
Pagi pun datang. Awal hari yang dinantikan emak dari semalam. Bagaimana tidak dinanti. Mulai hari ini emak bisa bekerja kembali. Meski hanya sebagai ART dirumah orang kaya. Tapi gajinya lebih baik daripada buruh bangunan serabutan.
"Mak, Jovan juga pamit ya. Mau ke sekolah. Mencari info pendaftaran", ucap Jovan yang sudah bersiap.
Emak mengangguk. Ia juga harus pergi ke rumah bos barunya. Beruntung emak karena disambut dengan baik. Teman-teman ART lainnya juga menerimanya dengan baik. Dan mau mengajarkan pada emak apa yang meski ia lakukan untuk memulai pekerjaan barunya.
Mereka juga saling bertanya nama satu sama lain. Dan bercerita status mereka. Dan hanya mak Silah yang menyandang status janda. Tapi teman-temannya tidak memperoloknya seperti para tetangganya.
Emak senang. Akhirnya kini ia memiliki teman. Hingga waktu istirahat di siang hari tiba. Seperti biasa mereka berkumpul di teras belakang dapur. Untuk makan siang.
"Kasihan ya Non Cantik. Sekarang dia harus ikut papanya dan tantenya yang menjadi mama barunya", ucap salah satu tukang kebun.
"Iya. Terakhir ketemu, si Non terlihat murung. Pasti ia sangat sedih pisah dari mamanya", sahut seorang ART.
Emak masih terus menyimak percakapan mereka. Setelah mendengar cukup lama ia memberanikan diri untuk bertanya. "Memangnya Nyonya punya anak berapa?", tanyanya untuk menghilangkan rasa penasarannya. Apa yang mereka maksud sedari tadi adalah Jessy.
"Baru satu. Itupun kelas lima sekolah dasar. Kasihan kan Bu", jawab seorang ART.
"Apa namanya Non Jessy?", tanya Emak lagi.
"Lhah iya. Benar. Kok emak tahu namanya? Apa sebelumnya mengenal Non Cantik?".
"Dia anak yang baik. Satu sekolah dengan anak saya. Hanya saja anak saya kelas enam", jawab Emak. Rasa penasarannya terjawab.
Mereka terus membicarakan Jessy. Emak lagi-lagi hanya menyimak. Sehingga ia begitu mendapat informasi tentang keluarga baru ini. Pantas saja Jovan juga menyayangkan Jessy pergi. Karena orang-orang dirumahnya juga mengenalnya dengan anak yang baik dan banyak yang menyayanginya.
Sore hari pun tiba. Emak telah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Namun ia belum melihat majikannya dirumah sedari pagi. Tapi ia lantas tidak mencari tahu atau sekedar kepo urusan orang lain.
__ADS_1
Kalau pekerja lainnya menginap di rumah ini, berbeda dengan emak yang diizinkan bisa pulang. Semua ini karena permintaan dari Jessy. Ia tak ingin Jovan kesepian dirumah.
Untuk menghemat uang, emak pulang dan pergi dengan angkutan umum. Selebihnya berjalan kaki dari jalan raya menuju rumahnya. Ia tak ingin naik ojek karena lebih mahal daripada angkutan umum. Dan gajinya pasti akan habis hanya untuk naik ojek nantinya.
Emak membuka pintu. Sudah hampir maghrib tapi Jovan tidak ada di rumah. Pasti anak itu mencari tutut lagi ke sawah.
Emak mengambil minum untuknya. Kemudian pergi membuat lauk untuk makan malam mereka. Menu sederhana hanya tempe goreng dan tahu beserta sambal.
Tak lama Jovan membuka pintu. Membawa plastik di tangan kirinya. Lalu meletakkan di atas dipan. "Ini Mak, Jovan beli beras", ucapnya lalu pergi mandi.
Emak masih diam. Kemudian ia bersuara ketika Jovan sudah kembali dari mandi. "Kamu pasti pergi cari tutut lagi Nak?", tanya Emak. Karena hanya itu Jovan bisa mendapat uang untuk membeli beras.
"Iya Mak. Tadi banyak dapatnya".
"Kan Emak sudah bilang kamu fokus belajar saja Nak!".
"Baiklah. Sekarang mari kita makan. Emak sudah mandi di tempat majikan Emak".
"O ya Mak, apa emak tahu alasan kenapa Jessy pergi?".
"Makanlah dulu. Nanti emak akan cerita kepadamu!".
Mereka berdua makan. Sampai selesai barulah emak menceritakan pada Jovan.
Setelah membereskan semua piring kotor emak memenuhi janjinya. Mengajak Jovan duduk di sebelahnya. "Orang tua Jessy sudah resmi bercerai. Dan Jessy dipaksa pindah sekolah ikut papa dan mama barunya", ucap emak.
"Lalu apa itu berarti Jessy tidak akan kembali Mak?", tanyaku.
__ADS_1
"Ada kemungkinan Jessy kembali kesini menjenguk mamanya. Tapi tidak bisa dipastikan kapannya. Semua tergantung ijin dari papanya. Itu informasi yang emak dapatkan dari pekerja yang ada di rumahnya".
Jovan semakin bersedih. Menenggelamkan wajahnya di balik lututnya. Emak mengelus kepala Jovan dengan lembut. Memberikan nasihat untuknya.
Emak bisa mengerti rasa kehilangan yang dialami Jovan. Karena selama ini hanya Jessy yang peduli dengannya. Hanya Jessy yang mau sukarela menawarkan diri untuk menjadi sahabatnya. Dan itu tidak akan pernah ia dapatkan lagi dari orang lain.
Orang lain selalu menganggapnya beda derajat. Selalu melihatnya tak nampak. Tapi tidak bagi Jessy. Jessy menganggapnya nyata. Sebagai manusia lain pada umumnya.
"Istirahatlah, emak juga akan istirahat. Bukankah besok kamu pergi menyerahkan berkas ke SMP yang di rekomendasikan kepala sekolahmu bukan?", emak mengingatkan.
Pagi hari. Hari ini adalah hari Selasa. Tepat di tanggal 26 Juli aku menyerahkan berkas persyaratan ke sekolah baruku. Senang bukan main. Mungkin sulit dipercaya oleh orang lain bahwa orang sepertiku bisa di terima di sekolah elit.
Semua tak luput dari beasiswa. Ya, aku bisa melanjutkan sekolah di tempat ini karena beasiswa. Namun siapa orang yang telah sudi merekomendasikan aku masuk di sekolah kalangan atas ini?
Semua itu masih menjadi teka-teki. Apakah mereka orang yang sama yang juga membayar uang tunggakan sekolahku di SD? Aku pun tak tahu. Aku hanya bisa mengucap syukur berulang kali. Tuhan Maha Baik. Mengirimkan malaikat tak bersayapnya untuk menolongku.
Dua minggu berlalu. Waktu terasa begitu cepat karena semua berkat author. Hal yang konyol dan tak mungkin di dunia nyata pun menjadi ada berkat author. 😂😂😂😂
Hari ini tepat di hari Senin. Adalah hari pertama aku menginjakkan kaki di SMP. Masih terlihat jelas, tatapan mereka masih sama ketika menatapku di sekolah dasar. Meski telah berbeda orang.
Memandangku rendah. Bahkan aku harus bertemu dengan Bagas dan kawan-kawannya lagi di sekolah ini. Serasa tak akan pernah berakhir penderitaan yang ku alami.
Mereka masih menertawakanku. Terlebih mereka tahu aku bisa sekolah disitu berkat beasiswa rekomendasi dari seseorang. "Haha mana ada tengil kampungan bisa ada disini? Aku heran orang seperti apa yang membantunya bisa mendapat beasiswa?", ucap Bagas di depanku.
Tak bisa dipungkiri aku sangat merindukan Jessy. Selama ini dia yang menjadi penguatku. "Jessy, apa kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?", tanyaku selalu dalam hati.
Namun semua telah berlalu. Rasa rinduku hanya bisa ku simpan. Karena aku tak bisa harus dengan cara apa aku bisa menyampaikan.
__ADS_1