SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 55 END


__ADS_3

Bagas pov.


Aku laki-laki egois. Terlalu memaksakan kehendak yang hanya menambah Jessy semakin membenciku saja.


Aku ingin menebus kesalahanku. Aku merenung setelah semalaman aku habiskan mabuk-mabukkan kembali di salah satu club di Jakarta.


Hingga terbersit keinginanku untuk melepasnya. Dengan semakin mengekang dia, semakin aku sadar aku tak bisa menggapainya. Jelas di hati wanita itu hanya Jovan. Dan sampai kapanpun tak bisa menerimaku. Dengan mengingat karakter Jessy yang keras.


Aku mengutarakan niatku kepada papa. Meski awalnya marah tapi akhirnya papa bisa menerima dan memberiku kebebasan.


Namun berbeda dengan Papa Steve. Yang langsung datang dari London khusus untuk menemui kami berdua setelah mendapat kabar dari papa kalau kami akan bercerai.


Papa Steve berpikir aku bodoh. Karena melepas Jessy begitu saja. Yang membuat papa Steve murka karena ia tahu alasan Jessy setelah bercerai denganku akan menjalin hubungan dengan Jovan.


Jujur aku juga kaget. Ternyata tanpa sepengetahuanku Jessy telah merencanakan ini. Aku bertanya padanya tapi dia hanya diam saja.


Ku coba menahan emosiku. Kembali ke rencana awal. Aku sudah berniat melepas berarti aku harus terima apapun keinginan dia selanjutnya. Membiarkan dia mencari bahagianya.


Aku tidak ingin menyakitinya untuk yang ke sekian kali. Cukup aku menyesali telah gagal membuatnya dia menyukaiku. Dan tidak bisa membuatnya bahagia.


Karena kami hanya menikah siri, tidak ada berkas-berkas yang harus kami urus dengan rumit. Sehingga perceraian mudah kami lakukan.


Sepulang Kessy dari rumah sakit, aku juga sudah menyiapkan diri untuk memberi pengertian kepada anak itu. Beruntung Kessy memang tidak terlalu dekat dengan Jessy selama ini. Sehingga sangat mudah menjelaskan padanya kalau Jessy bukan ibu kandungnya.


Dan aku mengajak ia kembali ke London dengan iming-iming akan mencari mama kandungnya disana. Entah sesampainya disana nanti ia menagih dan aku harus mencari wanita itu kemana, lebih baik ku pikirkan nanti.


Yang jelas tujuan utamaku adalah aku ingin pergi jauh dari Jessy. Dan berusaha menghindar darinya. Karena nyatanya hatiku masih berat melepasnya. Hati ini sepenuhnya masih miliknya.

__ADS_1


Daripada aku semakin luka melihatnya bersama orang yang dicintainya, lebih baik aku yang menjauh saja.


Author pov.


Semakin rapih menyimpan sebuah masalah, akhirnya bakal tercium juga. Sepulang dari mall, emak terus bertanya kepada Kintan. Apa yang sedang di pikirkan Jovan.


Karena perubahan Jovan selama beberapa hari benar-benar membuat emak khawatir dan curiga ada yang di sembunyikan.


Akhirnya Kintan jujur kepada emak. Dan dia meminta lebih jelasnya emak bertanya langsung pada Jovan sendiri.


"Ya Allah Nak, apa kurangnya Kintan selama ini sehingga kamu masih terus mengejar Jessy? Apa tidak ada sedikitpun perasaan untuk Kintan? Dia yang selama ini mendampingi kita dalam susah senang. Bukan Jessy".


"Jangan pernah berhubungan lagi dengan Jessy. Meski Emak tahu dia orang yang baik tapi tidak dengan keluarganya. Papanya tidak akan pernah menerima kita. Tolong kamu ingat itu. Kalau memang kamu kasihan dengan emak, jauhi dia", ucap emak saat itu.


Baru kali ini Jovan melihat emak memohon padanya dengan menangis. Membuat Jovan bingung harus bagaimana.


"Mak, kasih waktu Jovan untuk berpikir".


Emak mengucapkan kalimat itu tepat disaat Jessy berkunjung kerumah. Ia berada di ambang pintu dan dengan terpaksa mendengar semua ucapan emak.


Aku menoleh melihatnya menangis. Dan hendak berbalik pergi. Aku mengabaikan emak demi mengejarnya. Ternyata ia sudah keburu menyetop taksi.


"Jess, tunggu!", aku menarik tangannya sebelum masuk ke dalam taksi.


"Emak benar Jo. Aku memang tidak pernah ada mendampingi kamu di saat susah. Dan soal papa dan keluargaku, aku minta maaf. Papaku dan orang-orang terdekatku selalu jahat denganmu. Maaf! Mungkin kamu turuti permintaan Emak untuk menerima Kintan. Dia wanita yang pantas bersanding denganmu", ucapnya kemudian masuk ke dalam taksi sambil berurai air mata.


Jovan sudah tidak bisa mencegah Jessy pergi. Ada emak yang melihatnya dari belakang. Tampak emak tidak keberatan dengan kepergian wanita itu.

__ADS_1


Bagus pikirnya kalau Jessy mendengar. Sebelum Jovan sendiri atau emak yang harus mengatakan. Lagipula ancaman papa Jessy memang tidak pernah main-main.


Emak hanya ingin melihat Jovan berada dengan orang yang tepat. Seseorang yang mau menerima dia dalam kondisi apapun. Bukan di saat ingin mendampingi saat sukses saja.


Jovan kembali ke rumah. Dia nampak diam. Emak tahu apa yang dirasakan anaknya. "Emak minta maaf Jo, tapi kita harus sadar diri. Kita berbeda dengan mereka. Baik dulu maupun sekarang. Emak tidak mau kamu selalu direndahkan. Sakit hati Emak Jo!", ucap emak merangkul Jovan.


Jovan membalas pelukan emak. Ia bisa memahami maksud emaknya. Sudah cukup penghinaan dari papa Jessy. Meski orang itu pernah baik menolongnya, tapi apa harus seperti ini orang yang selalu menolong? Selalu mengungkit kebaikan yang sudah diberikan.


"Maafin Jovan Mak, maaf!", ucapnya sambil terus memeluk emak.


Jovan pov.


Baru kali ini aku melihat emak serapuh ini. Terus memohon padaku agar aku tidak berhubungan dengan Jessy lagi. Aku memang tidak melihat secara pasti saat itu papa Jessy menegur emak.


Aku hanya mendengar cerita sepintas pengakuan dari emak. Tapi melihat emak serapuh ini, aku tahu pasti hati Emak sangat terluka.


Jessy mendengar semua ucapan emak. Dia ternyata ke rumah setelah beberapa hari sama sekali tidak membalas pesan dan panggilanku. Entah apa maksudnya ia datang tanpa memberi kabar lebih dulu.


Tapi semua harus diurungkan, dia memilih kembali pergi setelah mendengar semua ucapan emak. Aku berusaha mengejarnya tapi dia memberi pernyataan yang intinya menyuruhku menuruti perkataan emak.


Sungguh diluar dugaanku sebelumnya. Yang membayangkan kisah cinta kita akan indah pada waktunya. Ternyata harus pupus. Biar bagaimanapun hubungan tanpa persetujuan dan restu dari orang tua akan menjadi rumit.


Mungkin sudah ditakdirkan aku tidak bisa menyandingnya. Mengingat aku dari kecil hanya memiliki emak, rasanya tidak tega kalau aku bersikukuh untuk tetap bersama Jessy.


Kita saling mencintai. Tapi ada orang-orang terdekat yang akan terluka jika kita bersama.


Mungkin inilah kisah kita. Harus berakhir sampai disini.

__ADS_1


Kita ditakdirkan hanya untuk saling mengagumi tanpa bisa bersatu.


Sulit untuk meraihmu, kalau pada akhirnya aku memang seperti tak nampak.


__ADS_2