pernah malu bercerita masalah pribadi dengan Dodi. Dodi pun seperti itu. Persahabatan kami yang baru terjalin dua tahun ini serasa bagaikan keluarga.


****


Di tempat arena balapan. Muda-mudi telah berkumpul dengan motor gede masing-masing. Disitulah Bagas mengajak Jessy pergi. Tempat yang sekaligus menjadi hobbynya sejak masuk SMP.


Tapi karena bujukan Bagas. Akhirnya iya mengikuti. Selama jadi pacar Bagas, teman-temannya belum mengenal Jessy. Karena baru kali ini Jessy mau ikut bergabung dengan anggota geng motor Bagas.


"Cewek Lo cantik juga bro!", ucap Andi salah satu anak geng motor.


"Iya nih pantesan diumpetin terus. Tahunya kaya gini ceweknya", sahut Rangga teman lainnya.


Bagas tertawa sambil nyengir. Memperlihatkan dirinya bangga memiliki Jessy. Karena saat dengan Mona dulu tidak ada teman yang memujinya. Itu artinya Jessy sangat istimewa.


Jessy hanya diam. Ia mulai kesal. Kalau niat Bagas membawanya kesini hanya untuk memamerkannya dengan teman-temannya yang nggak jelas itu mending ia tidak mau ikut saja seperti kemarin.

__ADS_1


Lama melihat atraksi dari teman-temannya. Seketika menyadari Jessy tidak mood dari tadi. "Why? Wajahmu ditekuk gitu. Cantiknya ilang lho!", ucapnya menggoda Jessy.


"Aku gerah disini. Ayo kita pulang", ajak Jessy beralasan.


Tak mau princesnya marah, Bagas akhirnya pamit sama teman-temannya untuk pulang. "Nggak asik banget sih Lo, mentang-mentang bawa cewek udah mau pulang aja", celetup Andi.


"Ya sorry, dia kepanasan disini lama-lama bro", ucap Bagas sambil menyalami teman-temannya dengan gaya coolnya. Akhirnya temannya mengijinkan Bagas pulang.


"Gila tuh Bagas, putus dari Mona dapet ganti yang seperti itu!", ucap Andi.


"Lo kaya nggak tahu Bagas aja. Tajir melintir dengan sekali kedipan mata, cewek-cewek pada ngantri kali", sahut Rangga.


"Ya gue juga tajir kali", sanggah Andi tak terima.


"Lhah terus? Napa Lo? Iri sama dia? Iri bilang bos!", ucap Rangga kesal pada Andi.


Mereka bertiga sahabatan dari sekolah dasar. Dan di sini Bagas yang selalu menjadi peran utama daripada keduanya. Bagas pulalah yang selalu berhasil mendapat keinginannya. Seperti dulu ketika mengincar Mona jadi pacarnya. Rela taruhan sama Andi. Karena Andi juga menyukai Mona. Tapi lagi-lagi Bagas yang menang.


"Sudahlah, Lo sama Bagas nggak akan bisa menang! Terima kenyataan bro!", ucap Rangga sambil menepuk bahu Andi.


Namun Andi mengabaikan. Memilih untuk meninggalkan arena. Meninggalkan Rangga dan teman-teman lain yang masih disitu. Rupanya emosinya dan rasa iri yang menghantuinya sudah di ubun-ubun.


"Kenapa tuh bocah? Berantem sama Lo?", tanya salah satu teman lain.


"Lagi dapet kali emaknya. Bawaannya marah terus", ucap Rangga asal.


"Yee apa hubungannya coba emaknya yang dapet sama dia yang marah?".

__ADS_1


"Sudah deh nggak penting. Ayo kita lanjut lagi", ucap Rangga yang langsung menaiki motornya. Ia tak mau ambil pusing dengan Andi yang tiba-tiba kehilangan moodnya hanya karena melihat Bagas bersama Jessy.


Yokk like komen dan votenya ya zeyenk. O ya mohon maaf lahir dan batin yakk...kalau author banyak salah selama ini πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2