SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 27 EMAK MINTA MAAF


__ADS_3

Dodi tak langsung pergi. Ia singgah dulu sebentar di rumahku. Karena memang rumah masih sepi hanya ada aku. Emak jam segini belum juga pulang dari rumah Jessy.


"Minum Di!", aku menyodorkan segelas air teh hangat untuknya.


"Makasih Jo. Sepulang sekolah begini apa kamu masih sering mencari tutut Jo?", tanyanya sambil meraih gelas tadi.


"Tidak setiap hari. Akhir-akhir ini Emak sering melarangku. Dengan alasan tidak ingin belajarku terganggu", jelasku.


Dodi hanya mengangguk. Dan kembali menyesap teh tadi. Tak lama setelahnya ia pamit pulang.


*****


Di sebuah kamar rumah mewah pinggiran kota. Bagas mengobrak-abrik seluruh isi kamar dan melemparkan barang-barang di sembarang arah.


Hari ini ia tak datang ke sekolah. Ia sangat frustasi dengan sikap Jessy yang mendiamkannya. Hanya karena alasan dirinya telah memukuli Jovan waktu itu.


Sungguh ironis, gadis cantiknya itu membela Jovan. Dan terus menyalahkannya. Bahkan chat dan panggilan darinya dua hari ini tidak mendapat jawaban. Kalau sudah begini itu berarti Jessy tak main-main.


Ia mengepalkan tangan. Kekasihnya yang selama ini selalu tunduk padanya, marah besar hanya karena seorang Jovan.


Apa kelebihan dia Jess? Bahkan seujung kuku pun tidak ada apa-apanya di banding denganku. Apa Lo menyukainya?


Satu tangannya meninju dinding kamar. Membuat luka di punggung tangan kirinya.


Papanya yang pulang saat itu karena mendapat aduan dari sang istri bahwa anaknya marah-marah dengan membanting barang di kamarnya. Beliau terpaksa membatalkan meeting yang begitu penting hanya untuk melihat kondisi sang putra.


"Bagas, ada apa denganmu? Papa boleh masuk?", teriaknya dari luar pintu. Axel begitu khawatir dengan putranya.


Sedari tadi mamanya sudah membujuknya tapi tidak berhasil. Sehingga ia meminta bantuan suaminya untuk pulang.


"Gas, Papa akan dobrak pintunya kalau kamu tidak membukanya!", ancam sang Papa.

__ADS_1


Bagas berjalan ke arah pintu dan segera membukanya. Mungkin akan lebih baik kalau ia bercerita pada sang papa. Siapa tahu punya jalan keluar bagi masalahnya.


Axel menatap prihatin dengan kondisi putranya. Ia duduk di tepi ranjang samping anaknya. Di rangkulnya bahu yang terlihat frustasi itu.


"Ada apa cerita ke Papa? Jangan membuat kami khawatir dan berasumsi sendiri dengan pikiran kami".


"Jessy sepertinya menyukai cowok lain Pa! Sudah dua hari ini ia mendiamkan Bagas dan marah pada Bagas hanya karena membela anak itu", terangnya.


Papa masih menunggu cerita selanjutnya. "Bagas tak habis pikir, mengapa Jessy sangat marah pada Bagas hanya demi dia yang nggak ada apa-apanya di banding Bagas", keluhnya.


"Siapa cowok itu? Apa kamu mengenalnya?", selidik sang papa mengumpulkan informasi.


Bagas menceritakan siapa Jovan pada papanya. Tidak ada yang tertinggal sedikitpun tentang Jovan apa yang diketahuinya.


"Jadi dia hanya anak beasiswa? Berani sekali berulah dengan anak papa?", ucapnya geram.


Sesampainya di perusahaan kembali, ia segera menghubungi asistennya. Dengan kekayaan tajir melintir akan sangat mudah mendapat informasi lebih lanjut tentang Jovan.


Sore itu. Jessy telah menunggu mamanya yang pulang dari kerja. Ia ingin sekali menyampaikan keluhnya tentang Bagas pada sang mama.


Tapi kenyataan berbeda. Mamanya hanya pulang sebentar dan harus balik lagi bertemu dengan klien di luar sana. Kapan mama ada waktu untuk sebentar saja dengar curhatanku Ma? Keluhnya dalam hati.


Ia tak ambil pusing lagi. Segera mengambil kunci mobilnya dan ke rumah Amel. Hanya sahabatnya itu seseorang yang selama ini menampung keluhannya.


Bahkan tak sungkan ia bercerita dengan mama Amel. Sikap mama Amel yang penuh kehangatan, memberikan peluang baginya mendapat kenyamanan.


"Lagian masih kecil, kenapa kedua orang tuamu sudah menjodohkanmu dan tidak memberi kesempatan untuk kamu menikmati masa indahmu sayang?", ucap tante Ratna mamanya Amel. Sambil mengelus puncak kepala Jessy yang tiduran di pangkuannya.


Terkadang Amel merasa iri dengan kedekatan mereka. Bahkan Jessy belum genap satu tahun kenal dengan mamanya. Tapi mereka berdua langsung klop satu sama lain.


"Tan, malam ini aku boleh nginap disini?", ucapnya yang sudah mempersiapkan diri membawa perlengkapan sekolahnya ke rumah Amel sore tadi.

__ADS_1


"Boleh saja sayang, tapi kamu harus kabari mama kamu ya", jawab tante Ratna.


Jessy tersenyum. Kemudian mengetikkan pesan pada sang mama. Dan seperti biasa mamanya akan lama membalas pesan darinya. Hal itu sudah biasa bagi Jessy. Ia juga tak bisa menyalahkan sepenuhnya pada mamanya yang sekarang kerja sendiri.


"Lo, yakin mau minta putus dari Bagas?", tanya Amel sekali lagi yang masih tak percaya dengan ucapan sahabatnya yang kini sudah merebahkan tubuhnya di kamarnya sambil merangkul boneka beruang.


"Yakin Mel, gue udah nggak tahan".


"Gue bingung Jess. Lo antara udah nggak tahan sama perlakuan dia dengan Lo yang memang suka sama orang lain", ucap Amel.


"Terserah Lo deh Mel! Mau menyimpulkan kaya gimana", jawabnya lalu menutup wajahnya dengan bantal.


"Tapi pikir-pikir lagi keputusan Lo deh Jess! Ini sama aja Lo ngelawan Papa Lo!", ucap Amel khawatir.


"Iya gue tahu konsekuensinya dari Papa. Om Axel pasti juga sudah menghubungi Papa. Karena mengingat sifat Bagas, ia akan ngadu ke bokapnya".


"Gue turut prihatin Jess sama Lo! Kenapa Papa Lo keras kepala pengen jodohin Lo sama orang yang nggak Lo suka", ucap Amel.


"Entahlah Mel. Ada perjanjian apa di antara mereka. Sampai-sampai harus gue yang harus jadi korbannya", ucap Jessy sendu sebelum akhirnya mereka memejamkan mata.


Malam ini begitu indah. Dihiasi kerlap kerlip bintang yang bercahaya. Berbeda dengan Jessy yang sudah terlelap. Sementara Jovan masih terjaga.


Ia berhutang jawaban pada sang Emak. Ketika sore tadi sepulang bekerja, Emak mendapati bekas lebam di kedua pipinya.


"Apa kamu sudah berani tidak jujur pada Emak Jo?", tanya sang Emak yang masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.


"Seperti penjelasan Jovan tadi Mak, Jovan dipukuli karena lawan basket Jovan tidak terima kalau mereka kalah", ucapnya lagi-lagi berbohong.


"Emak tak habis pikir Jo, kenapa mereka tega melakukan itu kepadamu?", Emak akhirnya percaya. Beliau sudah tak lagi mengejar jawaban kebenaran karena Jovan berulang kali menjawab dengan mengatakan seperti itu.


Yang tadinya Emak ingin marah, seketika melunak. Mengingat begitu mirisnya jika membayangkan anaknya selalu menjadi cemoohan dan dijauhi teman-temannya.

__ADS_1


Emak kemudian meminta maaf padaku karena telah meminta paksa penjelasan dariku dan sempat tidak mempercayaiku. Di sini aku merasa sangat bersalah. Karena nyatanya aku memang tidak berkata jujur dan telah membohongi Emak.


__ADS_2