
"Apa sudah dijemput Nak?", tanya Mak Silah.
"Supir Jessy menunggu di depan gang Mak", ucap Jovan memberi tahu.
"Ya ampun. Apa tidak kasihan? Kenapa tidak diajak ke rumah saja. Maaf Nak Jessy rumah Jovan tidak bisa dilalui kendaraan".
"Tidak apa Bu. Santai saja. Jo sampai bertemu besok pagi", ucapnya sambil melambaikan tangan.
Jovan dan emak mengantarnya hingga Jessy masuk ke mobilnya. Jovan terlihat membalas dengan lambaian tangan.
"Jo, Emak pamit. Kamu tidak usah mencari tutut. Belajar di rumah saja. Minggu depan ujian", pesan Mak Silah.
Jovan mengangguk dan kembali berjalan kaki ke rumahnya. Di sepanjang jalan ia terus memikirkan keputusannya menyetujui Emak bekerja di rumah Jessy.
Senang dalam hatinya karena Mak Silah mendapatkan pekerjaan tetap. Dan tidak harus bersusah payah panas-panasan lagi. Tapi ia hanya takut ini merepotkan Jessy.
Sesampainya di rumah Jessy. Seperti biasa pekerja ART di rumahnya memberikan pelayanan kepada Nona mudanya. "Bi, bibi tidak jadi berangkat hari ini kan? Soalnya pengganti bibi baru akan datang besok. Dan seperti janji Jessy kemarin akan Jessy kenalkan pada Jovan sekaligus ibunya", ucap Jessy.
"Iya Non. Apa ibunya juga akan kesini?", tanya bibi.
"Iya bi. Dia yang akan menggantikan bibi", jawab Jessy.
"Syukurlah Non. Semoga Non Jessy bisa cepat akrab ya Non!".
"Pasti bi. Jovan dan ibunya sangat baik dengan Jessy".
"Tapi apa Papa dan Mama Non Jessy sudah tahu?".
"Mama sudah tahu dan dia bilang terserah Jessy yang penting orangnya rajin. Kalau Papa...entahlah. Papa tidak pulang beberapa hari ini", ucapnya sedih.
"Lebih baik Non Jessy meneleponnya. Non Jessy pasti kangen kan dengan Papa?".
Jessy mengangguk. "Tapi bi, Papa selalu sibuk kalau Jessy telfon".
"Coba saja Non. Bibi sambungan ya!".
ART nya mengetikkan nomor telfon majikannya. Namun ia mendengar suara wanita yang mengangkatnya. Dengan segera ART tersebut menutup telfonnya.
__ADS_1
"Benar kan Bi, Papa sibuk?", tanya Jessy dengan polosnya.
"Eh, i...iya Non", jawab ART gugup lalu meletakkan gagang telfon.
Di sore harinya. Jovan mulai menghidupkan api di tungku. Tungku tanah yang harus di berikan minyak atau banyak kertas bekas agar mudah menghidupkannya.
Sepulang sekolah ia tidak pergi mencari tutut melainkan pergi mencari batang ranting kering untuk dijadikan kayu bakar.
Untungnya belakang rumah di seberang sungai adalah kebun kosong. Sehingga banyak ranting dan kayu-kayu yang berserakan terbawa arus banjir saat musim hujan.
Ia sibuk meniup-niup api yang enggan hidup. Ia harus memasak nasi sebelum Mak Silah pulang bekerja. Tidak hanya nasi tapi terkadang juga air hangat untuk emaknya mandi.
Sore ini ia memasak sayur asam dengan tempe goreng. Menu yang menurutnya spesial dari biasanya. Bahan-bahanya ia beli sepulang mencari ranting tadi. Kebetulan warung sayuran dan sembako dekat dengan rumahnya.
Tara....kini sayur asam dan tempe goreng telah siap. Tinggal menunggu Mak Silah pulang. Jovan memilih untuk mandi terlebih dulu.
Waktu perlahan terus bergerak. Mak Silah belum juga sampai di rumah. Biasanya jam setengah lima sore sudah tiba di rumah. Ini sudah jam lima tapi beliau belum datang juga. Kemana dirinya?
Jovan mondar mandir menunggu emaknya. Memikirkan kalau terjadi sesuatu dengan emaknya. Tak ingin menunggu lama ia langsung bergegas ke tempat emaknya bekerja.
Hingga seseorang datang menemuinya. "Nak, kamu anaknya bu Silah kan? Yang waktu itu datang kemari", tanya pak mandor yang menghampirinya.
"Benar Pak. Dimana Emak saya? Bukankah ini sudah jam pulang?", tanya Jovan ingin tahu.
"Lebih baik kamu segera ke rumah sakit M. Emakmu mengalami kecelakan tadi sore. Kakinya tertimpa batu bata ketika hendak menaikkan".
Deg. Jantung Jovan seakan melompat pergi. Satu-satunya keluarganya tinggallah emak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kondisi emaknya.
Tanpa berucap. Jovan kemudian berlari dengan kencangnya ke arah rumah sakit. Pak mandor berusaha untuk mengejarnya. Ia hendak mengantar Jovan dengan motornya karena merasa kasihan.
"Nak, berhenti biar saya antar", teriaknya kepada Jovan.
Jovan akhirnya berhenti sampai berlinang air mata. Sambil sesenggukan ia membonceng pak mandor.
"Jangan menangis. Emakmu pasti baik-baik saja. Beliau orang yang kuat dan tangguh", ucapnya.
Turun dari motor Jovan langsung menemui petugas jaga menanyakan di ruang mana emaknya di rawat. Pak mandor terus membuntut dari belakang. Hingga berhentilah di sebuah kamar.
__ADS_1
"Emak!", teriaknya setelah membuka pintu kamar rawat inap.
Terlihat Mak Silah terbaring dengan kaki kanannya di perban. "Nak, siapa yang memberitahumu?", tanyanya.
Jovan belum juga menjawab. Ia kembali menangis sambil memeluk emaknya. Namun Mak Silah langsung paham ketika melihat pak mandor si belakang Jovan. Pasti dialah yang memberitahu anaknya.
"Sudah jangan menangis! Emak tidak apa-apa".
"Bagaimana keadaannya Bu?", tanya pak mandor. Karena saat kejadian ia tak ada di lokasi. Dan yang mengantar Mak Silah pun anak buahnya. Karena panik Mak Silah sempat pingsan tadi.
"Sudah tidak apa-apa Pak. Terimakasih saya ucapkan atas bantuan anak buah Bapak".
"Tidak apa Bu tidak usah sungkan. Lagipula Ibu wanita sendiri disana sudah menjadi tugas kami melindungi dan menolong Ibu".
"Mak, Emak sudah boleh pulang kan?", tanya Jovan.
"Iya Emak boleh pulang tidak harus menginap disini", jawab Mak Silah membuat Jovan lega.
"Biar saya pesankan mobil untuk mengantar Ibu pulang. Soal biaya jangan dipikirkan. Karena Ibu kecelakaan dalam jam kerja. Ini menjadi tanggungan kami. Bos yang punya bangunan sudah menyampaikan kepada saya".
"Terimakasih sekali lagi Pak".
Tak lama mobil yang pak mandor pesan datang. Mak Silah dibantu perawat dan pak mandor masuk ke dalam mobil.
"Emak harus banyak istirahat. Jangan banyak bergerak dulu biar cepat pulih kakinya", ucap Jovan di dalam mobil.
"Lalu bagaimana dengan kerja di tempat teman kamu Nak? Emak tidak bisa menepati janjinya. Emak juga harus berterimakasih kepada bos tempat Emak bekerja ini".
"Emak jangan memikirkan pekerjaan dulu. Biar Jovan jelaskan pada Jessy besok".
"Makasih ya Nak. Maafin Emak karena belum bisa bayar tunggakan sekolahmu".
Membahas soal tunggakan uang sekolah. Besok adalah batas terakhir. Jovan kemudian mengingat akan hal itu. Darimana ia akan mendapatkan uang itu dalam sehari besok.
Memikirkannya saja sudah pusing. Tunggakan enam bulan tidak sedikit baginya. Mungkin baginya kalau di total bisa untuk beli beras berbulan-bulan.
"Nak, apapun yang terjadi nanti kamu harus tetap sekolah ya. Yang rajin belajarnya biar bisa dapat beasiswa", ucap Mak Silah yang juga menjadi doanya setiap hari.
__ADS_1