SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 6 JESSY KE RUMAHKU


__ADS_3

Tes hafalan telah usai. Karena ini mata pelajaran yang terakhir guru pun mengakhiri. Aku telah membereskan semua buku ke dalam tasku.


Aku teringat Jessy ingin pergi ke rumahku. Apakah mungkin ia mau jalan kaki denganku sejauh itu? Ah tidak boleh. Kasian dia bisa sakit kakinya.


Jovan masih terus berpikir di dalam kelas. Namun tiba-tiba Jessy berdiri di depan pintu sambil memanggilnya. Ia dari tadi menunggu Jovan pulang. Dan baru menghampirinya ketika kelas sudah kosong.


"Apa kamu menungguku?", tanya Jovan.


"Iya. Memangnya menunggu siapa lagi. Kakak sudah janji denganku".


Jovan segera mengambil tasnya dan pergi keluar kelas. "Ehm apa sebaiknya dibatalkan saja. Rumahku jauh Jessy kamu akan kelelahan jalan denganku".


"Memangnya siapa yang ingin jalan kaki? Kita pergi naik mobil", ucap Jessy.


"Hah mobil?", tanya Jovan melongo.


"Iya Kak. Ayo ikut", menarik tangan Jovan. Hingga sampai di halaman sekolah. Dan ternyata mobil Jessy beserta sopirnya sudah menunggu disana.


Jovan tiba-tiba saja berhenti. Membuat Jessy juga ikut terhenti. "Kenapa Kak?", tanyanya.


"Apa kamu yakin ingin ke rumahku dengan naik mobil?".


"Iya Kak. Memangnya apa yang salah? Sudah ayo masuk. Jangan berpikir macam-macam", Jessy menarik tangan lagi melanjutkan berjalan menuju arah mobil.


Di perjalanan Jovan hanya diam. Ia belum memberi tahu emaknya kalau Jessy ikut pulang ke rumahnya. Sesekali ia bicara kalau ditanya kemana lagi arah jalannya.


Dua puluh menit berlalu. Hingga sampailah di depan gang sempit. "Maaf untuk sampai depan rumahku tidak bisa dilewati mobil", ucapnya.


"Tidak apa Kak. Ayo kita jalan kaki. Pak tunggu disini nggak papa kan?", tanya Jessy kepada sopirnya.


"Iya Non, saya cari tempat parkir saja. Non Jessy telfon saja kalau sudah mau pulang".


"Oke Pak", Jessy dan Jovan kemudian turun.


Banyak tetangga di sekitarnya yang memperhatikan Jessy ketika berjalan beriringan dengan Jovan. Pasalnya selama ini tidak ada yang mau berteman dengan Jovan. Termasuk anak-anak mereka.


Lalu mengapa hari ini Jovan bisa membawa pulang gadis cantik berkulit bersih?

__ADS_1


"Maaf Jess, mereka semua melihatmu".


"Tidak papa Kak. Jangan hiraukan mereka", Jessy paham maksud tatapan mereka semua.


Jovan menghentikan langkahnya ketika berada di depan gubuk miliknya. Membuat Jessy seakan tak percaya. Begitu memprihatinkan rumah yang ditinggali oleh Jovan.


"Ini rumah Kakak?".


Jovan hanya mengangguk. "Apa mau masuk?", tanyanya.


Berbalik Jessy yang mengangguk. Kemudian Jovan membuka pintu. Pintu yang terdengar sangat nyaring bunyinya ketika dibuka. "Duduklah", mempersilahkan duduk.


Jessy bingung harus duduk dimana. Karena tidak ada satupun kursi disitu. Ia menoleh ke sana kemari tapi tetap tidak melihat.


Jovan kembali dengan membawa minuman berisi air putih. "Duduklah disini", menunjuk tempat tidur yang biasa dipake Mak Silah.


"Ibu Kakak apa masih bekerja?".


"Sebentar lagi pulang untuk makan siang", jawabnya.


Jessy meneguk air yang di berikan Jovan. Meski masih duduk di bangku sekolah dasar tapi ia bisa memahami bagaimana menjadi seorang Jovan.


Tak pernah sekalipun mengeluh. Menunjukkan keputus-asaannya. Selalu tegar. Meski badai menerpa. Itulah mereka.


"Jess, mengapa engkau terlihat melamun?", tanya Jovan seketika melihat Jessy seperti memikirkan sesuatu. Bagaimana tidak kepikiran. Melihat kondisi seisi rumah Jovan. Yang sangat berbanding terbalik dengan kondisinya. Daritadi ia hanya bergumam.


"Tidak Kak. Hanya saja aku teringat orang tuaku", ucapnya berbohong. Tak ingin menyinggung perasaan Jovan.


Di tengah percakapan keduanya. Mak Silah membuka pintu sambil mengucap salam. Membuat keduanya menoleh bersamaan.


"Lhoh ada tamu rupanya. Anak manis siapa namamu?", tanya Mak Silah melihat Jessy. Jessy kemudian berdiri sambil mencium tangan Mak Silah.


"Jessy Bu!", ucapnya sopan.


"Maaf ya. Rumah Jovan berantakan. Apa sudah ijin ayah dan ibu Nak kalau main kesini?".


"Sudah kok Bu", ucap Jessy berbohong lagi. Ia tak mungkin menceritakan sebenarnya. Orang tuanya sibuk masing-masing dan tak akan sempat menanyainya kemana perginya setelah pulang sekolah. Bahkan jika Jessy pulang larut senja pun tak ada yang mencarinya.

__ADS_1


Mak Silah tengah sibuk membuka bungkusan makanan. Mengajak keduanya untuk makan. "Anak manis, pulang sekolah pasti lapar kan? Ayo makan dulu!".


"Tapi Bu, saya sudah jajan tadi di kantin", jawab Jessy. Bukan ia menolak tawaran Mak Silah tapi melihat makanan itu hanya dua porsi rasanya tak tega.


"Ayolah makan dulu. Apa karena tidak suka makanannya?".


"Tidak Mak. Bukan begitu. Suka kok", akhirnya Jessy mau makan bersama mereka.


Selepas makan mereka kembali berbincang. "Bu, maaf Jessy lancang. Apa Ibu mau kerja di rumah Jessy?", tanyanya.


"Maksud Nak Jessy?", Mak Silah masih belum mengerti.


"Maaf Bu. Jessy sudah tahu keseharian Ibu dari Kak Jovan. Apa sebaiknya Ibu bekerja di rumah saya saja?".


"Apa itu tidak merepotkan? Apa Nak Jessy sudah bilang sama kedua orang tua Nak Jessy?", Mak Silah memastikan Jessy menawarinya sungguh-sungguh.


"Tidak merepotkan Bu. Jessy malah senang kalau Ibu mau menerimanya. Lagipula ART di rumah Jessy yang satu pamit pulang ke kampung dan tidak kembali lagi".


"Jess, tapi....", ucap Jovan merasa tidak enak. Pasti Jessy membantunya karena tadi ia menolaknya akan membayar tunggakan administrasinya.


"Kak Jovan tidak usah merasa keberatan. Yang penting Ibu mau dan Ibu tidak harus berpanas-panasan lagi".


"Bagaimana Jo kalau Emak terima tawaran Nak Jessy?", tanya Emak pada Jovan. Biar bagaimanapun ia harus minta pendapat Jovan.


"Jovan ikut Emak saja. Jovan tahu memang bekerja sebagai buruh serabutan itu berat Mak. Jovan ingin yang terbaik buat Emak", ucap Jovan menyetujui Emak bekerja di rumah Jessy.


"Jadi tawaran Jessy diterima ini? Jessy senang sekali", memeluk sang Emak. Baru kali ini ia menemui kehangatan. Merasakan seperti memeluk seorang ibu sendiri.


Sayangnya ia tak mendapatkan itu di rumah. Mamanya terlalu sibuk walau hanya sekedar untuk memeluknya sesaat. Sungguh miris hidupnya.


"Sudah-sudah. Mengapa kamu yang senang seperti ini? Seharusnya Emak dan Jovan yang harus berterimakasih pada Nak Jessy".


Terlihat Jessy meneteskan air mata bahagia ketika memeluk Mak Silah tadi. Mak Silah hanya bisa menenangkan tanpa banyak bertanya apa yang sebenarnya yang dipikirkan Jessy.


Jovan yang bisa menebak apa yang membuat Jessy sedih langsung mengalihkan pembicaraan. Berusaha menghiburnya.


Setelah lewat beberapa menit. Jessy sudah kembali dengan wajah cerianya. Kemudian ia berpamitan. Karena merasa kasihan pada sopirnya yang menunggunya di pinggir jalan.

__ADS_1


Mak Silah sendiri juga harus kembali bekerja. Sekaligus akan berpamitan. Karena mungkin ini akan menjadi hari terakhirnya bekerja sebagai buruh bangunan.


__ADS_2