SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 31 KENAPA HARUS BAGAS PILIHAN PAPA?


__ADS_3

Namun perkiraan Emak salah. Mengira Jovan bisa fokus dengan belajarnya dan tidak bertanya-tanya siapa orang yang membantunya. Justru Jovan sangat berantusias mencari tahu siapa dewa penolongnya selama ini.


Flash back on.


2 tahun yang lalu. Ketika masih bekerja sebagai kuli bangunan. Emak yang melamun di saat pekerja lainnya sedang makan siang, menjadi pusat perhatian mandor yang saat itu melihatnya.


"Ada apa Mak? Kenapa tidak makan?", tanyanya saat itu.


"Masih kenyang Pak".


"Ayolah Mak. Jangan dipikul sendiri kalau ada masalah. Siapa tahu saya bisa membantu", ucapnya lagi. Mengingat emak hanya seorang diri menjadi tulang punggung, pak mandor bisa menebak ada yang sedang dipikirkan emak.


Emak kemudian menceritakan apa yang mengganjal di pikirannya. "Tiga hari lagi anak saya menempuh ujian. Tapi mengalami kendala karena administrasi yang menunggak. Saya takut Pak, kalau ia tak mendapat kartu ujian dan tidak bisa mengikuti", keluhnya.


"Seharusnya beban seperti ini kami orang tua yang menanggungnya. Tapi karena saya hanya seorang diri dan hanya bekerja seperti ini, membuat ia ikut terlibat. Setiap hari harus mengumpulkan tutut. Saya tidak tega melihatnya".


"Kenapa emak baru cerita? Saya memang tidak bisa membantu tapi saya punya solusi untuk emak", jawab pak mandor.


Emak menyambut dengan mata berbinar mendengar ucapan yang terlontar dari pak mandor barusan. "Apa solusi dari sampean Pak?", tanya Emak dengan sedikit menggunakan bahasa jawa.


"Coba emak bertemu dengan bos Steve. Sampaikan keluhan emak. Yang saya tahu beliau sangat dermawan dan suka membantu sekolah untuk anak-anak kurang mampu", ulasnya panjang lebar.


"Tapi apa bos mau membantu saya?", tanya Emak kurang percaya diri.


"Coba saja Mak! Tapi biasanya ada syarat dari bos Steve. Beliau tidak suka namanya di publikasikan. Oleh karenanya beliau selalu menutup rapat dirinya agar orang lain tidak tahu pemberiannya".


Emak mulai mengerti. Maksud dari penjelasan pak mandor. Sore itu juga, emak diantar pak mandor menemui bosnya yang kebetulan saat itu berada di lokasi.


Dan benar seperti apa yang di bilang pak mandor. Tanpa dipersulit, emak mendapat bantuan. Disitu bosnya juga menjelaskan untuk tidak mempublikasikan dirinya sama seperti ia menolong yang lainnya. Entahlah alasannya.


Flashback off.


Sejak saat itu. Emak mengenal Steve sebagai bos paling baik. Rela memberi bantuan yang menurutnya hanya cuma-cuma. Tanpa berpikir panjang untuk ke depannya. Yang ia tahu Steve tulus menolongnya. Namun kenyataan berbanding terbalik untuk sekarang. Steve yang ia kenal tulus membantu, nyatanya kejam.

__ADS_1


"Apa kamu mendengar semua perkataaan saya?", tanya Steve yang melihat emak melamun.


Emak yang tiba-tiba tersadar mengangguk pelan. "Iya Pak. Saya mendengar".


"Baiklah. Ku harap kamu tidak mengecewakan saya. Dan lakukan apa yang saya minta sebelum saya bertindak lebih dari ini", ucapnya terakhir kali sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah Eva.


Emak yang masih terngiang perkataan mantan bosnya tadi berjalan ke belakang dengan langkah gontai. ART yang daritadi penasaran memberanikan diri bertanya pada emak.


"Ada apa Mak? Apakah sebelumnya mengenal Pak Steve?", tanyanya.


"Iya. Beliau mantan bosku di tempat kerjaku sebelumnya".


"Owalah Mak. Pantas saja beliau seperti sudah sangat dekat dengan emak", ucap ART tanpa menaruh curiga apa yang sebenarnya terjadi.


Siang hari. Marvel sengaja menunggu putri tuannya di depan gerbang sekolah. "Non Jessy?", ucap Marvel setelah melihat Jessy keluar dari gerbang.


Jessy sudah tidak kaget lagi dengan keberadaan Marvel di sekolah. Jelas untuk menjemputnya sesuai perintah papanya.


"Cepat kembali ke dalam mobil. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian teman-temanku", ucapnya pada Marvel.


Syukurlah, Non Jessy sangat patuh tanpa harus aku bertindak keras. Ucapnya dalam hati sambil mengamati Jessy dari kaca mobil.


"Ada apa melihatku seperti itu?", tanya Jessy.


"Tidak apa-apa Non. Non Jessy tambah cantik", ucapnya basa-basi.


Jessy hanya bisa mendengus. Sedangkan ponselnya di dalam tas terus saja berbunyi. Dengan segera ia mengambil. Ternyata Amel.


Ia baru menyadari kalau lupa tidak memberi tahu Amel bahwa dirinya akan dijemput suruhan papanya siang ini. Membuat Amel panik mencarinya. Pasalnya ia berangkat menaiki mobil Amel.


Jessy pun segera menjelaskan kepada Amel. Dan memintanya agar tidak khawatir.


Namun bukan Amel namanya yang hanya diam saja. Ia langsung menghubungi Eva mama Jessy.

__ADS_1


Di sebuah rumah.


Terlihat seorang sedang menunggu kedatangan putrinya. Ia sangat merindukan Jessy. Karena sampai saat ini hanyalah Jessy putrinya. Mengingat itu, ia teringat istrinya Siska yang sampai saat ini tidak menghubungi dirinya.


Berulang kali melakukan panggilan namun tak di angkat oleh sang pemiliknya. Kemana dia? Tak biasanya mengabaikan panggilanku . Dan biasanya juga dia yang berinisiatif menelepon. Ah sudahlah. Mungkin ia sedang sibuk perawatan atau shopping dengan teman sosialitanya. Urusan paling penting sekarang fokus pada Jessy.


Segera ia tepis pikiran-pikiran negatif yang sempat membuatnya curiga. "Papa, Jessy kangen", pekik gadis remaja yang tiba-tiba berhambur ke pelukan papanya.


"Sudah datang anak papa. Gimana sekolahnya?", tanya Steve membalas pelukan.


"Baik Pa. Papa apa kabar?".


"Beginilah kondisi papa. Papa sehat berkat doa putri papa ini", Steve mencubit hidung mancung putrinya. Semua tak lepas dari pandangan Marvel. Tuan terlihat sangat hangat kepada putrinya.


"Sayang, papa sudah hubungi Bagas untuk datang kesini. Dan pulanglah bersamanya nanti", tiba-tiba kalimat itu terucap.


"Jessy bisa pulang sama Om Marvel. Papa nggak perlu minta Bagas kesini", jawabnya. Ia sudah paham maksud papanya.


Steve mengedipkan sebelah matanya. Memberi isyarat kepada Marvel untuk menolaknya. "Maaf Non, tapi saya ada janji menjemput klien Tuan Steve dari Inggris".


Jessy hanya bisa menatap Marvel kesal. Marvel yang merasa ditatap segera menunduk.


"Jessy, papa minta jauhi Jovan!", membuat Jessy menoleh.


"Tapi Pa? Kenapa? Jovan tidak ada hubungannya dengan marahnya Jessy ke Bagas! Bagas memang bersalah. Dan itu bukan hanya karena dia sudah memukul Jovan saja".


"Jelas ada hubungannya Jessy! Papa tahu kamu membela anak itu dan mengabaikan Bagas".


Jessy terdiam. "Kenapa tidak menyangkal lagi? Benar kan apa yang papa bilang?".


"Jessy, tatap mata Papa! Jangan bilang kamu menyukai dia ketimbang Bagas! Jawab pertanyaan Papa!", suara Steve meninggi. Membuat Jessy menangis.


"Maaf sayang, bukan maksud Papa membentakmu. Papa hanya ingin kamu tidak mengabaikan Bagas hanya karena laki-laki lain".

__ADS_1


"Pa, kenapa Pa? Kenapa pilihan Papa hanya Bagas? Jessy tidak suka dengannya. Sampai kapanpun Pa", tangisnya mulai menggema.


__ADS_2