SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 44 AKHIRNYA BERTEMU


__ADS_3

Waktu semakin larut malam. Angin semakin kencang menembus kulit bagi pasangan yang baru kasmaran. Entah mengapa mereka lebih senang keluar dengan motor daripada menggunakan mobil. Dengan alasan ingin menikmati keindahan malam katanya. Ada-ada saja.


***


Suasana pagi masih sama seperti kemarin. Angin bertiup sangat tenang menyejukkan. Menu sarapan sudah tersaji di meja makan. Meski sudah hidup lebih baik, tapi Emak tak pernah mengijinkan aku memperkerjakan ART dirumah.


Emak lebih senang mengurus rumah dan diriku putra semata wayangnya ini sendiri. Mungkin karena sudah terbiasa dari aku kecil, kami hanya hidup berdua.


Emak sudah tidak bekerja di luar hanya untuk mengurus rumah dan diriku. Itu semua tak luput dari permintaanku yang menyuruhnya berhenti bekerja. Aku ingin Emak menikmati hidup di hari tuanya dari hasil jerih payahku.


Meski sempat menolak, berulang kali pula aku terus merengek. Hingga akhirnya emak mau berhenti bekerja dan pindah kesini. Terlalu berat bagi emak meninggalkan rumah kecil kami peninggalan bapak.


Rumah yang bertahun-tahun kami tempati. Rumah yang penuh kehangatan meski hidup dalam keterbatasan. Terlalu banyak kenangan disana, dan di sanalah tempat kami mengadu, tempat kami jatuh bangun hingga menjadi seperti sekarang.


"Mak, Jovan pamit ya", ucapku sambil meraih tangannya. Tangannya selalu hangat dan menenangkan.


"Hati-hati. O ya titip buat Kintan ya. Bekal makan siang", sambil menyerahkan kotak makan.


Aku menerimanya. Ini bukan yang pertama kali Emak membuatkan bekal untuk aku berikan pada Kintan. Aku takut menolak hanya akan menyakiti perasaan Emak. Emak sendiri juga sudah tahu seperti apa hubungan kami setelah beberapa saat lalu aku menjelaskan padanya.


Tapi bagi emak, Kintan tetap teristimewa. Dia berhasil mengambil hati Emak. Karena dialah wanita yang selalu ada untuk emak selain diriku. Dari keadaan kami yang dulu hingga sekarang Kintanlah orang lain yang paling peduli dengan Emak. Dengan kondisi kami saat itu.


"Jangan lupa kasihkan padanya ya", ucapnya penuh harap.


"Pasti Mak".


Dirumah sakit. Entah sepagi ini langkahku terasa berat. Mengingat kemarin Jessy dan Bagas ada di rumah sakit ini.


"Melamun lagi?", tanya Kintan dari balik koridor.


"Ah kamu", aku kaget sekaligus malu.


"Kaget ya? Pagi-pagi sudah melamun", ucap Kintan.

__ADS_1


"O ya berangkat dengan siapa? Bagaimana mobilmu?", aku mengalihkan pembahasan. Tidak ingin Kintan terlalu banyak bertanya soal keadaanku. Aku teringat mobilnya kemarin masuk bengkel.


"Masih di bengkel. Aku nebeng mobil Papa ke kantor", jelasnya.


"Syukurlah kalau di antar Papamu. O ya, ini titipan makan siang dari Emak".


"Wah, pas banget. Dari baunya aku tahu ini apa. Emak kok tahu sih aku pengen makan ini?", ucapnya riang sambil membayangkan makanan di dalamnya.


Capcay sayur bikinan emak. Itulah masakan emak yang selalu Kintan rindukan.


"Ya udah makan aja dulu sana! Daripada ngiler", ucapku sambil melihat berkas pasien di mejaku.


"Sedikit dulu makannya kayaknya nggak papa ya", ucapnya lalu pergi sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Setelah Kintan sudah menyelesaikan sarapannya, kami harus kembali memeriksa Kessy. Anak itu kemarin sudah membaik. Kemungkinan siang atau sore nanti bisa pulang.


"Dok, kenapa mematung disitu? Pasien sudah menunggu", ucap Kintan melihatku enggan masuk ke salah satu kamar vip.


Mengapa hari ini seperti ada beban di pikirannya? Lirih Kintan dalam hati.


Suara Kintan terdengar dua kali baru aku tersadar. Tanpa membuatnya curiga lebih lama aku akhirnya masuk.


"Hallo cantik selamat pagi. Om periksa lagi ya!", ucapku seperti biasa. Tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena aku tak sanggup bila nantinya bertatapan dengan dia.


"Pagi juga Om", jawabnya langsung duduk. Terlihat lebih bersemangat dan segar anak itu.


"Anak pinter nanti sudah boleh pulang ya", ucapku mengusap puncak kepalanya.


Tanpa ku sadari ada seseorang yang duduk di sofa ternyata fokus memperhatikanku sedari tadi masuk.


Aku menoleh ke arahnya dan mata kami bertemu. Tatapan dari seorang wanita yang selalu ku rindu dan nantikan.


"Om, aku kenalin sama Mama. Mama sini dong ini Om Dokter ganteng yang Kessy ceritain", celoteh anak itu membuyarkan pandanganku. Menarikku untuk fokus kembali padanya.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum. Pertemuan yang selalu ku nantikan tak ku sangka akan terwujud setelah dirinya memiliki anak. Sulit untuk diterima akal sehatku.


Dia mulai mendekat ke arah kami. "Jo, apa kabar?", ucapnya mengulurkan tangan.


"Mama udah kenal sama Om Dokter ganteng?", tanya Kessy penasaran. Matanya mengisyaratkan penuh harap tebakannya benar.


Jessy mengangguk mengiyakan. Aku membalas uluran tangan Jessy dengan rasa yang sudah kelewat canggung. "Baik, kamu sendiri bagaimana?", mungkin itulah pertanyaanku sebaliknya.


"Aku sangat baik seperti yang kamu lihat Jo", ucapnya dengan anggun.


"Wah pas sekali. Ternyata Mama sama Om Dokter saling mengenal", tepuk tangan dari Kessy. Anak itu gembira sekali menyambut kami.


"Selamat ya atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak tahu", entah mengapa aku tiba-tiba memberinya selamat.


Kintan hanya menyaksikan kami berbincang. "Dok, keluarga pasien kamar nomer lima ingin berkonsultasi dengan Anda dan sudah menunggu", Kintan mengingatkan. Aku tahu Kintan tidak sengaja memisahkan kami. Dia sangat profesional dalam bekerja. Hanya saja memang kami sebelumnya sudah membuat janji bertemu dengan keluarga pasien.


"Ah iya, maaf aku masih harus memeriksa pasien lain", tanpa menunggu jawaban dari Jessy aku pamit undur diri. Menyisakan raut wajah yang sulit ku tebak dari tatapannya.


"Jo...selamat bertugas", hanya itu yang terdengar ucapnya sebelum aku menutup pintu. Setengah menggantung seperti ingin menjelaskan padaku tapi apa? Aku tak tahu.


Aku tahu dia istri siapa. Rasanya aku tahu diri untuk tidak menyinggung Bagas. Aku tak ingin kejadian salah paham beberapa tahun lalu terulang lagi. Dan itu sangat tidak lucu. Meski ku akui aku memang menaruh hati pada Jessy. Syukurlah ini masih jam kerja. Aku bisa menghindarinya.


"Mama, bolehkah aku main ke rumah Om Dokter ganteng?", tanya Kessy penuh harap pada mamanya setelah aku pergi.


"Apa kamu tahu rumahnya sayang?", tanya Jessy ingin tahu sedekat apa Kessy dengan Jovan.


Kessy menggeleng. "Aku lupa bertanya alamatnya. Tapi bukankah Mama berteman sama Om Dokter? Pasti Mama tahu rumahnya", Kessy seakan tak putus asa mendapatkan alamatku.


"O ya, kalau Om Dokter kenal dengan Mama, apa dia juga kenal dengan Papa? Soalnya Kessy janji sama Om Dokter mau ngenalin Papa ke Om Dokter. Kalau mereka sudah saling mengenal Kessy kan nggak usah repot-repot lagi. Dan bukankah itu bagus Mama?", celoteh anak itu seakan membuat Jessy terdiam. Sungguh hubungan papanya dengan om dokternya itu tidak sedekat yang ia bayangkan.


Di saat aku berdoa siang dan malam dia adalah jodohku. Namun Tuhan menjawab doaku dengan mempertemukanku dengannya yang sudah berstatus istri orang. Sakit bukan? (nie yha)


Pernah enggak ngalamin kaya gitu? Sungguh Tuhan yang mengatur cerita kita dan kita hanya bisa menjalaninya. Semangat ya!!!

__ADS_1


__ADS_2