
Ceklek. Pintu sudah tak terkunci. Namun sangat sulit untuk dibuka. Rupanya ada yang menahan dari dalam. "Jessy, minggir sayang. Kalau tidak nanti kamu bisa terjatuh", ucap papanya memberitahu.
"Tidak, Papa jahat. Papa pergi saja dengan tante itu. Jessy tidak suka!", jawabnya.
"Jessy, Papa bilang minggir! Papa tidak pernah mengajarimu untuk membenci orang lain, bentak papanya. Membuat nyali Jessy yang masih anak-anak menciut.
"Huuu huuu huuu", Jessy beringsut pergi dari balik pintu dan menangis. Papanya segera masuk ke dalam.
"Maafkan Papa! Papa tidak bermaksud untuk membentakmu. Hanya saja Papa sedikit kecewa denganmu. Tidak seharusnya Jessy berkata seperti itu".
Jessy tidak menjawab papanya. Ia masih terus menangis sesenggukan. "Papa dan Mama sudah tidak bisa lagi bersatu. Jessy juga harus mengerti itu. Tetapi tidak dengan cinta Papa ke kamu. Papa akan selalu memberi kasih sayang untukmu".
"Sekarang Jessy ganti baju dulu ya! Habis itu makan. Biar Mbak Rara yang antar makanan kesini kalau Jessy tidak mau keluar kamar", mencium kening putrinya lalu keluar kamar.
Jessy mengusap air matanya. Tiba-tiba ia teringat Jovan. Kakak, Jessy ingin bertemu. Tapi Jessy tidak tahu bagaimana bilang sama Papa!
Iya tahu. Meminta izin dengan Papanya pasti tidak dibolehkan saat ini. Berbeda kalau ia tinggal dengan mamanya. Mamanya akan selalu menuruti permintaannya.
Akhirnya ia mengurungkan niatnya. Dan hanya murung menatap ke arah luar jendela. Pemandangan indah terlihat di luar sana. Tapi ia sama sekali tidak bisa menikmatinya.
Tinggal di rumah mewah di tengah-tengah kota. Sama sekali tidak membuatnya bahagia. Ia malah mengimpikan kehidupan Jovan. Walau serba kekurangan ekonomi tapi ia tak pernah kekurangan kasih sayang dari emaknya.
Tak lama, Mbak Rara datang membawa makanan. "Non cantik, makan dulu ya! Sini biar Embak suapin", ucapnya. Beruntung di rumah itu ada Mbak Rara yang selalu baik dengannya.
"Mbak, kenapa jadi orang dewasa sungguh rumit sih? Kenapa Papa dan Mama harus berpisah? Bukannya mereka bisa saling minta maaf?", tanyanya dengan polos.
"Mungkin Papa atau Mama sama-sama punya kesalahan yang nggak bisa dimaafkan satu sama lain Non Cantik".
"Tapi kenapa Papa selalu ngajarin Jessy untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain? Itu sangat tidak adil. Seharusnya orang tua memberi contoh yang baik", ucap Jessy dengan cerdasnya.
Membuat Mbak Rara heran dengan anak ini. Pemikirannya begitu kritis. Namun apa yang ia ucapkan ada benarnya.
"Sudah ya bicaranya. Sekarang ak dulu. Ayo buka mulutnya!", ucap Mbak Rara mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau terlalu jauh berbicara masalah Tuannya dengan Jessy. Yang ada ia akan kena damprat oleh kekasihnya.
__ADS_1
"O ya Mbak. Hari ini bibi pulang kampung. Tapi Papa nggak ijinkan Rara mengantar ke stasiun", ucapnya memberitahu kalau suster yang merawatnya sejak kecil resign.
"Padahal Jessy sudah janji mau kenalin dia sama Kak Jovan. Tapi Jessy nggak bisa tepatin janji".
"Siapa Kak Jovan Non Cantik?", tanya Mbak Rara.
"Dia teman Jessy satu-satunya yang tulus dengan Jessy Mbak. Anaknya sangat baik", ucap Jessy menyanjung Jovan di depan Mbak Rara.
"Kenapa tidak ajak dia saja main kesini Non?".
"Jessy takut dengan tante Mbak. Pasti dia nggak akan kasih izin", ucapnya mengingat yang berkuasa di rumah itu kekasih papanya.
Anak sekecil itu belum memahami bahwa rumah itu adalah hak Papanya. Yang ia tahu semua yang mengatur di rumah itu adalah dia yang saat ini menjadi kekasih papanya.
Lama bercerita dengan Mbak Rara. Sampai ia menghabiskan satu porsi makan siang. "Ini suapan terakhir Non, ak pinter", ucap Mbak Rara memberi suapan terakhir.
Panas semakin terik. Sudah hampir tiga jam Emak pergi meninggalkan Jovan sendiri di rumah. Ia kemudian mampir dulu membeli obat demam di apotik dekat jalan arah ke rumahnya.
"Bu, beli obat demamnya!", ucapnya pada petugas apotik.
"Sirup saja satu ya!", kemudian menanyakan harga dan membayarnya.
Memasuki gang rumahnya. Ia teringat kalau berasnya habis. Ia kemudian merogoh uang yang tersisa di kantongnya. Tinggal dua puluh ribu. Lebih baik untuk beli beras satu kilo sisanya telur seperempat. Jovan butuh gizi untuk cepat sehat.
Ia lalu mampir ke warung langganan yang dekat dengan rumahnya. "Beli apa Mak?", tanyanya. Hanya ini tetangga yang sedikit ramah dengannya. Hal itu semata-mata karena Emak sering membeli di tempatnya. Bisa dikatakan Emak pokok membeli kebutuhan sehari-hari di warung ini.
"Beras satu kilo sama telur seperempat!", jawab Emak".
"Sekilo aja Mak? Mau yang harga berapa?", tanyanya.
"Yang dua belas ribu. Yang enak!", jawab Emak.
"Tumben Mak. Biasanya yang harga sembilan ribu".
__ADS_1
Mak Silah hanya tersenyum. Ia sudah tak kaget dengan pertanyaan itu. Seakan menyindirnya atau entah membeli hanya sedikit. Tapi yang terpenting baginya ia bisa membeli tanpa berhutang. Walau pun hanya bisa membeli sedikit.
Setelah mendapatkan beras dan telur ia pun pulang dengan menenteng tas plastik di tangan kanannya. Membuka pintu rumah dan mendapati Jovan tertidur. Ia menghampiri anaknya dan memegang kening kepalanya. Bersyukur demamnya mulai reda.
Merasa ada yang menyentuh keningnya Jovan membuka matanya. "Mak..", ucapnya.
"Emak sudah pulang?", tanyanya kemudian.
"Iya Emak sudah pulang. Bagaimana keadaanmu?".
"Masih sedikit pusing Mak", jawabnya.
Lalu Emak pergi membuat telur dadar untuknya. Jovan berusaha untuk bangun. Namun ketika hendak berjalan ia terasa lemas dan pusing. Mak Silah kemudian menyuruhnya untuk duduk bersandar saja.
"Duduk saja? Mau kemana?".
"Mau membantu Emak", jawabnya.
"Emak tidak perlu bantuan Nak. Kaki Emak sudah sembuh, lihatlah!", memperlihatkan luka yang sudah mengering tanpa perban lagi.
Jovan merasa senang. Akhirnya Emak sudah bisa melakukan aktivitasnya lagi.
Lama bersandar. Terasa jenuh bagiku. Aku hanya membuka-buka buku dari tadi. Tanpa melakukan aktivitas selain itu. "Nak, telurnya sudah matang. Ayo makan siang lalu minum obat".
"Emak membeli obat untuk Jovan?".
"Iya biar cepat sembuh. Kamu juga harus makan yang banyak".
"Tapi Mak, Jovan sudah tidak apa-apa".
"Sudahlah. Ayo cepat makan. Jangan bertanya terus", ucap Emak. Ia tahu kalau Jovan memikirkan uangnya darimana.
"Iya Mak", kemudian aku mengambil piring dan bubur yang dibuat Emak tadi pagi. Dengan lauk telur dadar tadi pagi. Sungguh nikmat manakah yang Engkau dustakan?
__ADS_1
Memakan dengan lahab. Lalu berhenti ketika sudah merasa agak kenyang. Benar kata Emak aku harus segera sembuh. Biar aku bisa konsentrasi dengan ujianku. Dan juga bisa membantu Emak mencari uang lagi. Untuk kebutuhan kita sehari-hari.