
Bagas pov.
Tidak ada kata sudah tak cinta lagi dengannya yang ada hanyalah terpaksa merelakan agar dia bisa mencari kebahagiaannya.
Sulit bagi diriku melepasnya begitu saja. Bertahun-tahun aku mempertahankannya jadi milikku. Bertahun-tahun aku menjaganya. Agar ia selalu berada di sisiku.
Sampai kejadian waktu itu aku tahu wanita yang ku cinta menyukai laki-laki lain. Dia adalah Jovan. Aku tak habis pikir ketika habis ku marahi dia bertemu laki-laki itu di taman. Nangis sesenggukan bersandar di bahu laki-laki itu.
Membuat aku naik pitam yang melihatnya. Bagaimana tidak, aku berusaha mencari dia kemana-mana tapi ku temukan dia di taman sedang berduaan.
Awal mula peristiwa itu, aku menjadi punya inisiatif pindah. Aku meminta bantuan papa Steve untuk membawa Jessy ke London. Dengan berbagai pilihan yang menyulitkan Jessy. Akhirnya mau tidak mau Jessy kembali ikut papanya. Hingga kami pun pindah sekolah kesana.
Alasanku tentu ingin membuatnya jauh dari Jovan. Tapi tidak ku sangka, ternyata bertahun-tahun pula tinggal di London tak membuat ia melupakan sosok Jovan. Ia malah begitu gencar mencari tahu segala aktivitas laki-laki itu lewat sahabatnya Amel.
Dan aku memergokinya saat tak sengaja layar ponselnya menampilkan berbagai macam foto laki-laki itu yang dikirim Amel.
Aku frustasi. Seakan segala usahaku selama ini sia-sia. Aku sering menyakiti tubuhku sendiri. Setiap malam mabuk-mabukkan ke club dan pulang saat pagi bahkan siang.
Menghabiskan waktu malamku dengan wanita panggilan. Yang sengaja ku booking untuk beberapa malam ke depan.
Aku masih takut penyakit. Aku sadar itu kalau berganti-ganti pasangan. Untuk itu seseorang mengenalkan aku pada wanita dengan wajah semi oriental. Dengan kulit putih.
Menurut pemilik club dia adalah permata di club itu. Orang yang menggunakan jasanya berani membayarnya dengan mahal. Dan ini kesempatanku karena beberapa malam ke depan dia mau bersamaku dan mengabaikan pelanggan lain.
__ADS_1
Tiap malam ku lalui hubungan intim dengannya. Aku melakukannya dengan suka sama suka. Mungkin karena bayangan wajah Jessy selalu menghias di depan mata. Dan aku berimajinasi melakukan itu dengan Jessy.
Entah sudah malam yang ke berapa. Dia datang terlambat dengan muka yang di tekuk. Tiba-tiba saja melemparkan sebuah tespek habis pakai. Dengan mata membelalak ku lihat garis dua disana. Ia mengaku hamil anakku.
Aku menolaknya mentah-mentah. Biar bagaimanapun dia seorang wanita panggilan. Darimana aku tahu itu adalah darah dagingku.
Tapi dia meyakinkanku. Dia bilang hanya aku yang berhubungan dengan dia tidak memakai pengaman sama sekali. Dan kita sudah melakukannya berulang-ulang.
Kalau aku tidak bertanggung jawab ia mengancam akan membeberkan di publik. Dan sudah pasti perusahaanku akan hancur.
Untuk itu aku mengajukan sebuah penawaran untuk mengakui anak yang dikandungya. Dengan membiayai kehamilannya dan membicarakan dengan baik-baik kepada kedua orang tuaku.
Namun ia menuntut untuk aku nikahi. Baiklah, akan aku pertimbangkan pikirku. Asal dia mau jadi istri kedua nantinya. Karena prioritas pertama tetap saja Jessy wanita yang ku cinta.
Sembilan bulan lebih dia mengandung sampai ia melahirkan aku selalu memberinya biaya. Bahkan tak sedikit. Apa yang dia mau selalu kuturuti. Meski tak jarang aku selalu mendapat amukan dari papa.
Terlebih orang yang ku hamili wanita malam. Menambah daftar kelam bagi rentetan permasalahan.
Tak ku sangka dan entah apa yang menjadi alasan dia pergi meninggalkanku dan bayinya. Tepat setelah 3 hari melahirkan dia meninggalkan bayinya di rumah sakit dengan membawa fasilitas yang aku berikan selama ini. Dasar wanita licik.
Kedua orang tuaku kalut. Bagaimana mungkin ada bayi berstatus anakku tanpa ibu. Bagaimana kalau publik sampai tahu.
Mereka berembuk dengan Papa Steve dan tiba-tiba papa Steve mengajukan aku dan Jessy menikah. Dengan iming-iming papa Steve akan menyetujui dan memberi kebebasan Jessy di dunia modelling sesuai impian dia selama ini.
__ADS_1
Itulah yang aku tahu. Entah ada perjanjian apalagi di dalamnya. Yang jelas aku dan Jessy bisa menikah. Meski hanya pernikahan siri sesuai permintaan Jessy karena tidak ingin di ketahui publik kalau dia sudah menikah. Sebagai model dia harus bisa menjaga statusnya agar tidak terbongkar di publik.
Selama kami menikah, Jessy selalu menolak aku tidur dengannya satu kamar. Sungguh sulit dibayangkan. Punya istri tapi tidak mau tidur sekamar. Akhirnya aku mengalah. Mungkin dia belum siap. Karena kami menikah juga tanpa sengaja.
Aku selalu sabar menunggu siapnya dia untuk menerima keberadaanku sebagai suami. Tapi ternyata sia-sia. Ia malah semakin sibuk di dunianya dan mengabaikan Kessy anakku.
Jessy tidak hanya tak mau menerimaku tapi juga menolak kehadiran Kessy anakku. Membuatku frustasi kembali.
Sampai akhirnya ia ada tawaran job di Indonesia. Dia bersikeras ingin kesana dan menerima tawaran itu. Lagi-lagi aku mengandalkan papa Steve. Dan akhirnya papa Steve mengijinkan asal aku dan Kessy juga ikut.
Awalnya berat bagi Jessy harus pergi denganku dan Kessy. Tapi ternyata keinginannya untuk bisa ke Indonesia lebih besar daripada harus mengingat pergi denganku.
Entah karena sudah lama tidak ke Indonesia atau memang karena ada hal lain. Ku lihat dia sangat bersemangat begitu diijinkan.
Mungkin karena pergantian cuaca, kondisi Kessy tiba-tiba drop dan dia harus dirawat. Maklum juga ini kali pertama Kessy pergi meninggalkan London dari pasca dilahirkan. Mama membawa Kessy ke salah satu rumah sakit ibu dan anak yang terkenal di Jakarta.
Tumben-tumbenan Jessy bisa meluangkan waktu menyusul ke rumah sakit itu begitu dapat kabar Kessy sakit. Biasanya ia tak peduli.
Dan tak ku sangka ternyata di rumah sakit itulah Jovan bekerja. Apa berarti Jessy tahu dia disini? Pantas saja dia seperti sengaja datang menemani Kessy yang sedang di rawat.
Oh Tuhan....aku mengira Jessy tulus ingin menemani Kessy. Tapi ternyata ia seperti sengaja menemui Jovan di rumah sakit itu.
Dan yang membuat aku jengkel, ternyata beberapa hari di rumah sakit itu menjadikan Kessy akrab dengan laki-laki itu. Dengan menyebut laki-laki itu dengan panggilan om dokter ganteng. Astaga....
__ADS_1
*Maaf, aku pernah egois memisahkan kalian berdua. Dua insan yang saling mengasihi. Bahkan aku selalu jahat pada Jovan. Menyebutnya tengil dan tak sebanding dengan keluarga kami.
Dan saat ini aku telah merelakan Jessy. Bila dia ingin mencari bahagianya yang sempat tertunda dan terhalang olehku*.