SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 20 RENCANA NEMBAK JESSY


__ADS_3

Pak sopir milik keluarga Bagas melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Jalanan terlihat macet karena bebarengan jam pulang kantor.


Melihat Jessy hanya diam saja seperti memikirkan sesuatu, Bagas meraih tangannya. "Hei, ada? Kamu bisa cerita denganku. Atau jangan-jangan kangen sama Om Steve ya?", Bagas mengira Jessy kangen dengan papanya.


Jessy kaget ketika Bagas meraih tangannya. Ia pun menarik tangannya dari genggaman Bagas. "Permisi dulu kek, main pegang-pegang", omelnya.


Bagas terkekeh. Sejak kapan memegang tangan Jessy harus minta ijin terlebih dulu. Biasanya juga selalu begitu. Bagas merasakan ada yang tidak beres dengan Jessy. Tiba-tiba ingatannya berputar akan sosok Jovan.


Kenapa Jessy tadi panik dan hendak berdiri ketika Jovan tersandung? Apa mereka dekat? Kenapa aku sampai tidak tahu? Ia berkecamuk dengan pikirannya sendiri.


"Mau langsung pulang atau ke rumah aku dulu?", tanyanya kemudian.


"Pulang aja. Aku capek. Kamu juga capek kan?".


"Aku sih capek iya. Tapi kalau suruh nemenin kamu, aku masih sanggup. Tante Eva belum pulang kan?".


"Iya Mama pulang malam", jawab Jessy dengan malas.


"Ya sudah kamu aku antar pulang dulu, selepas maghrib aku ke rumahmu!", ucap Bagas dan Jessy tidak bisa menolak. Tak ada alasan yang bisa ia gunakan. Toh rumah mereka dekat. Bagas akan tahu apapun yang dilakukan Jessy.


Tak terasa sudah sampai di depan gerbang rumah Jessy. Jessy pun turun. Pegawai di rumahnya segera membuka pintu. Bagas menurunkan kaca mobilnya dan mengucapkan salam.


"Sampai jumpa nanti ya!", ucap Bagas sambil melambaikan tangan.


Di dalam mobil ia nampak senyum-senyum. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengungkapkan perasaan sukanya pada Jessy. "Mas Bagas suka ya sama Mbak Jessy?", tanya pak sopir melihat anak majikannya senyum-senyum sendiri di dalam mobil.


"Bapak tahu aja. Kira-kira bawa apa ya Pak kalau buat nembak cewek?", meminta pendapat.


"Apa ya? Mbak Jessy sukanya apa? Mungkin bisa bawa kesukaannya. Lagian Mas, Mas kan udah pernah punya pacar sebelumnya", ucap Pak sopir.


"Ya elah, yang ini beda Pak. Sangat spesial", ungkapnya. Sambil turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.


"Anak jaman sekarang", ucap pak sopir sambil menggelengkan kepalanya.


Di rumah Jessy. Jessy berpapasan dengan Mak Silah yang hendak pulang. "Ibu mau pulang?", tanya Jessy.


"Iya Non. Ada apa Non?", tanya Mak Silah.

__ADS_1


Jessy meminta Mak Silah menunggu. Ia mengambil kotak p3k di rumahnya. Kebetulan memiliki stock lebih dari dua. "Ini bawa pulang ya Bu", sambil memberikan.


Mak Silah bingung sambil menerimanya. "Untuk apa Non?".


"Jovan tersandung tadi waktu basket. Berikan padanya", ucapnya.


"Walah, makasih ya Non", sambil membawa pergi kotak p3k.


Jessy hanya mengangguk. Ingin rasanya mengucapkan lebih dari itu. Tapi diurungkannya.


Mak Silah dalam hatinya senang. Nona cantik menaruh perhatian dan masih peduli dengan keluarganya. Meski dari sepulang dari London ia tak bicara apa-apa mengenai Jovan.


30 menit dilalui dengan naik angkot dan jalan kaki. Kini Mak Silah sudah menapakkan kaki di depan rumahnya. Membuka pintu rumah dan mengucap salam.


Jovan menyambut seperti biasa. Menyalami tangan kanan emak. "Sini emak bantu obati lukanya!", ucap emak membuat Jovan kaget darimana emaknya bisa tahu sebelum ia bertanya tentang lukanya.


"Lain kali hati-hati main basketnya", mengoleskan obat pada lukanya.


"Darimana emak tahu kalau Jovan terluka karena bermain basket?", tanyanya heran.


"Dari Non Jessy".


"Dia cuma nitip ini untuk emak bawa pulang. Dia bilang suruh obati lukamu".


"Hanya itu?", tanyanya lagi dengan nada kecewa.


"Ya emang harus ngomong opo meneh to Le?", ucap emak dengan bahasa jawa.


"Sudah untung dia itu perhatian dengan keluarga kita Nak. Jangan menaruh harapan besar kepadanya. Kita berbeda. Akan sakit jika kamu jatuh nanti", ucap emak kemudian. Jovan hanya terdiam.


Ia memahami ucapan emak. Kemudian mengingat selama pulang dari London Jessy belum menemuinya secara langsung. Bahkan ia tak berucap apa-apa.


Ingin rasanya Jovan bertanya kepadanya maksud kalung pemberiannya kala itu. Lagi-lagi harus ia urungkan. Karena di sekolah kemanapun Jessy pergi selalu ada Bagas menyertai. Rasanya kesempatan itu tidak akan ada lagi. Dia hanya bisa memendam rasa ingin tahunya.


"Mak, Jovan ke depan dulu", pamit Jovan pada emak kala malam datang.


Ia bawa kotak kalung pemberian Jessy. Ia pandangi kalung itu. Sesekali mengajaknya bicara. Seolah-olah itu adalah Jessy.

__ADS_1


"Ngomong ro sopo to Le?", tanya Emak kala mendengar Jovan berbicara.


"Ehm anu Mak. Jovan ngapalin dialog buat bahasa Indonesia besok", jawabnya berbohong.


Emak keluar dan hanya menatapnya penuh heran. "Yo wis ra sue-sue ndang mlebu omah!", tegasnya pada anaknya.


*****


Pagi hari di sekolah. Anak-anak mulai riuh dan gaduh di dalam kelas. Menunggu bel masuk dan guru menghampiri mereka untuk memulai pelajaran.


Mereka asyik bergerombol membentuk geng masing-masing. Sedangkan Jovan seperti biasa hanya dengan Dodi.


"Besok hari minggu. Mau ke rumahku nggak Jo? Rencana aku mau pergi mancing sama bokap", tawaran dari Dodi.


Sudah lama Jovan tidak pergi keluar sekedar refreshing melepas penat. Sekalinya pergi hanya mencari tutut di sawah. Tawaran Dodi menurutnya menarik.


"Ganggu kamu sama bokapmu nggak kalau aku ikut?", tanyanya. Ia sadar kalau itu waktu Dodi dengan ayahnya.


"Nggak kali. Bokap malah seneng kalau aku ajak temen. Banyak sekalipun nggak masalah. Kan malah seru", ucap Dodi meyakinkan.


"Oke besok jam sembilan ya!", ucap Jovan penuh semangat.


Obrolan mereka berhenti ketika guru bahasa Indonesia memasuki kelas. Kelas seketika berubah menjadi hening. Hanya terdengar seorang guru sedang berbicara memulai pelajaran dan menyampaikan materi dengan penuh semangat.


Kurang lebih lima jam berlalu. Bel istirahat pun tiba. Tepat pukul dua belas. Anak-anak berhamburan keluar kelas. Dan kantin adalah tempat tujuan terbanyak yang diminati.


"Jo mau makan apa", tanya Dodi. Mereka berjalan menuju kantin.


"Aku pengen mie kuah kayaknya enak panas-panas begini", jawabnya. Uang jajan yang pas-pasan juga membuatnya memilih makanan apa yang bisa ia beli. Sehemat mungkin tapi cukup membuatnya kenyang.


"Ya udah. Aku juga deh".


Sesampainya di kantin mereka mencari tempat duduk kosong. Ternyata hanya tersisa dua kursi berseberangan dengan tempat duduk Jessy dkk dan Bagas dkk.


Dengan terpaksa Dodi dan Jovan duduk disitu. Membuat Jovan senam jantung dibuatnya. Namun ia berusaha menyembunyikan. Agar tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.


Mereka tidak saling tegur sapa. Andaikata Bagas sendiri disana pasti sudah mengusir Jovan dan Dodi. Tapi karena ada Jessy, ia hanya diam. Dan terlihat tak mempermasalahkan keduanya duduk berdekatan dengan kelompoknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


NB: YANG NGGAK TAHU ARTINYA DALAM PERCAKAPAN BAHASA JAWA DI ATAS BOLEH BERTANYA PADA AUTHOR DI KOLOM KOMEN YA. SENGAJA TIDAK AUTHOR TRANSLATE KAYA SEBELUMNYA KARENA KESANNYA MALAH MEMENUHI TULISAN DAN NGGAK ENAK DIPANDANG. KAYA SEMRAWUT GITU...


__ADS_2