SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 32 APA YANG KALIAN LAKUKAN DI RUMAHKU?


__ADS_3

Steve segera meraih putrinya. Memeluknya dengan kelembutan. Meski di dalam hatinya sedikit kesal dengan sikap putrinya yang bisa suka kepada Jovan.


"Jessy, Bagas punya masa depan yang sudah jelas. Sedangkan anak itu apa yang kamu harapkan dari dia?", ucap papanya.


Membuat Jessy ingin sekali balik membentak papanya. Tapi ia urungkan karena tidak pantas. Sungguh ia kecewa dengan papanya yang menganggap rendah orang lain hanya karena merasa kurang pantas.


Terdengar pintu di buka oleh seseorang setelah mengetuk pintu terlebih dulu. Masuklah Bagas yang mendapati Jessy berada di pelukan papanya.


"Sore Om", sapanya penuh hangat. Baru kali ini ia mau keluar rumah setelah mendengar kabar disuruh menjemput Jessy. Tadinya ia akan tetap mengurung diri kalau Jessy belum juga memaafkannya.


Steve mengangguk. "Duduklah!".


"Sayang, dengarkan Papa! Nanti Papa harus kembali ke London. Sekarang pulanglah dengan Bagas. Dan papa akan selalu mengawasimu, jadi kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan".


Membuat Bagas tersenyum seperti mendapat dukungan penuh dari calon mertuanya. "Kenapa secepat ini Papa kembali? Dan apa papa mengusirku?", tanya Jessy.


"Papa tidak mengusirmu. Papa hanya minta kamu selesaikan masalahmu dengan Bagas secepatnya!".


"Tapi Pa....?", ucapnya menggantung setelah papanya memberi kode untuk menurut dan memberi perintah Bagas untuk segera membawa pergi Jessy.


Di dalam mobil.


"Aku senang kita bisa bertemu lagi dan bisa satu mobil seperti biasanya", ucap Bagas senang. Lain halnya dengan Jessy yang merasa terpaksa.


"Jangan GR, kalau bukan karena papa dan kamu tukang ngadu itu, ini nggak bakal terjadi", Jessy melayangkan sebuah sindiran halus.


Namun bukan Bagas namanya kalau mudah tersinggung. Laki-laki itu malah seakan bangga dengan kekuasaan papanya dan dukungan dari papa Jessy. Semakin membuat Jessy membencinya.


"Jangan terlalu membenciku, karena biasanya orang yang terlalu membenci akan jadi cinta. Dan satu hal lagi, sampai kapanpun kita ditakdirkan bersama. Suka atau tidaknya kamu!", ucap Bagas penuh penekanan.


"Satu hal juga yang mesti kamu tahu. Kamu bukan Tuhan yang bisa menakdirkan jodohku. Dan kita tidak akan tahu, kedepannya seperti apa!", balas Jessy tak kalah sengit.

__ADS_1


"Sudahlah Jess, aku kangen sama kamu. Bagaimana kalau kita pergi makan dulu atau nonton?", ajaknya antusias namun di jawab Jessy dengan malas.


"Terserah kamu", tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bagas.


Di sebuah rumah. Rumah yang masih sama dari beberapa tahun lalu. Terlihat seorang wanita sedang mondar mandir seperti terlihat bingung.


Menunggu anaknya pulang dari mencari tutut. Dialah Mak Silah. Entah bagaimana ia akan mengawali percakapannya dengan anaknya nanti. Untuk memintanya menjauhi Jessy.


Dan apakah ia harus berterus terang tentang orang yang membantu biaya sekolahnya sampai saat ini? Sekuat apapun ia menyembunyikan toh akan ketahuan juga.


Lebih-lebih Jovan pasti akan tahu dari kepala sekolah di SDnya setelah kelulusan nanti sesuai janjinya.


Kret. Tak lama pintu terbuka dengan ucapan salam dari seseorang yang ia tunggu kedatangannya. Mak Silah yang sedikit gugup kaget bukan main.


"Maaf Mak, kalau sudah mengagetkan. Tumben Emak sudah pulang?".


"Ia, tadi Emak ijin pulang lebih dulu. Segera bersihkan badanmu. Dan mengapa masih saja ngeyel pergi mencari tutut?", ucap Emak.


Malam hari yang di tunggu pun tiba. Setelah aku selesai mengerjakan tugas sekolahku. Emak sengaja mengajakku untuk bicara berdua. Yang katanya sebuah pembicaraan yang serius.


Aku pun menyambut dengan antusias. Jarang sekali rasanya Emak menekankan kata serius di dalam kamusnya ketika hendak bicara atau menyampaikan sesuatu padaku.


Dengan duduk bersila sambil bersandar di dinding bambu, aku mulai mempersilahkan emak memulai apa yang hendak disampaikannya.


"Ada apa Mak? Tidak biasanya Emak gugup seperti ini?", tanyaku sedikit menggoda emak.


"Maaf Jo, selama ini Emak bohong padamu", kalimat pertama terucap. Membuatku ingin segera mengetahui kelanjutannya. Aku mendengarkan tanpa menyela.


"Emak sebenarnya tahu siapa orang yang membantu biaya sekolahmu. Dan emak juga yang meminta kepala sekolah merahasiakan ini dari kamu atas permintaan orang tersebut".


"Bos emak di tempat kerja yang dulu, dialah orang yang membantu kita selama ini. Dan ternyata dia adalah papa Non Jessy".

__ADS_1


"Dia memang tidak meminta kita membalas kebaikannya Nak, tapi alangkah baiknya kalau kita....".


"Maaf Mak, Jovan tahu tidak sopan menyela ucapan orang tua. Tapi Jovan sudah tahu kelanjutannya. Pasti dia meminta aku untuk menjauh dari anaknya", sahutku tanpa menyinggung perasaan emak.


"Jovan sadar Mak. Jovan siapa dia siapa. Memang tidak seharusnya Jovan menerima pertemanan dengan Jessy dulu. Karena bagi Jovan orang kaya akan seperti ini. Tapi Jovan tidak bisa membenci Jessy Mak", ucapku menunduk.


"Emak tidak menyalahkanmu Nak! Tapi Emak mohon jangan lagi dekat dengan Non Jessy. Kalau perlu emak juga akan berhenti bekerja di tempatnya", ucap emak. Membuatku tak tega. Itu artinya emak tidak punya perkerjaan dan harus mencari lagi.


Tapi kita orang miskin juga punya harga diri tinggi. Tidak akan bergantung pada mereka orang kaya yang hanya memandang rendah kami.


"Emak yakin?", tanyaku.


"Iya Emak yakin. Emak akan cari pekerjaan lain".


Aku segera memeluk emak. Dan aku akan membuktikan jika orang miskin sepertiku suatu saat nanti akan menjadi sukses.


Di bandara internasional London. Suasana pagi hari terasa begitu menusuk bertepatan dengan musim dingin saat ini. Dengan balutan jaket tebalnya, Steve segera kembali ke kediamannya.


Jadwal pulang yang seharusnya pagi ini baru dari Indonesia, telah diubahnya. Istrinya yang dari kemarin tidak menjawab telponnya membuat dirinya penasaran ingin melihat langsung apa yang sedang dikerjakan istrinya itu dengan mata kepalanya sendiri.


Langkah cepat dari pemilik postur tinggi tegap, sudah sampai di depan pintu masuk rumahnya. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan yang terlihat dari luar.


Namun berbeda ketika ia sudah masuk ke dalam rumah. Mencium bau-bau tidak menyenangkan di dalam rumahnya. Dengan temuan beberapa botol berserakan di ruang tamu membuatnya tambah penasaran.


Langkahnya tidak berhenti begitu saja. Ia segera berpindah ke ruang tengah. Oh tidak, langkahnya terhenti mendengar desahan suara wanita yang sangat dikenalinya.


Steve masih menata hatinya. Ia mengintip di balik dinding apa yang sedang dikerjakan istrinya. Dan tidak, istrinya baru melakukan adegan panas di sofa bersama seorang pria yang sangat dikenalinya.


"Ah, ah...ayo ku mohon cepat!", ucapnya terus menerus.


Steve yang emosinya sudah tak terkontrol. Membanting vas bunga besar di sampingnya. Membuat pasangan yang sebentar lagi mencapai puncak kenikmatan harus berakhir dengan nelangsa.

__ADS_1


"Berani-beraninya kalian melakukan ini di rumahku?".


__ADS_2