SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 42 DIA DI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Di sebuah kamar vip. Disitulah Kessy dirawat. Setelah dirinya dinyatakan positif. Hasil cek laborat kemarin menunjukkan dia terkena DBD dan harus menjalani rawat jalan karena menurunnya kadar trombosit.


"Papa, kenapa hanya datang sendiri kemana Mama?", celotehnya setelah berhasil membuat papanya panik dan segera datang untuk menemuinya.


"Mama masih ada pemotretan. Mungkin baru akan datang sore nanti. Kenapa? Kessy kangen sama mama ya?".


Kessy hanya mengangguk. Sambil cemberut. Di saat seperti ini ia ingin sekali ditunggui mamanya. Omanya hanya duduk di pojok memperhatikan interaksi papa dan anak itu.


"Ayolah. Kessy jangan marah sama Papa. Mama sibuk sekali. Kamu harus mengerti itu", jelas papanya kembali.


"Tapi Kessy pengen Mama yang temeni disini. Bukan Papa", ucapnya pada sang papa.


"Kenapa? Kessy nggak sayang lagi sama Papa?".


"No Papa. Bukan seperti itu maksud Kessy. Hanya saja Kessy pengen seperti yang lain. Ketika sakit ada mamanya yang selalu menemani. Selama ini Mama jarang ada buat Kessy, ia selalu sibuk dengan pekerjaan", ucap anak itu menjelaskan apa yang ia rasakan selama ini.


Papanya menoleh ke arah ibunya. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada Kessy. Ingin berkata jujur yang sebenarnya tapi waktunya belum tepat.


"Oke, Kessy sabar ya. Papa telpon Mama lagi untuk cepat datang kesini", mungkin hanya itulah kata yang bisa menenangkan Kessy saat ini. Kemudian beranjak ke luar kamar untuk menghubungi istrinya.


Ketika papanya sudah keluar dari kamar, entah kemana perginya. Jovan datang bersama Kintan untuk memeriksanya.


"Om Jovan cek dulu ya".


"Iya Om. Om...papa Kessy ada disini lho. Nanti Kessy akan kenalkan dengan Om".


"O ya? Dimana Papa kamu?", menoleh ke kanan dan kiri hanya ada seorang ibu yang kemarin.


"Papa baru saja keluar. Katanya mau telpon Mama biar Mama cepet datang kesini", jelasnya.


Jovan hanya tersenyum. "Kondisi Kessy sudah membaik daripada kemarin, makan yang banyak ya biar bisa cepet pulang".


"Tapi nanti kalau Kessy cepet pulang nggak bisa lagi ketemu Om ganteng dong!", keluhnya dengan sangat polos.

__ADS_1


"Nggak boleh gitu dong sayang, memangnya Kessy mau sakit terus? Kessy boleh main ke rumah Om kalau mau", hiburku pada anak itu.


"Serius Om nggak bohong? Kessy boleh ke rumah Om?", tanya anak itu memastikan dengan sangat antusias.


Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian pergi meninggalkan kamar untuk memeriksa pasien lain.


Ketika aku melangkahkan kaki menuju kamar lain, aku melihat seseorang yang sangat aku kenal. Meski tak bertemu beberapa tahun tapi tak akan membuatku lupa dengan wajahnya.


Wajah yang dengan bringasnya dulu memukuliku karena cemburu. Sosok itu tak mungkin pernah ku lupa hingga saat ini.


Namun ia terlihat acuh. Tatapannya dingin. Meski tak bisa ku pungkiri ia terlihat sangat dewasa dengan setelan jas seorang kantoran.


Tapi aku tak heran. Kalau melihat orang itu semakin sukses dan kaya raya. Karena memang dulu pun ia sudah berasal dari orang yang berada.


Untuk apa orang itu ada disini? Ah iya ini rumah sakit. Jelas setiap orang punya urusan masing-masing. Tapi siapa yang sakit? Itulah pertanyaanku kemudian.


Karena dia terlihat acuh begitu melewatiku, ku urungkan niatku menyapanya. Ku langkahkan kakiku kembali masuk ke kamar pasien.


"Papa darimana saja sih? Aku habis diperiksa Om dokter. Om dokternya ganteng kaya Papa", ucap Kessy begitu papanya sudah masuk kamar lagi.


"Kapan-kapan Papa aku kenalin ke Om Dokter ya Pa? Kessy sudah janji soalnya", rengek anak itu.


"Iya sayang, sekarang sambil nunggu Mama datang, Kessy makan lagi buburnya ya. Biar cepet pulih tenaganya", pinta sang papa.


Di perjalanan ke rumah sakit. Memakan waktu lebih dari empat puluh menit. Sesi pemotretan yang seharusnya baru kelar nanti sore. Ia ajukan menjadi siang setelah mendapat telepon dari suaminya yang meminta untuk segera datang ke rumah sakit.


Dengan langkah tergopoh-gopoh ia langsung menuju kamar yang sudah di beritahu suaminya lewat chat.


Jessy? Benarkah dia? Aku melihatnya berjalan setengah berlari menuju ke sebuah kamar deretan vip.


Siapa yang ia jenguk? Pikirku sudah menerka kemana-mana. Masih setengah tak percaya aku bisa bertemu dan melihatnya meski lewat jarak jauh. Setelah beberapa tahun aku tak pernah melihatnya.


Aku seakan lupa kewajibanku sebagai dokter. Karena penasaran aku pun mengikuti langkahnya.

__ADS_1


"Dok, tapi kita harus ke kamar sebelah sana, mengapa berbalik?", teriak Kintan.


"Sebentar ada yang tertinggal. Kamu masuklah lebih dulu", aku tak ingin Kintan tahu aku sedang membuntuti seseorang.


Aku berhenti tepat di sebelah kamar yang tadi ku masuki. Apa mungkin Kessy adalah anaknya Jessy dan Bagas?


Kakiku terasa lemas. Setelah aku baru menyadari kamar siapa yang di datangi Jessy. Dan dengan hadirnya Bagas tadi juga di rumah sakit ini semakin menambah keyakinanku kalau mereka adalah orang tua Kessy.


Takdir apalagi yang Kau tuliskan untukku ya Tuhan? Baru saja hati ini merasa bahagia karena bisa melihatnya. Namun dengan seketika harapan ini kembali sirna. Aku patah hati. Setelah aku menanti cukup lama untuk menyetarakan hidupku dengannya.


Tak ingin mereka melihatku. Aku segera berjalan cepat menyusul Kintan.


"Maaf membuatmu menunggu", ucapku dengan nafas berat ketika memasuki kamar.


Kintan memandangku sekilas. Mungkin ia merasakan ada yang aneh dengan diriku. Tapi dengan profesional dia segera memberikan laporan padaku.


"Pasien ini besok sudah boleh pulang. Karena kondisinya sudah membaik", ucapku kepada keluarga pasien dan pergi meninggalkan kamar.


Kintan masih setia membuntutiku meski tugasnya menemaniku sudah selesai. Barulah sampai di ruanganku ia berani bertanya.


"Apa kau baik-baik saja Jo? Kenapa wajahmu tiba-tiba murung?", tanyanya padaku.


"Sepertinya aku kurang enak badan", jawabku aneh.


Kintan seorang perawat jelas dia tak bisa begitu mudah dibohongi.


"Baiklah Jo. Aku tidak akan memaksamu kalau kamu tidak ingin bercerita", ia kemudian pergi meninggalkanku sendiri.


"Maaf Tan", hanya itu ucapku padanya. Setengah berteriak karena dia sudah berhasil setengah menutup pintu pergi dari ruanganku.


Maaf Tan, aku tidak siap menambah lukamu setelah kau tahu wanita itu disini. Wanita yang berhasil bersemayam di hatiku beberapa tahun ini.


Dan disinilah aku saat ini. Duduk menyendiri di ruanganku. Sekelebat bayangan wajahnya masih menghias indah di otakku.

__ADS_1


Jessy, mengapa sulit untuk mendapatkanmu? Sampai sejauh ini aku menunggu namun harapan tak seindah yang aku bayangkan. Dan kini harapan itu seakan tak ada guna lagi. Karena kau telah bersuami.


__ADS_2