
"Lo Jessy kan ceweknya Bagas?", tanyanya basa-basi. Entah pura-pura tidak sengaja bertemu atau memang telah mengikuti Jessy, Andi segera membantu Jessy.
Tanpa rasa curiga Jessy mengangguk dan mengijinkan Andi mengecek mobilnya. Terlihat Andi tersenyum senang seperti mendapat kesempatan untuk bisa dekat dengan pujaan hatinya.
Semenjak bertemu di arena balap kemarin, Jessy berhasil mencuri perhatian seorang Andi. Andi boleh di bilang suka pada pandangan pertama. Dan sudah menjadi hal wajar, sesuatu yang di suka oleh Bagas, disukai juga oleh Andi.
"Mobil Lo jarang dipake ya?", tanyanya setelah mengecek mobil Jessy.
"Iya. Apa ada masalah yang berat?".
"Suhu mobil Lo sangat rendah. Hingga menyebabkan uap air di saluran pembuangan. Uap air itulah yang kemudian berubah jadi asap ketika suhu mesin mengalami kenaikan. Kondisi gini masih terbilang wajar kok, nggak perlu panik", jelas Andi yang sangat mengerti mesin mobil. Kemudian ia membersihkan tangannya. Setelah Jessy memberikannya tisu basah.
"Beneran nggak papa nih? Makasih ya. Maklum gue nggak tahu sama sekali mesin mobil", jujur Jessy.
"Lain kali minta sopir Lo buat panasin mobilnya tiap hari, gue cabut dulu ya. Bye", ucap Andi. Langsung berlaku pergi dengan motornya.
Jessy dan Amel kembali masuk ke mobil. Dan melajukan mobilnya kembali. "Siapa orang tadi Jess? Sepertinya dia sangat mengenal Lo banget", ucap Amel.
"Ya nggak kenal banget. Gue lagi ketemu dia satu kali. Itupun dikenalin sama Bagas. Dia itu temennya Bagas", jelasnya pada Amel.
"Kalau tebakan gue nggak salah. Dia kayaknya suka deh sama Lo Jess! Terlihat dari cara dia natap Lo!", selidik Amel yang udah kaya paranormal.
"Jangan ngaco deh. Dia temennya Bagas", jawab Jessy tak percaya ucapan Amel.
Jelas saja Amel curiga. Tatapan Andi kepada Jessy bukan tatapan biasa. Dan dia seperti sengaja muncul ketika Jessy sedang dalam masa sulit. Di tambah lagi ia tak menghiraukan Amel yang jelas-jelas berdiri di samping Jessy.
__ADS_1
Di rumah Bagas merasa kesal. Karena sedari tadi chatnya di abaikan oleh Jessy. Bahkan beberapa kali melakukan panggilan juga tidak dijawab oleh Jessy.
Kemana sih kamu yank? Memandangi ponselnya.
Hingga suatu chat datang dari Rangga. Ia bercerita Andi ke rumahnya dan bilang kalau baru saja membantu Jessy yang mobilnya tiba-tiba keluar asap.
Dengan murka, Bagas melacak keberadaan Jessy dengan ponselnya. Karena Bagas tahu alamat email yang digunakan Jessy untuk mendaftar Gps. Dengan cepat dapat menemukan titik lokasi Jessy berada lewat ponsel canggih itu.
Gila! Ngapain dia di mall? Dan bisa-bisanya nggak ngabarin gue dulu?
Ucapnya marah dengan membanting ponselnya di atas kasur. Karena kalau dibanting di lantai sayang, mending buat pembaca setia atau author. Iya nggak sih?✌✌😂
Bagas keluar dari rumah dengan memesan taksi lebih dulu. Sengaja tidak pergi dengan kendaraan pribadinya karena ingin satu mobil dengan Jessy nantinya.
Ia tidak tahu kalau Jessy perginya sama Amel. Yang ada dipikirannya kenapa Jessy pergi tanpa pamit dengannya?
Sementara Jessy sedang asyik menenteng belanjaan bersama Amel, tiba-tiba ia dikejutkan dengan seseorang yang menarik tangannya paksa.
"Bagas, apa-apaan ini sakit", pekiknya di tengah keramaian. Membuat ia merasa malu diperlakukan seperti itu di tempat umum.
"Pulang sekarang. Siapa yang ngijinin kamu kesini haa?", bentak Bagas yang terdengar lantang. Membuat Jessy tak percaya Bagas bisa semarah itu. Dengan statusnya yang hanya seorang pacar. Karena sampai detik ini hanya Bagas yang berani memperlakukan Jessy seperti ini.
"Lo siapa gue? Bahkan orang tua gue nggak berani bentak seperti ini? Lepasan gue. Gue mau sama Amel", teriaknya lebih keras.
Bagas tak peduli dengan teriakan Jessy. Dan orang-orang yang sudah melihat mereka berdua. Satpam yang datang memperingatkan Bagas, beringsut mundur karena Bagas menjelaskan ia hanya mendisiplinkan adiknya karena suruhan orang tuanya yang nggak ingin anak gadisnya keluyuran tanpa pamit. Dan satpam itu percaya saja.
__ADS_1
Ia dengan semakin leluasa membawa pergi Jessy dari mall. Masuk ke dalam mobil setelah berhasil mendapat kunci dari tas Jessy.
Amel menghempas tubuhnya ke atas sofa restoran yang sudah dipesannya berdua dengan Jessy. Rencana makan setelah berbelanja hanya tinggal ucapan. Kini dirinya harus duduk sendiri menikmati makannya tanpa Jessy.
Jessy, Lo baik-baik aja kan? Sorry gue nggak bisa bantu apa-apa.
Amel mengetikkan pesan pada sahabatnya di sela-sela makan. Sedangkan Jessy di dalam mobil hanya melirik ponselnya yang bergetar.
Bagas yang paham langsung merebut ponsel Jessy dari tangannya. Melihat siapa yang menghubungi Jessy membuatnya lega. Paling tidak kecurigaannya salah. Mengira Jessy pergi dengan cowok lain.
"Lo nggak bisa kaya giniin gue!", bentak Jessy membuat Bagas kaget. Jessy yang selalu manis menuruti apa pintanya, mulai membangkang dan melawan.
Bagas segera menghentikan mobilnya ke tempat yang dirasa tidak menganggu pengguna jalan lain. "Berani bentak gue dan panggil gue dengan sebutan Lo?", sahutnya dengan nada tinggi mencengkeram bahu Jessy membuat Jessy ketakutan.
"Lo pergi nggak ijin due dulu. Dan bisa-bisanya ketemu sama Andi!".
Jessy yang tadinya ketakutan berusaha melawan. "Lo cuma jadi kekasih gue udah berani ngatur-ngatur gue. Orang tua gue aja nggak pernah memperlakukan gue seperti ini. Gue nggak tahan sikap Lo. Gara-gara Lo yang terlalu over protektif itu!", Jessy meluapkan unek-uneknya. Ia memang nggak tahan lagi dengan sikap Bagas yang selalu mengaturnya.
Bukan membalas ucapan Jessy, Bagas malah menarik tengkuk Jessy dan berhasil mencium bibir Jessy paksa. "Gue bisa melakukan apa aja yang gue mau kalau Lo kebanyakan protes!", ancamnya setelah melepas ciumannya.
Plakk. Tamparan mendarat di pipinya. Bisa-bisanya orang tua Jessy menjodohkan dirinya dengan pria seperti ini. Baru jadi kekasih saka sudah begini apalagi nanti untuk hidup berumah tangga. Sungguh Jessy enggan walau hanya membayangkan saja.
Tidak peduli itu mobil siapa. Jessy keluar dari mobil dan menghentikan taksi yang kebetulan lewat dalam kondisi kosong. Berhasil kabur dari Bagas.
Ia menangis di dalam taksi. Membuat sopir taksi merasa simpati. "Kok nangis neng? Nanti cantiknya ilang lho", ucap pak sopir taksi bermaksud menghibur.
__ADS_1
"Biarin Pak. Paling nggak bikin saya lega. O ya berhenti di taman depan ya Pak!", menunjuk ke sebuah taman di pinggir jalan. Merupakan taman favorit Jessy ketika berlari di hari minggu. Karena taman ini hanya berjarak 300 meter dari rumahnya .