
Aku menunduk dan terdiam. Mengapa orang itu menundanya lagi? Apa alasan dia? Apa malu telah membantu orang sepertiku?
"Jangan berpikir yang macam-macam ya Jo, mungkin dia punya alasan tersendiri untuk tidak menyampaikan siapa dia. Ibu harap kamu bisa menerima dan sabar menunggu", ucapnya.
Karena tidak mendapat informasi yang aku inginkan, aku pun pamit pulang. Mengayuh sepedaku kembali menuju ke rumah.
Tepat pukul setengah dua siang. Aku memarkirkan sepedaku di depan rumah. Ku pandangi atap rumah yang agak condong ke samping. Lalu ku hela nafas.
Kalau untuk makan sehari-hari sudah tidak kebingungan lagi. Karena emak selalu membawa makanan dari rumah Jessy. Oleh karenanya hasil jerih payahku mencari tutut kini bisa ku tabung dan uangnya untuk berbenah rumah suatu saat nanti.
Sore hari pun tiba.
Seperti biasa emak pulang dari rumah Jessy dan aku pulang dari mencari tutut. "Ini minum Mak! O ya Mak, apa tidak ada kabar tentang Jessy?", tanyaku tiba-tiba teringat gadis kecil itu.
"Tidak Nak, tapi Emak sering mendengar Jessy menelepon mamanya".
"Apa Jessy telah melupakanku Mak? Mengapa ia tak memberiku kabar?".
"Maaf Jo, sepertinya memang kamu harus melupakan Jessy", ucap emak yang mengejutkanku.
"Kenapa Mak? Apa alasan Emak melarangku berteman dengannya lagi?".
"Bukan Emak melarang, tapi biar bagaimanapun dia sekarang anak majikan Emak. Jangan sampai papa dan mama barunya tahu kalau kamu berteman dengannya", emak mengingatkan seperti memiliki firasat.
"Iya Mak. Jovan sadar. Pasti karena Emak malu kan?", berlari ke luar rumah.
"Jo, bukan begitu. Maksud Emak...".
Jo, maafkan Emak. Bukan karena Emak malu. Tapi Emak hanya takut mereka akan semakin mempersulit Jessy untuk pulang mengunjungi mamanya. Kasihan Bu Eva...
Selama beberapa bulan bekerja di rumah Jessy, Emak banyak mendengar keluh kesah Bu Eva, mama Jessy. Sebagai seorang ibu pasti merasa sakit bila dijauhkan dari anak kandungnya sendiri.
Melihat anaknya harus hidup dengan ibu tiri. Meski yang menjadi istri mantan suaminya adalah adiknya sendiri tapi kasih sayang seorang ibu kandung dan ibu tiri tak akan pernah bisa sama.
Apalagi semua keputusan ini hanya sepihak dari papanya Jessy. Bukan atas kemauan Jessy sendiri. Bagaimana mamanya tidak akan khawatir dan terus memikirkan Jessy.
__ADS_1
Perlahan Emak menjelaskan kepada Jovan maksud yang sebenarnya. Hingga kesalahpahaman di anatara keduanya berakhir. Dan Jovan mau mengerti apa maksud emaknya.
"Maaf Mak, Jovan sudah berpikir dan menuduh emak yang tidak-tidak. Jovan tidak memikirkan perasaan mama Jessy", ucap Jovan.
Pagi hari.
Seperti hari-hari biasanya Jovan pergi ke sekolah dengan mengayuh sepedanya. Di pertengahan jalan A ia berjumpa dengan Dodi dan berangkat ke sekolah bersama.
"Jo, bagaimana persiapanmu? Sudah siap kan?", tanya Dodi.
Hari ini adalah pertandingan bola basket dengan kelas A. Itu berarti kelas Jovan melawan kelas Bagas dan gengnya.
"Siap, kita pasti menang!".
"Tapi Jo, lawan kita bukan sembarangan. Bagas dan gengnya lho!".
"Jangan takut, jangan sampai mental kita down dulu".
"Baiklah, aku ikut denganmu saja. Bukankah usaha tak akan menghianati hasil bukan?", ucap Dodi.
Jovan tersenyum. Bagi Jovan kalah menang sudah biasa. Toh Bagas dan kawan-kawannya akan tetap merendahkannya. Jadi lebih baik menyiapkan mental untuk menghadapi mereka.
Emak sibuk kesana kemari menyapu serta mengepel lantai. Begitu pula dengan ART lain yang bekerja sesuai bagian masing-masing.
"Saya tadi lihat Bu Eva lagi nangis. Sepertinya beliau rindu dengan Non Cantik", ucap salah satu tukang kebun.
"Beberapa hari ini juga Bu Eva hanya sedikit makan. Dan hanya makan di dalam saja", sahut ART.
"Ya tentu kepikiran anaknya pasti, Non Cantik kabarnya sedang sakit disana. Dan mama barunya belum tentu mau merawatnya", sahut yang lain.
Mereka terus saja bergosip membicarakan majikannya. Emak sebagai pelengkap saja yang selalu mendengarkan dengan setia.
Di London.
London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames, London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh Romawi pada abad ke-1 dengan nama Londinium.
__ADS_1
Saat ini di London sedang musim dingin. Hampir semua kawasan Eropa dihiasi dengan butiran-butiran salju. Daratan terasa sangat dingin dan beku. Pada musim ini, suhu bisa mencapai di bawah titik beku.
Sangat berbeda dengan di Indonesia yang tidak ada musim salju. Perubahan cuaca ini membawa dampak bagi kesehatan Jessy. Sudah dua hari Jessy dikabarkan mengalami demam.
Sudah dua hari pula ia tidak bisa pergi sekolah. Hal ini membuat mamanya semakin khawatir dengan kondisi yang di alami anaknya.
Andai saja ia mendapatkan hak asuh itu, pasti ia akan sangat bahagia hidup bersama Jessy. Hal diluar pikirannya keputusan hakim ternyata memutuskan hak asuh jatuh pada mantan suaminya. Keputusan yang membuatnya berat namun harus tetap menerima.
"Uhuk-uhuk", Jessy terus batuk dan menggigil. Sesekali mengigau memanggil nama mamanya.
"Ma, Mama Jessy kangen Mama", ucapnya.
Membuat mama tirinya merasa panas kupingnya. "Dasar anak tak tahu terima kasih, masih untung ku bawa kamu kesini tinggal bersama kami. Tapi apapun yang aku lakuin selalu sia-sia", gerutunya.
"Bagaimana kondisi Jessy?", tanya suaminya yang tiba-tiba datang dari pulang kerja.
"Sayang, ternyata kamu sudah pulang. Jessy ya begitulah, masih demam dan terus memanggil nama mamanya. Aku sebal. Duduklah dulu minum teh setelah itu baru kamu tengok ke kamarnya", ucap mama tiri Jessy.
"Berusahalah lebih keras lagi. Dan kamu akan mendapatkan hatinya. Sabar ya sayang", ucap papa Jessy sambil mengelus rambut istri barunya.
"Mas, tapi ini sudah berbulan-bulan aku mengurusnya. Dia belum juga menganggapku", ucapnya manja sambil bergelayut di lengan suaminya.
"Wajar saja, dia masih anak-anak. Lambat laun kamu pasti bisa memenangkan hatinya", balas suaminya memberi semangat.
Mama tiri Jessy tersenyum senang. Suaminya terus memberi semangat padanya untuk tidak berputus asa. Kemudian pergi mengantar suaminya ke kamar untuk melihat Jessy yang sedang terbaring lemah di atas ranjang.
"Apa sudah dicek suhu tubuhnya?", tanya papanya sambil memegang kening kepala anaknya.
"Terakhir kali 37 Mas".
"Coba cek lagi. Ini sangat panas sekali", ucap suaminya. Dan ia pergi mengambil alat pengukur suhu tubuh.
Suaminya mengambil alih alat pengukurnya. Dan menempelkan di ketiak anaknya. "Astaga, 39,4 derajat celcius. Kita harus bawa Jessy ke rumah sakit".
"Tapi Mas".
__ADS_1
"Jangan tapi-tapi. Siapkan mobilnya. Aku yang akan menggendong Jessy", ucapnya.
Papanya segera menggendong Jessy masuk ke mobil. Membawanya ke rumah sakit dengan segera. Agar Jessy cepat mendapat pertolongan.