SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 23 MENDAPAT BERLIAN


__ADS_3

Sementara Rangga dan teman-temannya melanjutkan atraksi mereka, terlihat Andi yang tiba-tiba pergi diam-diam mengikuti kemana arah Bagas membawa pulang Jessy.


Rasa penasarannya begitu besar. Untuk itu rela menjadi mata-mata keduanya. Dari situ Andi mulai tahu rumah Jessy. Dan dari pengintaiannya pulalah ia menjadi tahu hubungan mereka sepertinya hambar. Karena dilihat dari sorot mata Jessy, wanita itu tak menyukai pria yang kini berstatus kekasihnya.


Nampak senyum menyeringai dari bibir Andi. Ia telah mampu mengorek kelemahan hubungan keduanya. Tak ingin diketahui oleh salah satu dari Bagas maupun Jessy, ia cepat-cepat berbalik arah dan kembali melajukan motor sportnya.


Ia tersenyum puas. Paling tidak apa yang menjadi keinginannya untuk diketahui sudah ia dapatkan. Namun sepertinya Rangga telah memberitahukan soal Andi pada Bagas.


Rangga berbeda dengan Andi yang ingin selalu bersaing dengan Bagas. Dirinya lebih memilih patuh terhadap peraturan Bagas. Yang di tanggalnya sebagai sahabat dekatnya.


Setelah di antar Bagas kembali ke rumah, Jessy pergi menemui Mak Silah. Yang saat ini masih berada di rumahnya. Terlihat Mak Silah sedang melipat baju ketika Jessy menghampirinya.


"Duh Non Jessy kenapa kemari? Tidak memanggil bibi saja kalau butuh sesuatu", ucapnya tidak enak, sambil merapikan tumpukan baju.


"Kenapa Ibu gugup seperti itu? Lagipula Jessy tidak membutuhkan sesuatu. Hanya saja ingin menanyakan kabar Jovan", jawabnya sambil duduk di sebelah Mak Silah.


"Jovan baik Non. Lukanya sudah sembuh. Malah hari ini pergi mancing sama temannya. O ya panggil bibi jangan Ibu!", Mak Silah menegaskan siapa dirinya di rumah itu.


Jessy menarik nafasnya panjang. Lalu membuang secara perlahan. "Memang ada pengaturan di rumah ini yang melarang Jessy memanggil Ibu atau Emak?".


"Ya nggak ada sih Non. Cuma bibi nggak enak saja sama yang lain lagipula kurang pantas Non", ucap Mak Silah.


"Emak tenang saja. Nanti kalau ada yang nggak terima bilang sama Jessy. Emak tidak perlu takut", ucapnya sambil memegang tangan Emak.


Terdengar klakson mobil dari arah luar. Mungkin mamanya Jessy sudah pulang dari arisan. "Ya sudah Jessy pamit ke depan ya Mak! Kalau pulang hati-hati", pesannya lalu berdiri.


"Eh sudah pulang Nak? Mana Bagas?", tanya mamanya melihat putri cantiknya sudah di rumah.

__ADS_1


"Bagas di rumahnya dong Mah! Emang mau dimana?", jawab Jessy sambil duduk di sofa ruang tengah.


"Aduh anak Mama kok sewot gitu sih jawabnya. Mama kan cuma tanya. Tadi kamu pergi sama dia", tegas mamanya.


"Males Mah. Ke tempat geng motor nggak jelas kaya gitu. Lagian panas banget disana", cerita singkat Jessy pada sang Mama.


"Lhoh namanya arena balap motor wajar dong panas. Itung-itung kan dukung hobby pacar sendiri", ujar mamanya sambil menggoda.


"Entah Mah. Jessy tidak suka sama Bagas. Bahkan Jessy nggak ada perasaan apa-apa sama dia ketika nerima dia sebagai pacar Jessy", keluhnya berterus terang. Sangat jarang dirinya punya waktu dengan mamanya. Apalagi sampai bercerita masalah pribadi dengan mamanya.


"Oke. Mama adalah mama kamu. Dan mama tahu bagaimana perasaanmu. Tapi mama juga nggak bisa berbuat banyak untuk nentang keinginan papamu sayang. Maafin Mama!", jelas sang mama sambil membelai rambut putrinya. Ada guratan kesedihan di keduanya.


"Tapi mama mau tanya satu hal sama kamu! Apa kamu suka dengan orang lain? Sehingga kamu tidak mencoba membuka hati untuk Bagas. Its oke. Ini terlalu dini pembahasan seperti ini. Tapi mama tahu kamu pasti paham".


"Iya Ma. Jessy suka sama orang lain. Tapi Jessy takut Ma! Hanya akan melukai dia kalau Jessy dengan dia".


Jessy hanya menggelengkan kepala. Ia juga tidak berani jujur siapa orang yang dia suka. Takut kalau mamanya tidak setuju begitu tahu siapa orangnya.


Belum sempat bertanya lebih jauh mamanya menerima panggilan telepon di ponselnya yang dari tadi berdering. Membuat beliau pergi meninggalkan Jessy kembali. Itulah keadaannya. Orang tuanya selalu sibuk dan pergi meninggalkannya demi pekerjaan.


Jessy masih duduk di sofa. Memainkan ponselnya. Di bukanya aplikasi pesan dan banyak sekali chat dari Bagas. Baru menjadi pacarnya beberapa hari saja ia sudah merasa jenuh. Bagaimana tidak?


Bagas terlalu over protektif terhadapnya. Yang suka melarang Jessy berkumpul dengan teman-temannya dan hanya mengijinkan pergi keluar dengannya saja.


Telpon Amel saja ah. Aku pengen lihat reaksi Bagas kalau aku nggak nurut sama dia. Ucapnya dalam hati lalu menghubungi Amel sahabat dekatnya.


Terdengar Amel sangat berantusias menerima ajakan Jessy yang mengajaknya pergi shopping. Terdengar tawa renyahnya di seberang sana.

__ADS_1


Meski Amel juga merupakan anak orang kaya. Tak jarang ia selalu meminta pajak pada Jessy. Dan Jessy selalu royal terhadapnya.


Tanpa menunggu lama dan tanpa mengirim pesan pamit kepada Bagas, Jessy keluar rumah mengendarai mobilnya. Ia pergi menjemput Amel ke rumahnya terlebih dulu sebelum pergi ke mall.


"Wah Lo nekat Jess pergi nggak ijin dulu sama Bagas!", ucap Amel setelah masuk ke dalam mobil Jessy.


"Siapa dia? Orang tua gue aja nggak pernah larang gue pergi kemana yang gue mau", ujarnya menjawab Amel.


"Tapi dia kan cowok Lo tahu!", Amel menegaskan.


"Cuma status. Lo kan tahu gue nggak ada perasaan apa-apa sama dia".


"Wah parah Lo Jess! Jangan nyia-nyiain cowok tajir sekelas Bagas".


"Ambil aja kalau Lo suka. Udah deh nggak usah bahas dia. Kita mau happy sekarang", tegas Jessy tak ingin Amel membahas Bagas terus-menerus.


"Oke siap bu bos!", jawab Amel tak ingin kehilangan jatahnya shopping.


Ia memilih bernyanyi di dalam mobil Jessy dan berhasil membuat Jessy tertawa. Sepanjang perjalanan sampai di lampu merah pun ia tidak punya rasa malu berteriak-teriak di dalam mobil Jessy.


Setelah lampu merah kembali menyala hijau keluar asap di bagian depan mobil Jessy. Sehingga membuatnya harus menepikan mobilnya dengan segera tanpa mengganggu pengendara jalan lain.


"Duh kenapa nih mobil gue? Apa karena denger suara Lo yang terlalu keras kali ya!", ucapnya setengah bercanda bercampur rasa panik karena tidak tahu menahu soal mesin sama sekali.


"Enak aja Lo ngomong. Lo sih kebiasaan nggak minta cek dulu mobilnya kalau mau pergi. Kan ni mobil jarang Lo pake Jess!", ucap Amel sebal.


Entah datang darimana. Di sengaja atau tidak. Cowok itu datang menghampiri Jessy. Seperti mendapat berlian saja. Dengan sukarela menawarkan bantuan kepada Jessy dan di terima Jessy dengan senang hati karena memang dirinya sangat memerlukan bantuan itu.

__ADS_1


__ADS_2