
Tiga surat lamaran berhasil ku selesaikan tepat jam sebelas malam. Ku letakkan pulpenku. Aku berbaring sambil meregangkan otot-otot yang sempat terasa kaku.
Hingga akhirnya aku tertidur karena merasa lelah.
"Yakin mau ngelamar kerja kamu Jo?", tanya Dodi ketika pagi ini aku sudah menghampirinya ke rumah dan menceritakan semua niatanku.
"Yakinlah. Meski aku mendapat beasiswa, tapi aku juga butuh beli ini itu. Terlebih laptop".
"Mending kamu coba di cafe Om Dodi saja Nak. Daripada harus berkeliling mencari sendiri. Pasti Om Dodi bisa bantu kamu. Iya nggak yah?", suara ibu Dodi dari dalam ketika hendak pergi bekerja. Ternyata beliau sempat mendengar percakapan kami.
"Iya, Dodi bisa antar kamu kesana. Nanti Bapak bantu bicara ke Om nya Dodi", ucap bapak Dodi.
Lagi-lagi keluarga ini membantuku. Fix. Kini aku tengah berada di cafe itu. Dan diterima bekerja disana sebagai bartender. Sebuah cafe nuansa klasik yang terlihat romantis bagi pasangan muda mudi yang mengunjunginya.
"Jadi bagaimana? Apa kamu menyukainya?", tanya om Dodi pemilik cafe. Yang tak lain adik dari bapaknya Dodi.
Aku mengangguk cepat. "Iya Pak, terimakasih sudah menerima Jovan bekerja disini", ucapku.
"Jangan panggil saya Pak. Panggil Om seperti Dodi memanggil saya".
"Baik Pak, eh Om".
"Thanks banget Do. Kamu selalu membantuku melewati masa sulitku", ucapku di tengah perjalanan kami pulang.
"Santai aja, kaya sama siapa aja. Bahkan aku sudah nganggep kamu itu saudaraku".
"Gimana? Apa kamu sudah hubungi Jessy?", tanya Dodi ketika kami sudah sampai di rumah Dodi setengah jam yang lalu. Seperti biasa bermain gitar di dalam kamar.
Aku menggeleng pelan. Membuat Dodi jengah. "Terus mau sampai kapan kamu mendem perasaan itu?".
"Gak tahu Do. Aku kok kaya kurang pede ya", jawabku.
"Jo, Jo kan nggak juga langsung nembak nyatain perasaan. Harus ada prosesnyalah. Minimal pendekatan dulu kaya aku".
__ADS_1
"Serius kamu udah pdkt sama Amel?", tanyaku berubah antusias membuat Dodi yang tadinya jengah jadi heran.
"Ditanya apa, komennya apa", ucap Dodi melempar bantal ke arahku. Dodi tahu aku menghindari pembahasan soal Jessy. Aku sendiri tak tahu denganku. Keinginan di dalam hati yang menggebu-nggebu terkalahkan dengan sikapku yang tak urung maju.
Malam hari. Aku akhirnya mengirim pesan lewat email kepada Jessy. Namun dengan akun baru yang sempat ku buat secara mendadak. Begitu pula dengan akun-akunku yang lain di sosmed.
Bukankah itu sangat pengecut? Aku yang kepo ini tapi tak berani menampakkan wujud asliku.
Cukup lama aku menunggu balasan hampir satu jam. Dan akhirnya aku mendapatkannya.
Ini siapa? Teman SMPku siapa? begitulah kiranya balasannya.
Oh Tuhan. Bahkan aku bilang padanya kalau aku ini teman SMPnya. Jelas Jessy bertanya-tanya. Coba kalau aku bilang kakak kelasnya. Apa Jessy akan langsung mengenali pemilik akun misterius ini?
Tak cukup sampai disini. Meninggalkan pesan balasan dari Jessy yang ku gantung tanpa kejelasan seperti kisah cintaku padamu. Ea ea.
Jangan pada serius bacanya. Ayo pada makan dulu😊🤗.
Aku beralih ke salah satu akun medsosnya. Beruntung akun Jessy tak di privat. Jadi aku bisa leluasa melihat wajah cantiknya melalui foto yang diunggahnya. Sekaligus tahu kesehariannya.
Yang membuat mataku terbelalak bukan fotonya saja. Tapi aku lebih kaget ke caption yang ditulisnya diunggahan itu.
Get well soon kesayangan mommy dan papi Bagas.
Duarrrrr.
Seperti tersambar petir di tengah lapangan bola. Sungguh hatiku bergemuruh. Sesak dada ini. Apakah Jessy sudah menikah dengan Bagas dan punya anak?
Mengingat Bagas juga tinggal disana. Dan tidak menutup kemungkinan mereka menikah muda meski masih bersekolah. Jelas kehidupan disana dan disini berbeda.
Aku menjambak rambutku kasar. Benar-benar merutuki kekalahanku. Yang kalah bertindak lebih cepat karena kalah harta pastinya.
"Sssttt. Apa dia benar-benar sudah menikah? Lalu mengapa Amel tidak bercerita tentang itu?", tiba-tiba aku mengingat Amel.
__ADS_1
Berulang kali aku berdialog dengan diriku sendiri. Memberi pertanyaan dan menjawab sendiri. Persis seperti orang gila. Gila karena cinta. Dan memendam perasaan yang belum tersampaikan itu ternyata lebih menyakitkan ketimbang udah jujur nyatain perasaan tapi ditolak. Upsss ✌ siapa hayo?
Dua minggu berlalu. Lupakan sejenak tentang teka-teki kehidupan Jessy. Selama dua minggu ini aku sibuk bekerja.
"Jo, pergilah ke kampus! Biar Boy menggantikan pekerjaanmu!", titah pemilik cafe.
"Iya Om", jawabku. Berbeda dengan reaksi Boy. Aku tahu temanku seprofesi itu tak menyukaiku.
Kalau ku baca dari sikapnya selama ini. Mungkin dia merasa iri. Karena pemilik cafe selalu memintanya menggantikan pekerjaanku. Karena tidak mau kuliahku ketinggalan.
Dari awal memang om Dodi menerimaku bekerja disana, murni untuk membantuku. Dan siapa yang peduli dengan keadaanku sebenarnya?
Mereka orang-orang yang telah lama bekerja dengan Omnya Dodi. Berbeda denganku yang belum ada satu bulan tapi telah di perlakukan dengan istimewa. Jelas saja mereka iri. Salah satunya Boy.
Meski berulang kali Om nya Dodi memperkenalkan aku kepada mereka sebagai keponakannya, tetap saja tatapan mereka mengintimidasi dan tidak bisa diajak kompromi.
Tapi ya sudahlah. Bukankah aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini? Tanpa banyak berpikir aku telah mengganti baju kerjaku dengan kemeja dan celana jeans layaknya penampilan anak kuliahan umumnya.
Dodi telah menungguku di depan. Sejak Om nya menyuruhku tadi.
"Lama banget sih? Tidur dulu ya! Cepetan keburu dosen kiler ngamuk kalau kita terlambat. Jangan harap bisa bebas dari hukumannya!", ucap Dodi mengingatkanku pada sosok dosen paling menyeramkan.
Akupun langsung menghidupkan starter motorku dan ngacir duluan mendahului Dodi.
"Parah nih anak! Ditungguin malah ninggalin", umpat Dodi sambil berteriak yang jelas aku sudah nggak mendengar. Cuma author tuh yang denger sambil nyengir.
Sesampainya di parkiran kampus. Dodi yang sudah turun dari motornya langsung memukul bahuku dengan tasnya. "Tahu gitu nggak aku samperin ke tempat kerja. Dasar temen nggak ada akhlak!", umpat Dodi padaku.
"Sorry, sorry....kan kamu yang bilang kalau sekarang kelas si dosen kiler. Ya aku nggak maulah sampai telat terus kita dihukum lagi", belaku.
"Terserah deh. Kalau takut telat, ngapain masih nyandar di motor gitu? Buruan ayo!", ajak Dodi tengah berlari. Aku pun baru nyadar kelas akan dimulai lima menit lagi.
Buggg. Karena terburu-buru aku menabrak seseorang hingga membuat buku-bukunya berantakan.
__ADS_1
"Eh maaf-maaf nggak sengaja!", ucapku sambil ikut memunguti buku yang berserakan.
Kami duduk dengan berhadapan. Hingga sebuah tangan berhasil menarik kuat kuping kananku. "Jo....ayo masuk kelas! Malah enak-enakan mesra-mesraan", ucap pria paruh baya sambil menatapku tajam. Dialah dosen kiler itu. Pak Bono.