SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 28 TATAPAN ITU...


__ADS_3

Pagi hari yang tenang. Kicauan burung mulai terdengar bersahutan. Sesekali bertengger di ranting pohon bersebelahan dengan tempat yang dipakai Jovan untuk menghabiskan malam panjang.


Entah apa itu namanya. Yang tak pantas kusebut kamar. Ruangan berukuran mini ini, cukup aku katakan sebagai tempat melepas lelahku di setiap malam.


Suara gesrekan spatula sudah bisa ku dengar. Dengan bau yang khas menusuk hidungku. Bau wangi yang sangat kukenali. Rupanya emak telah membuat nasi goreng pagi ini.


Aku segera bangun. Yang sebelumnya telah merapikan selimut dan alas tidurku. Dari celah dinding bambu yang bolong, aku bisa melihat emak sedang bergelut dengan penggorengan beserta peralatan memasak lainnya.


Aku bisa melihat dari balik punggungnya. Betapa dengan telaten emak membolak balik nasi dengan spatula di tangannya. Keahlian memasaknya memang tidak bisa diragukan lagi. Meski hanya memasak menu sederhana sekalipun.


"Pagi Mak!", sapaku. Yang hanya mendapat jawaban selamat pagi dengan senyum lebar di bibirnya tanpa menoleh ke arahku.


Emak masih berkonsentrasi sepenuhnya dengan apa yang dikerjakannya. Aku memilih berlalu untuk pergi mengambil air.


"Ini untuk bekal nanti istirahat. Dan jangan lupa bungkus yang satunya kasihkan Nak Dodi", ucap emak di sela waktu kami sarapan. Tanpa ku tahu emak sudah menyiapkan bekal nasi goreng dua porsi di tasku.


"Terimakasih Mak!".


"O ya Jo, malam ini sepertinya emak tidak pulang ke rumah. Karena harus menemani Bu Eva di rumah. Pekerja lainnya pada ijin pulang kampung", ucap Emak. Tanpa aku bertanya kemana Jessy? Bukankah ia yang selalu menemani mamanya?


Di London.


Di sebuah perusahaan yang bergerak dan fokus dalam bidang perangkat lunak. Perusahaan yang lumayan antusias sebab mudah memberikan investasi bagi karyawannya dengan memberikan kesejahteraan yang baik.


Terlihat seseorang memakai setelan jas rapi tengah sibuk membaca berkas dari asistennya. Setelah mendapat apa yang bisa membuatnya puas, pria berjas itu tersenyum menyeringai.


"Vel, siapkan keberangkatanku ke Indonesia secepatnya!", perintahnya pada Marvel asistennya.


Dia adalah Steve. Papa dari gadis bernama Jessy. Dan Marvel adalah tangan kanannya sekaligus orang yang paling bisa di andalkan untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.

__ADS_1


"Baik Tuan, akan segera saya siapkan", jawab Marvel dan segera meninggalkan ruangan. Meninggalkan tuannya sendiri di dalamnya.


Ketika Marvel hendak membuka pintu, namun pintu lebih dulu di dorong seseorang dari luar. Membuat kepalanya harus terbentur pintu itu.


Ia meringis kesakitan. Namun enggan menunjukkan rasa sakitnya setelah tahu siapa pelaku di balik pintu. "Upss sorry Vel. Aku tak sengaja melakukannya!", ucapnya tanpa merasa bersalah dan berdalih mengatakan tidak sengaja.


Marvel hanya mendengus kesal tanpa bisa berbuat apa-apa. Mungkin hanya bisa mengeluarkan umpatan dalam hati. Ia tak bisa menyalahkan wanita yang sudah menjadi istri tuannya 2.5 tahun belakangan ini.


Siska yang kini tengah bergelayut manja di lengan suaminya. Tidak ada kata lelah memohon pada suaminya untuk ikut ke Indonesia.


Ia sama sekali tak ingin suaminya pergi menemui mantan istrinya seorang diri.


Ya, setelah Steve mendapat laporan beberapa hari yang lalu dari sahabatnya Axel. Tak pikir panjang segera mencari tahu sendiri tentang Jovan. Remaja yang berhasil membuat anak gadisnya sangat peduli dengannya dan mengabaikan Bagas. Seseorang yang di gadang sebagai calon menantunya kelak.


"Sayang, ayolah. Aku ikut ke Indonesia. Aku juga kangen dengan Jessy", bujuknya. Berharap dengan beralasan kangen putrinya pria itu akan mengajaknya.


Namun bukan Steve namanya kalau bisa mudah dibujuk begitu saja. Mengingat Siska membuatnya kecewa.


"Tapi, aku ingin sekali pergi denganmu!", pekiknya tak terima.


"No! Kamu harus fokus pada program kehamilanmu! Karena sampai sekarang janjimu untuk segera memberikanku keturunan belum juga kamu penuhi".


"Itu karena kamu begitu sibuk. Dan jarang punya waktu berdua denganku!", tuduhnya pada sang suami.


"Itu bukan alasan! Lagipula kita sudah memeriksakan. Dan dokter mengatakan aku baik-baik saja. Bukan pria mandul atau bahkan yang lainnya", tegasnya tak mau kalah.


Marvel yang mendengarkan di balik pintu bingung harus masuk ke ruangan atau tidak.


"Masuklah Vel! Aku tahu kau mendengarkan di balik pintu", ketusnya.

__ADS_1


Marvel lupa bahwa tuannya memasang cctv di semua sudut terlebih pintu masuk ruangannya. Dengan segera Marvel masuk dan menyerahkan sebuah tiket pesawat ke Indonesia yang akan terbang nanti jam 6 sore.


"Sayang, bahkan kamu sudah pesan tiket tanpa persetujuan dariku", teriaknya.


"Jangan berteriak di ruanganku. Aku mendengarnya. Sudah pulanglah. Aku sibuk harus menyelesaikan berkas ini sebelum pergi ke Indonesia!".


"Vel, antar Nyonya ke rumah!", perintahnya.


Marvel kemudian menggiring Nyonyanya untuk pulang sesuai perintah. "Ayo Nyonya, jangan sampai Tuan marah kepada saya karena Anda tidak menurut".


Dengan kaki yang sedikit di hentak-hentakkan ke lantai, Siska keluar dari ruangan dan segera memasuki lift untuk turun ke lantai dasar.


Meninggalkan kedua pasangan tadi, di perjalanan menuju sekolahnya Jovan berhenti dua kali. Tak biasanya ia melakukan ini.


Aku ini kenapa? Pusing tidak, tapi keringat dingin bercucuran. Dan dadaku seperti perih. Tapi entah apa yang akan terjadi.


Kemudian mengayuhkan sepeda kembali setelah bermonolog di dalam hati. "Hei Jo!", teriak Dodi dari beberapa meter.


"Kenapa bajumu basah seperti itu? Apa kamu baru saja jadi atlit sepeda?", canda Dodi pada sahabatnya yang masih terlihat berkeringat dingin itu.


"Aku tidak tahu. Keringat ini mengalir begitu saja. Membuat perasaanku tidak enak saja", jawabku.


"Ya sudah, minumlah dulu. Sebentar lagi kita akan sampai. Kalau tidak kuat jangan dipaksa", ucap Dodi sambil menyerahkan botol minum yang selalu tersedia di sepedanya.


"Terimakasih. Aku tidak papa. Ayo, nanti kita terlambat".


Beruntung ketika aku dan Dodi memasuki gerbang sekolah menuju parkir, bel berbunyi. Dari kejauhan Jessy terlihat menatapku. Membuat aku gugup bukan main. Tatapan itu seperti mengandung maksud lain. Tapi aku tak sepintar Dodi yang bisa membaca seseorang dari sorot mata.


Tatapan itu terputus. Ketika Amel berhasil menarik Jessy untuk segera pergi ke kelasnya. Amel yang melihat kemana arah mata Jessy menatap, geleng-geleng kepala sendiri.

__ADS_1


Ia masih tak percaya pengakuan sahabatnya pagi tadi yang mengatakan suka dengan Jovan. Orang yang statusnya berbeda 180derajat dengan dirinya. Dan memilih melawan papanya dengan mengabaikan Bagas yang sangat sempurna bagi Amel.


"Oh Tuhan, semoga sahabatku ini cepat sadar. Ia boleh menolak perjodohannya dengan Bagas, tapi masa ia suka sama orang yang levelnya dibawahnya", gerutu Amel yang sengaja keras biar Jessy mendengarnya.


__ADS_2