
Aku mengangguk tanda mengiyakan. Kintan nampak mengerti ada sesuatu di antara kita mengingat perkataan Bagas barusan. Yang begitu tak ingin anaknya dekat denganku.
"Papa Kessy adalah teman waktu SDku. Dan aku baru mengerti kalau Kessy adalah putrinya. Kalau aku tahu dari awal, mungkin aku tak akan pernah menyinggungnya kembali", jawabku menjelaskan kebingungan di raut wajah Kintan.
"Tapi mengapa seperti itu? Bukankah kamu hanya menjalankan peranmu sebagai dokter untuk selalu ramah kepada pasien?".
"Iya tapi dia dari dulu tak pernah menyukaiku", jelasku pendek.
"Apakah karena ada alasan lain Jo?", tanya Kintan lagi. Wanita ini kalau aku sudah memulai bercerita pasti akan bertanya banyak.
"Karena istrinya. Istrinya adalah wanita yang aku suka selama ini", jawabku jujur tak ingin menutupi lagi. Karena lambat laun Kintan juga bakalan tahu juga.
Kintan terkejut sambil menutup mulutnya. Wanita yang membuatnya penasaran selama bertahun-tahun karena berhasil membuat seorang Jovan cinta mati dan tak memilihnya. Sekarang ia tahu wanita itu siapa.
"Mungkin kamu sangat terkejut karena ternyata aku mengharapkan istri orang menjadi milikku".
"Tapi aku tak tahu kalau ternyata dia telah menikah. Karena setahuku dari mamanya sendiri waktu itu tidak pernah ada pesta pernikahan di antara kedua belah pihak keluarga", jelasku lagi.
"Apa mungkin mereka kecelakan Jo? Dan mamanya tidak tahu", pikir Kintan. Karena dengan hadirnya seorang putri cantik di sisi keduanya bisa jadi dugaannya benar.
"Aku tahu betul Jessy. Ia tak mungkin menutupi dari mamanya. Aku rasa ada hal lain yang mendorong dia untuk tidak jujur keadaan sebenarnya pada mamanya. Ada orang yang sengaja menekannya untuk tutup mulut".
"Apa kamu penasaran Jo? Cari tahu Jo! Aku tahu kamu masih sangat mencintainya. Ajaklah bertemu untuk memperjelas semuanya! Jangan menunda lagi", saran Kintan.
Aku tertegun mendengar saran darinya. Ia rela mengalah demi orang yang dia cinta bahagia. Sungguh wanita luar biasa.
"Ayolah. Bukankah sudah lama kamu meyukainya. Sekarang sudah di depan mata. Jangan menunggu dia pergi lagi. Nanti aku keburu berubah pikiran dan ngejar-ngejar kamu lagi Jo!", ucapnya sambil terkekeh berusaha membuatku menghilangkan rasa tak enak hati padanya. Padahal aku tahu Kintan menyembunyikan luka di dalam sana.
"Makasih Tan!", hanya ucapan terimakasih yang bisa aku jawab ke dia. Sambil menampilkan senyumanku.
"Cuma terimakasih doang? Kamu berhutang traktir aku Jo!", todongnya meminta lebih.
"Iya-iya. Buat ganti nasi padang tadi kan? Ha ha ha", mereka tertawa bersama di dalam mobil. Sampai akhirnya memasuki halaman rumah Jovan.
__ADS_1
Angin masih bertiup tenang. Panas sudah tidak menyengat seperti siang tadi.
"Assalamualaikum Mak!", ucap keduanya bersamaan. Seandainya mereka adalah sepasang kekasih sungguh pasangan yang serasi.
Emak keluar dari arah belakang dengan mata yang berbinar. Tidak bisa membohongi perasaan bahagianya. Bahkan kalau Tuhan mengijinkan Emak ingin mereka bersama menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dan partner kerja.
"Kintan? Ya ampun emak kangen banget. Kenapa seminggu ini tidak kesini?", ucap emak sambil memeluknya.
Mengabaikan aku yang hendak bersalaman. Kalau Kintan sudah ke rumahku, dalam sekejap emak seperti lupa siapa anak kandung yang sebenarnya. Tapi aku bisa maklum. Emak memang sejak lama menginginkan anak perempuan. Yang tak pernah ia dapatkan karena bapak sudah lebih dulu meninggalkan kami untuk selamanya.
"Mak, emak melupakan sesuatu. Nanti bisa-bisa dia tidak mengijinkanku lagi untuk kesini karena mengira aku telah merebut ibunya", ucap Kintan yang melihatku sempat mengulurkan tangan tadi.
Emak kemudian baru menoleh ke arahku. "Ah iya, lupa emak. Ada anak emak paling tampan di belakang", mengulurkan tangan untuk diciumku.
"Sudah, aku nggak papa. Tan, aku ke kamar dulu ya!", ucapku memastikan aku baik-baik saja.
Memilih masuk kamar membersihkan diri. Dan menghubungi Dodi untuk bertemu padanya sore ini.
Cafe modern. Terletak di seberang kampus kami dulu. Disitulah aku sekarang dari dua puluh menit yang lalu. Meninggalkan emak dan Kintan yang asik mengobrol dirumah. Menunggu Dodi yang tak kunjung datang. Entah kemana anak itu. Sudah bilang otw tapi tak sampai-sampai.
"Sorry, jemput Nyonya dari salon dulu. Udah pesen apa kamu?".
"Udah. Steak ayam sama lemon jus", jawabku memberi tahu.
"Ada apa tumben ngajak ketemuan disini?", tanya Dodi kemudian.
"Soal Jessy. Kemarin sempet ngobrol sebentar sama dia", ucapku langsung ke pokok yang mau dibicarakan.
Amel asik memainkan ponselnya. Jangan sampai anak itu merekam ucapanku. "Eits, tapi aman kan kalau aku cerita disini", sindirku sambil melirik Amel.
"Buset deh, jahat temenmu yank! Curiga melulu sama aku", keluh Amel yang merasa disindir. Karena sudah ketahuan selama ini ia selalu melaporkan keseharianku pada Jessy.
"Tenang, dia udah aku jinakkan. Nggak bakal lagi jadi mata-mata buat laporan ke Jessy".
__ADS_1
"Ih apaan sih? Dijinakkan emangnya aku berbahaya dulunya?", sewot Amel tak terima dengan ucapan Dodi.
"Bercanda Yank, ini cuma istilah aja", sambil mencoel hidung Amel. Takut kekasihnya marah beneran.
"Ehm-ehm...aku udah bisa lanjut curhatnya belum nih?", tanyaku memastikan. Melihat kedua pasangan ini memang tak pernah berubah dari dulu.
"Sok dilanjut. Terus gimana? Kalian ngobrolin apa?", tanya Dodi beruntun.
"Sabar, satu-satu nanyanya. Jawab juga perlu bernafas".
"Nggak penting sih. Cuma sekedar tanya kabar. Dia yang nyapa duluan", jawabku.
"Payah banget sih. Kamu nggak minta dia ketemuan kek atau apa?", Dodi seakan tak terima kita hanya saling sapa.
"Ya sabar. Lagian juga proses. Kita bicara juga ada di depan anaknya sama Kintan di ruangan itu", jelasku.
"Astaga, jadi bener Jessy dah punya anak sama Bagas?", tanya Dodi yang sudah seperti emak-emak kepo buat bahan gibah.
"Ya statusnya sih dia ibu dan anak. Cuma aku kok ragu itu anak beneran lahir dari rahim Jessy bukan?".
Sampai disini Amel baru angkat bicara. "Kalau kamu emang penasaran, tanya langsung ke Jessy Jo! Aku yakin dia mau menjelaskan terus terang sama kamu!", ucapnya seolah tahu segalanya.
"Kamu nggak ada niatan cerita sekarang Yank?", tanya Dodi yang juga sudah tahu. Kedua pasangan itu sudah kompak untuk tidak cerita sama Jovan sesuai permintaan Jessy pada Amel.
"Eh mana boleh. Kamu sendiri kan tahu aturannya Yank?", jawab Amel.
"Hemmm jadi kalian beneran tahu kisah mereka kaya gimana kan? Cuma nggak mau cerita ke aku?", tanyaku pada mereka.
"Ya kalau aku ngasih tahu kamu, itu sama aja aku hianatin kepercayaan Jessy. Lagian kamu nanti nggak ada usaha ketemu dia kalau udah tahu dari aku", jelas Amel.
"Iya Jo. Maaf ya. Kalau aku mah nurut aja apa kata calon istri", Dodi menimpali.
***Ketika seorang sahabat memberi kepercayaan pada kita, jangan pernah menyalahgunakan kepercayaan itu. Sekali aja kita berkhianat, selamanya dia nggak akan kasih kepercayaan lagi. (nie yha)
__ADS_1
Sampai disini paham? Kalau mencari sahabat setia itu sulit***.