SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 34 4 TAHUN BERLALU


__ADS_3

Emak sudah berdiri selama dua puluh menit di pinggir jalan. Tapi angkot atau bus yang biasa ditumpanginya penuh. Kalau sekali lagi lewat belum juga ada yang sedikit kosong, terpaksa ia harus mencari ojek atau bahkan berjalan kaki.


Andai saja ia memiliki kendaraan untuk pulang dan pergi atau ponsel untuk memanggil ojek online pastilah tidak sesusah ini. Tapi apalah dayanya. Gajinya ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sedikit menabung yang rencananya akan digunakan memperbaiki rumahnya nanti.


Beruntung angkot yang dinanti datang. Tersisa satu kursi kosong. Sehingga ia bisa bernafas lega. "Kok bawa tas segala Mak?", tanya sopir angkot yang sudah hafal dengan emak. Karena pulang dan pergi emak sering ikut dengan pak sopir yang ini.


"Iya Mang, saya sekalian bawa baju ganti saya".


"Lhoh memang emak sudah tidak akan kembali lagi?", tanyanya penasaran.


"Tidak Mang. Saya sudah pamit dengan majikan saya".


Mang sopir hanya bisa manggut-manggut. Tidak akan bertanya lagi karena pasti emak akan jadi pusat perhatian orang sekelilingnya.


Krettttt.


Bunyi pintu biasa terbuka. Jovan segera menyalami emak. Lalu membuatkan teh untuknya. Tanpa bertanya sudah pasti emaknya ini sangat lelah. Apalagi baru saja kehilangan pekerjaanya.


4 tahun berlalu. Semenjak emak pamit berhenti bekerja di rumah Jessy, Jovan menepati janjinya kepada Emak untuk tidak mendekati Jessy.


Sehingga ia lulus dari SMA dengan tenang. Karena administrasi sekolahnya juga lancar tanpa dipersulit papa Jessy.


Sejak saat itu juga Jessy berusaha menemuinya namun tetap nihil karena Jovan selalu menghindar. Bahkan alasan sebenarnya emak pamit berhenti bekerja belum juga diketahuinya.


Merasa dijauhi Jovan, Jessy memilih untuk kembali ikut papanya ke London. Sudah sejak lama papanya itu mengajaknya, setelah resmi bercerai dengan Siska. Tapi Jessy selalu menolak. Dan dengan alasan Jovan lah ia akhirnya mau.


Dan pastinya, Bagas ikut-ikutan pindah. Dengan kekuatan dua pendukungnya, ia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan sangat mudah.


"Jo, kamu harus makan. Jangan terlalu ngoyo seperti itu. Bener, itu sangat penting tapi jangan lupakan makanmmu!", nasihat Dodi padaku karena setiap hari melihatku sibuk dengan buku-bukuku.

__ADS_1


"Iya Do, kamu tenang saja. Makasih ya selalu dukung aku", menatap sekilas ke arah Dodi.


Dodi tak tega rasanya melihatku terus berjuang untuk mendapatkan beasiswa agar aku bisa melanjutkan kuliah.


Pov Jovan.


O, ya. Papa Jessy hanya membantu biaya sekolahku sampai SMA saja. Sesuai permohonan emak dulu yang bilang sampai SMA tidak apa-apa asal sudah bisa sekolah.


Untuk itu, memasuki bangku kuliah ini aku harus bersaing dengan orang-orang hebat di luar sana. Bukan hanya dalam lingkup satu kota tapi dari berbagai macam kota.


Orang tua Dodi yang baik hati sempat menawariku akan membantu biaya kuliahku. Tapi aku menolaknya. Bukan karena aku sok-sokan gak mau dibantu tapi justru aku akan membuktikan ke semuanya kalau aku masih mampu berjuang sendiri dengan usahaku.


Dan apa kabar dengan emakku?


Semenjak berhenti dari rumah Jessy. Emak bekerja di warung tetanggaku yang biasa kami mintai beras. Karena hanya dia yang mau menampung emak.


Tapi Emak tidak pernah mengeluhkan soal bayaran. Karena kami sudah pernah merasakan hidup lebih berat daripada ini. Bagi emak bisa makan setiap hari dan memberi uang saku kepadaku sudah sangat bersyukur.


Lalu kemana uang pesangon dan gaji terakhir dari bu Eva? Pastinya bu Eva kasih pesangon yang terbilang lumayan kan?


Uang pesangon dan gaji terakhir dari bu Eva, emak gunakan untuk membelikan aku motor. Ya walaupun motor second.


Sedangkan tabungan kami sudah dibuka dan digunakan untuk merenovasi atap rumah yang sering bocor. Memang tidak berubah sedemikian rupa. Tapi yang jelas bertambah nyaman dari sebelumnya.


Aku juga sudah memiliki ponsel. Itu semua tak luput dari sahabat baikku Dodi yang memberikan ponsel lamanya kepadaku. Karena mendadak negaraku terkena virus yang mengharuskan kami sekolah online di rumah. Mau tak mau harus memiliki ponsel.


Curhat colongan author. Semoga pandemi ini cepat berlalu ya man temanπŸ˜“πŸ˜“πŸ˜’.


Mungkin kalau suatu saat nanti ditanya siapa orang yang berjasa dalam hidupku, keluarga Dodi jelas masuk dalam daftar itu.

__ADS_1


"Jo, kamu beneran gak penasaran sama kabarnya Jessy sekarang?", tanya Dodi di sela-sela mengunyah keripik pisang buatan ibunya. Sore ini setelah menyelesaikan berkas-berkas untuk masuk ke perguruan tinggi, kami istirahat di rumah Dodi.


Aku membuang nafasku pelan. Mungkin dari sorot mataku bisa terlihat aku sangat merindukan gadis itu. Seperti apa ia sekarang? Belum menjawab pertanyaan Dodi, aku malah melamun.


"Hei, ditanya malah melamun", senggol Dodi pada lengan kiriku.


"Kenapa kamu gak coba tanya Amel sih Jo. Untuk tahu keadaannya. Atau bisa juga minta nomernya ke Amel", ucap Dodi yang tiba-tiba mengingat Amel. Karena selama SMA, Amel menjadi adik kelasnya kembali.


"Aku gak pede Do. Tiba-tiba dateng nemuin Amel cuma tanya soal Jessy. Lagipula sudah sangat lama, pasti Jessy juga sudah lupa denganku", jawabnya.


"Kamu ini payah Jo. Usaha Jo, usaha! Belum juga di coba. Lagian kamu bisa ajak temenmu ini", ucap Dodi sambil menaikkan kerah bajunya menampilkan wajah sok cool.


"Kenapa kamu yang jadi sangat antusias sih? Oh tidak, jangan-jangan temanku ini diam-diam suka sama Amel. Astaga mengapa aku baru menyadarinya", ucapku sambil mengusap wajah kasar.


Candaan yang sebenarnya aku tujukan untuk menggoda Dodi, ternyata malah dijawab serius olehnya.


"Iya Do, sejak dia masuk ke SMA kita, aku menaruh hati padanya. Sikapnya yang jutek dan sedikit manja serta bawel membuat aku ingin mengenalnya lebih dalam".


"Ya ampun Do, pantes sampai kamu bela-belain ikut anggota osis. Pasti karena Amel juga ikut ya? Secara kamu waktu SMP ditunjuk aja gak pernah mau", celetupku mengingat sedikit waktu SMP.


"Yah, kamu sibuk dengan belajarmu Jo, sampai nggak peka sama temenmu ini", Dodi menyindirku secara halus. Aku sungguh minta maaf dengannya bisa-bisanya aku tak pernah menyadari itu. Teman macam apa aku ini?


Kami cukup lama menghabiskan cemilan dengan saling bercerita. Sampai tak sadar waktu hampir maghrib. Dan akhirnya aku pamit pulang karena takut emak mencariku . Sekaligus ingin menenangkan diri menunggu hasil apakah aku diterima atau tidak sebagai penerima beasiswa.


"Lho, maghrib-maghrib kok mau pulang? Gak nginep disini saja. Besok kan ke kampus lagi sama Dodi?", tanya ibu Dodi.


"Belum pamit emak Buk, kasihan kalau nyariin Jovan".


"O ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan".

__ADS_1


__ADS_2