
Jessy menyentil kening kepala Amel ketika hendak memasuki pintu kelas. "Nggak usah berucap keras-keras, dengan bicara Lo sedekat ini gue bisa denger!", titahnya.
"Dan nggak usah sebut-sebut level, bagi gue rasa suka itu bisa datang dengan siapapun itu orangnya", tegasnya sudah duduk di kursinya.
"Terserah deh. Susah emang kalau udah nemu orang yang rasa sukanya tingkat akut. Semua jadi gelap cara pandangnya. Karena di matanya cuma ada love-lovenya", ledek Amel. Ia tampak pasrah. Dengan terus berdebat dengan Jessy, sampai jam pulang sekolah pun nggak akan ada habisnya.
Jam pelajaran berlalu. Bunyi bel istirahat pertama terdengar sangat keras. Membuat semangat semua siswa yang menantikannya. Mereka berhambur menuju kantin seperti biasa. Menyisakan Dodi dan aku di dalam kelas. Dengan tumpukan buku tulis di atas meja.
Sebagai ketua kelas, sudah hal lumrah kalau aku disuruh mengumpulkan tugas-tugas dari semua siswa di kelas ini. Dan Dodi adalah partner setiaku yang selalu membantu.
"Bagaimana, apa sebaiknya kita bawa sekarang buku-buku ini?", tanya Dodi yang mendapat anggukan dariku. Karena tak ingin berlama-lama lagi. Bukankah tugas akan cepat selesai kalau segera di kerjakan bukan?
Buku segera ku bagi dua. Aku membawa sebagian begitu juga dengan Dodi. Baru saja kami hendak berdiri, suara pukulan ke arah pintu terdengar sangat keras di telinga. Menggema ke seluruh bagian ruangan kelas.
"Hei, apa yang telah Lo lakuin sama Bagas sampai dia frustasi seperti itu?", gertak salah satu anggota geng Bagas.
Aku menurunkan buku yang ku bawa. Kembali ke atas meja. Dodi masih setia di sampingku. Ia juga tak kalah kagetnya denganku saat itu.
"Aku tidak tahu maksudmu. Dan perlu kamu tahu, aku tak pernah membuat frustasi sahabat yang kamu maksud itu", jawabku tak membenarkan ucapan mereka.
"Jangan pikir kita tidak tahu! Bagas sudah bercerita pada kita Lo penyebab masalahnya!", bentak salah satu di antara mereka.
"Kalau sudah tahu, lalu kenapa masih bertanya?", jawabku lebih berani dari biasanya. Karena biasanya aku hanya diam saja tanpa meladeni mereka.
Tangis emak malam itu yang sedih karena selalu melihatku di tindas, membuatku berjanji untuk jadi laki-laki yang lebih tegas. Kalau aku hanya selalu diam, lalu bagaimana kelak aku bisa melindungi emak kalau sesuatu terjadi dengannya?
Sontak membuat Dodi menoleh padaku. Mungkin ia berpikir darimana aku mendapat keberanian seperti ini.
"Udah mulai berani Lo ya?", ucap seseorang yang hendak memukul wajahku. Namun lagi-lagi aku segera menepisnya dengan tanganku.
"Jangan macam-macam. Ini sekolah, kalau kalian tidak ingin masuk ruangan BP", tegasku lalu kembali membawa buku tadi dan segera pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
Terlihat orang tadi mengepalkan tangan hendak mengejarku. Namun lagi-lagi misinya berhasil karena tiba-tiba kepala sekolah melintas begitu saja bebarengan dengan langkah kakiku membawa buku ke kantor.
"Jo, kamu tadi sarapan apa? Sampai seberani itu dengan mereka?", tanya Dodi.
"Nasi goreng buatan Emak. O ya tadi kubawa satu untukmu. Kita makan setelah ini", jawabku polos. Yang masih menanggalkan tanda tanya bagi Dodi. Bukankah laki-laki itu biasanya bak paranormal yang pintar menebak. Mengapa hari ini seperti orang oon saja.
Di sudut kantin. Duduklah dua orang gadis yang masih asyik bercerita sambil menikmati bakso kuah mereka.
"Jadi Bagas nggak masuk lagi Jess?", tanya Amel.
Jessy mengangguk. "Biarkan saja, aku bisa merasakan kebebasan tanpa dia".
"Tapi Jess, mau sampai kapan Lo akan terus mengabaikannya? Bisa-bisa bokap Lo datang ke Indonesia".
"Biarin aja Mel. Lagipula besok bokap gue datang!", jawab Jessy santai yang telah mengetahui kepulangan papanya.
"Serius Lo Jess? Kok Lo bisa sesantai itu sih?".
"Gue bukan Jessy dua tahun yang lalu. Yang cengeng. Cepat atau lambat ini bakal terjadi. Jadi gue udah siapin ini jauh-jauh hari", keluhnya.
Amel segera memeluk sahabatnya. "Duh Jess, kalau ada apa-apa kasih tahu gue ya. Gue dan mama siap nampung keluhan Lo!".
Di airport.
London Heathrow adalah bandara utama yang melayani Kota London, Britania Raya dan merupakan bandara tersibuk di negara tersebut.
Seorang pria bersama asistennya telah memasuki pesawat yang akan di tumpanginya. Setelah beberapa waktu lalu menghubungi Siska istrinya.
Dengan sifatnya yang kekanak-kanakan tak mau ditinggal pergi suaminya, wanita itu masih saja merajuk.
"Apa kamu sudah menghubungi supir pribadiku di Indonesia untuk stand by di bandara jam setengah 8 pagi?", tanya Steve pada Marvel. Karena perjalanan di perkirakan memakan waktu kurang lebih 15 jam. Itu artinya akan tiba di Jakarta besok pagi.
__ADS_1
"Sudah Tuan. Malah saya menyuruhnya untuk datang jam 7 pagi".
"Baguslah kalau begitu", ucap Steve penuh dengan anggukan. Ia selalu puas dengan hasil kerja dari bawahannya. Karena ia selalu juga menggaji mereka semua bukan kaleng-kaleng.
Malam ini.
Jessy masih menginap di rumah Amel. Entah mengapa berada di tengah-tengah keluarga Amel merasakan hangat dan penuh cinta.
Sedangkan Emak Silah yang di tugaskan menemani Bu Eva terpaksa harus di rumah besar itu sendiri. Karena Bu Eva mendadak harus pergi ke luar kota dan akan kembali besok pagi.
Apa semua orang kaya seperti ini. Selalu sibuk dengan pekerjaan mereka? Emak bermonolog sendiri.
Baginya lebih baik menjadi orang miskin tapi selalu di dampingi orang-orang terkasih daripada hidup bergelimang harta tapi keluarga berantakan.
Ingin rasanya emak menghubungi Jovan bertanya sedang apa. Namun diurungkannya karena teringat Jovan tak memiliki ponsel.
Akhirnya emak hanya melamun saja di kamarnya. Mau menyibukkan diri juga sudah tidak ada pekerjaan malam begini.
Sedangkan aku yang tengah di cemaskan emak, sedang asyik bermain gitar yang dibawa oleh Dodi.
Sepulang sekolah, Dodi ijin dengan ibunya akan menginap di rumahku. Tadinya, ia yang mengajakku ke rumahnya mendengar aku hanya di rumah sendiri malam ini.
Tapi aku beralasan belum mempersiapkan seragam sekolahku. Dan akan memakan waktu kalau harus bolak-balik pergi hanya untuk mengambil seragam. Karena rumah Dodi lebih dekat dari sekolah ketimbang rumahku.
"Do, kamu beneran nggak papa tidur hanya dengan alas begini?", tanyaku sekali lagi.
"Kan aku dah bilang. Aku nggak papa. Santai aja Jo", jawab Dodi. Bersyukur selalu mempunyai teman sepertinya.
"Ya sudah ayo kita tidur. Besok jangan sampai terlambat. Karena rumahmu lebih jauh daripada rumahku Jo", ucapnya lagi memecah rasa tidak enak dihatiku.
Akhirnya kita menarik sarung untuk selimut menutupi tubuh kita masing-masing. Dengan posisi masing-masing pula. Dodi menghadap ke kanan dan aku kekiri.
__ADS_1