SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 38 KINTAN 2


__ADS_3

Deg.


Kata-kata itu seperti menembus jantung. Tajam tapi tak setajam silet.


Aku meletakkan pesanan Dodi. "Iya kamu benar Do! Aku nggak pernah bilang sama Kintan kalau hatiku sudah buat orang lain", aku tertunduk lemas.


Mendengar perkataanku timbul rasa kasihan padaku. Dodi menepuk bahuku pelan. "Cepat atau lambat, kamu harus menentukan pilihan. Akan terus mengejar Jessy, atau menerima Kintan yang sudah jelas mencintaimu!", ucapnya lalu pergi.


Jam sudah kulalui bekerja dengan baik. Meski konsentrasi sempat terganggu. Ku lihat Kintan masih setia menunggu. Aku sendiri heran, apakah ia tak dicari orang tuanya.


"Mau sampai jam berapa disini?", tanyaku penuh perhatian. Tapi hanya perhatian karena kepedulianku sebagai teman.


Kintan tersenyum padaku. "Mau makan diluar nggak?", tanyanya langsung.


"Aku makan dirumah saja. Ini sudah jam sembilan Kintan, lebih baik kamu pulang".


"Antar aku ya, kan kesininya bonceng motor kamu", pintanya. Ada saja cara dia untuk selalu berdekatan denganku. Dan nyatanya aku tidak bisa tegas.


Malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Aku selalu mengantar Kintan pulang. Kedua orang tuanya bahkan sangat hafal denganku. Dan ternyata itulah alasan mereka tidak pernah mencari Kintan. Karena ternyata Kintan selalu bilang pergi denganku yang bisa membuat kedua orang tuanya tenang.


"Tan, kalau seandainya aku nggak pernah bisa cinta sama kamu gimana?", tanyaku penuh keberanian di pertengahan jalan arah komplek rumahnya.


"Itu kan baru seandainya Jo. Aku nggak pengen ngebayangin yang nggak-nggak tentang kita. Aku hanya menikmati alur Jo, yang jelas saat ini kamu selalu bersamaku", entah jawaban apa itu. Itulah kalimat yang terlontar dari gadis itu.


Aku hanya bisa menghela nafas dan membuangnya sedikit kasar. "Aku bisa saja tiba-tiba pergi dari kamu Tan, sebelum itu terjadi. Lebih baik mulai dari sekarang kita tidak bersama-sama lagi", ucapku lagi dan kita telah sampai di halaman rumahnya.

__ADS_1


Kintan turun dari boncengan. Ia melepas helm yang dipakainya. "Terserah aja, yang jelas kemanapun kamu pergi aku akan cari kamu!", sungguh kekeraskepalaannya begitu terlihat.


"Eh Nak Jovan, nggak masuk dulu? Makasih ya udah anterin Kintan", ucap mama Kintan.


Dari awal ia begitu baik padaku. Mempercayakan begitu saja anak gadisnya bersamaku. Padahal jelas-jelas Kintan anak orang berada. Tapi mama Kintan tak pernah memandang statusku yang berbeda dengannya.


Ia bahkan malah sering menyemangati aku bekerja. Semangat ya Nak, anak laki memang harus mandiri dari sekarang. Itulah ucapan yang selalu ia katakan padaku.


"Huuuuh....capek sekali hari ini", aku melempar tubuhku ke atas karpet yang biasa aku pakai alas untuk tidur akhir-akhir ini.


"Gimana kerjanya? Ramai banget ya cafenya?", tanya Emak sambil membawakan teh hangat untukku.


"Tiap hari rame Mak. Ya alhamdulillah, siapa tahu gaji Jovan bisa naik Mak".


"Naik nggak naik tetep disyukuri Nak. Yang penting berkah. Kerja yang rajin dan jujur", ucap emak sambil berlalu ke dapur. Menyiapkan makan untukku.


Emak memang sudah mengenal baik Kintan. Karena Kintan sering ke rumahku di hari libur. Sikapnya yang ramah dan sopan terhadap orang tua meski dari kalangan orang berada membuat emak menyukainya.


Bahkan yang emak tahu aku memang kekasihnya Kintan. Emak tak pernah lagi menanyakan tentang Jessy. Mungkin juga emak beranggapan aku sudah bisa melupakan gadis itu. Gadis yang pertama kali sudah mencuri hatiku.


"Baik Mak. Tadi juga Jovan antar dia pulang", jelasku membuat emak manggut-manggut.


"Beruntung kamu dicintai gadis sebaik dia Jo, emak harap jangan pernah menyakiti hati anak sebaik itu", ucap emak menambah runtutan masalah rumit dihidupku.


Bagaimana kalau suatu saat nanti emak tahu kebenarannya? Bahwa aku selama ini hanya menganggap dia teman tidak lebih. Hati ini sudah terisi dan selamanya tak akan terganti.

__ADS_1


Segala kemungkinan yang aku khawatirkan saat ini pasti akan terjadi nanti. Dan saat ini aku belum juga memberikan tanda-tanda sebuah pilihan.


Mungkin benar kata Dodi, aku telah menggantung perasaan Kintan. Aku tidak bisa tegas dengan dia untuk mengatakan kata tidak dekat dengannya. Dan jujur pada dia kalau aku mencintai gadis lain.


"Kok malah bengong? Kamu juga suka sama dia kan Jo?", emak kembali bertanya karena melihatku diam saja.


"Iya Mak, tapi Jovan tidak akan memikirkan pasangan untuk saat ini. Perjalanan Jovan masih panjang Mak. Jovan masih harus mengejar mimpi biar bisa membahagiakan emak", mungkin itulah jawaban yang ku rasa bisa menghentikan emak bertanya lebih dalam soal Kintan.


Bersyukur emak mengerti perkataanku. Emak hanya tersenyum membelai kepalaku dan memberi semangat padaku agar bisa meraih mimpiku. Anggap saja emak barusan lupa pada janjiku dengannya dulu. Sehingga fokus pada pertanyaan melulu tentang kekasih.


Di sebuah teras rumah. Dodi sedang bersama kekasihnya. Ya, saat ini ia belum pulang dari rumah Amel dijam segini. Padahal siang tadi sudah berkencan lama dengan kekasihnya itu.


"Yank, Kintan sama Jovan beneran nggak ada apa-apa?", tanya Amel penasaran melihat kedekatan teman kekasihnya itu dengan lawan jenis bernama Kintan.


"Entahlah, bilangnya nggak ada apa-apa tapi sikap mereka kaya orang pacaran yank! Pulang bareng, udah gitu Kintan selalu nungguin Jovan kerja sampai jam pulang", keluh Dodi menceritakan. Lama-lama entah mengapa ia ikut kesal dengan temannya itu yang nggak bisa tegas kalau memang nggak ada apa-apa.


"Ya mungkin Jovan memang ada rasa juga Yank! Kamunya aja yang nggak tahu", ucap Amel menanggapi ucapan Dodi.


"Aku nggak percaya Jovan bisa ada rasa sama Kintan Yank. Aku tahu persis hatinya cuma buat Jessy. Ku rasa Jovannya aja yang nggak bisa ambil sikap tegas".


Amel nampak manggut-manggut. "Yank, kamu kok akhir-akhir ini jadi banyak kepoin hubungan mereka sih?", tanya Dodi.


"Atau jangan-jangan selama ini kamu jadi mata-mata Jessy ya? Berarti kamu tahu donk kebenaran hubungan Jessy sama Bagas yank", Dodi terlonjak setelah menyadari kecurigaan pada kekasihnya. Mengapa ia sampai lupa kalau Amel sahabat dekat Jessy selama ini. Betapa merasa bodohnya dia selama ini.


"Yank, ayo jawab. Kenapa malah cengar cengir? Iya kamu jadi mata-matanya Jessy?", tuduh Dodi sambil mengoyak lengan Amel.

__ADS_1


"Eh, ada apa ini? Udah malem Nak, bukannya tante ngusir kamu. Tapi pulang dulu gih nggak enak sama tetangga", mama Amel tiba-tiba keluar setelah mendengar keributan dari teras dan mengusir Dodi dengan cara halus. Memang ya, kalau remaja sedang di rundung kasmaran suka lupa waktu jika sudah berdua. Dunia hanya milik berdua.


Memendam perasaan sendirian itu menyakitkan. Segera mungkin ungkapkan, sebelum ada kata terlambat. (nie yha)


__ADS_2