SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 52


__ADS_3

Pernyataan Kintan yang tak sengaja ia dengar di kantin tadi masih terngiang di kepala. Jovan memang pernah bicara ada wanita yang selama ini mencintainya. Apakah mungkin itu dia? Perawat yang selalu mendampingi Jovan bertugas setiap hari.


Jessy melihat memang keduanya terlihat dekat dan sangat akrab. Wanita itu bahkan rela membelikan makanan Jovan. Sungguh wanita yang perhatian menurut Jessy.


Jessy memikirkan ucapan Jovan yang akan memperjuangkannya. Dan sekarang Bagas sudah menyerah untuk menyerahkannya segera. Namun mengapa ia malah bimbang?


Mendengar ucapan Kintan tadi rasanya tak tega menyakiti wanita itu. Bertahun-tahun dialah yang mendampingi Jovan. Dialah yang selalu ada buat Jovan dalam susah senang. Sedangkan Jessy, hanyalah orang yang diam-diam mengagumi Jovan.


"Kamu mikirin apa?", tiba-tiba Bagas bertanya kenapa aku diam saja.


"Kalau kamu sudah siap, kita bisa atur jadwal penerbangan untuk temui Papa kamu. Soal Kessy sudah aku titipin ke Ibu", ucapnya. Rupanya laki-laki ini sudah yakin dengan keputusannya. Belum sempat aku menjawab, terdengar suara berat laki-laki menahan marah.


"Tidak perlu menemui Papa. Karena Papa yang akan menemui kalian seperti sekarang ini", ucapnya.


"Papa?", Jessy tahu cepat atau lambat memang inilah yang harus ia hadapi.


Kami bertiga sepakat keluar dari halaman rumah sakit. Dengan menaiki mobil jemputan Papa. Entah akan dibawa kemana, yang jelas suasana dalam mobil saat ini sedang mencekam tidak ada yang berani bertanya.


Papa tak lepas dari tatapan tajamnya. Namun juga fokus kepada ponselnya. Pasti Papa sangat sibuk sekali tapi dibela-belain menemui kami lebih dulu.


Baru kami tahu, oh ternyata ke kantor Papa Bagas. Kami turun dan segera menuju lantai paling atas ruangan papa Bagas.


Papa Bagas nampak menyambut kami dan tidak kaget dengan kedatangan Papa. Rupanya dua sahabat itu sudah saling. berkabar.

__ADS_1


"Steve, sebaiknya kamu yang memulai", ucap Papa Bagas membuka suara.


"Apa maksud kalian akan bercerai?", tanya Steve langsung ngegas. Kemarahannya sudah sampai ubun-ubun ditahan dari tadi.


"Kita tidak saling mencintai", jawaban mereka kompak.


"Omong kosong. Dari dulu papa tahu kalian tidak saling mencintai. Dan ini bukan suatu alasan lagi. Terutama kamu Jessy, papa tahu rencanamu", papanya langsung menuding Jessy.


Jessy kaget langsung mengangkat kepalanya. "Sampai kapan papa harus peringatkan? Jauhi dia. Dia pebinor dalam hubungan rumah tangga kalian. Makanya kalian mau bercerai. Dan kamu Bagas, jangan bodoh", papa Jessy seakan menghasut Bagas.


Bagas memang beneran telah menyerah mengejar cinta Jessy, bermaksud menceraikan karena memberi kesempatan masing-masing mencari kebahagiaan. Tapi ia juga tidak tahu kalau Jessy ternyata semudah itu bercerai dengannya dan akan menjalin hubungan dengan Jovan bahkan sudah direncanakan.


Papa Steve memang selalu punya mata-mata handal. Dan mungkin Jessy lupa. Atau bahkan ia memang sudah memulai genderang perang melawan papanya.


"Cukup Pa. Jovan bukan pebinor. Dari dulu hati Jessy memang sudah buat dia", sanggah Jessy.


"Jangan harap papa akan menarik kata-kata papa yang dulu. Bagi papa ia tetap tak sebanding dengan kita".


"Mengapa? Mengapa papa selalu mengukur dengan harta kekayaan? Apakah tak pantas orang seperti dia juga bahagia? Selama ini Jessy selalu nurut sama Papa. Bahkan kalau sekarang Jessy harus keluar dari dunia model Jessy rela. Biar Papa puas!".


"Bagus kalau kau mau keluar. Tapi ingat, jadilah ibu rumah tangga yang baik, istri yang baik dan ibu yang baik untuk Kessy. Bukan karena kau akan pergi meninggalkan mereka".


"Dia bukan anakku. Ini nggak adil. Kenapa Papa tega sama aku? Harus mengurus anak yang bukan darah dagingku. Harusnya papa suruh Bagas untuk cari ibu kandungnya Kessy!", Jessy terus melawan papanya.

__ADS_1


Plakkkk. Satu tamparan mendarat di pipinya. Papanya memang selalu tak terkalahkan.


"Pa, benar kata Jessy. Ini semua salah Bagas", Bagas berdiri melerai. Ia memegangi bahu Jessy yang tertunduk di lantai.


"Bagus kamu sekarang sudah membela dia?", Steve yang masih dikuasai emosi tidak bisa mengontrol dan hendak maju.


Papa Bagas buru-buru mencegahnya. "Steve, kendalikan emosimu. Duduk ayo", menarik paksa Steve untuk menjauhi keduanya.


"Tidak ada salahnya kita terima keputusan mereka untuk berpisah. Selama ini kita sudah berusaha dan selalu memaksakan kehendak kita. Kamu lihat sendiri Bagas saja sudah menyerah, itu tandanya rumah tangga mereka tidak dalam kondisi baik-baik saja. Biarkan mereka menentukan pilihannya", papa Bagas menasehati Steve.


"Arghhhhhh", Steve masih nampak emosi.


Bagas membawa Jessy ke kamar papanya untuk diobati. Papa Bagas menjadi leluasa menasehati Steve.


"Selama ini kamu tidak pernah memberi kebebasan pada Jessy. Ingat dulu waktu kasus perceraianmu dengan Eva, kamu selingkuh dan menikah dengan wanita ular itu. Betapa hancurnya perasaan dia di usianya saat itu".


"Kita memang telah sepakat menjodohkan mereka dari kecil. Tapi kamu lihat apa mereka bisa bahagia? Kita mencoba menyatukan mereka sudah bertahun-tahun Steve, tapi masalah terus masalah terus ujungnya. Ku harap kamu bisa bijak. Hargai mereka!", mengusap punggung sahabatnya.


"Akan aku pertimbangkan. Tapi aku tidak sudi jika Jessy harus bersama laki-laki itu".


"Laki-laki mana yang kamu maksud? Mengapa kamu begitu membencinya?", tanya Papa Bagas.


"Laki-laki yang dulu pernah ku biayai sekolahnya. Dan bagiku itu adalah aib. Dia bisa sukses karena bantuan orang lain. Apa yang Jessy harapkan dari dia?".

__ADS_1


"Steve, kamu orang yang berpendidikan tinggi, ku harap cara pandangmu tidak serendah itu. Bukan maksudku menyinggungmu. Karena aku juga bukan orang tua yang baik untuk Bagas. Tapi beri kesempatan anak itu".


"Entahlah. Jangan kau memaksaku untuk menerimanya", Steve berlalu pergi.


__ADS_2