
Satu minggu berlalu setelah kejadian itu. Aku bisa melewati hari-hariku tanpanya lagi.
Aku sudah tidak menemui Kintan begitu sebaliknya. Bahkan aku memilih menghindar di jam-jam biasa dia ada kuliah tambahan di kampus.
Dan dengan waktu seminggu ini. Ku manfaatkan untuk mencari tahu kembali soal Jessy. Kebenaran dugaanku selama ini. Namun belum mendapat titik terang.
Aku berusaha memohon kepada Amel dengan bantuan Dodi. Tapi tetap saja nihil. Dan sekarang harapanku adalah tante Eva. Mamanya Jessy.
Sulit rasanya mengatur jadwal kosong yang sama untuk bertemu dengannya. Maklum dia adalah wanita karir single parent. Jadi wajar saja kalau waktunya dia habiskan hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja.
"Yank, kamu jahat. Masa nggak ngasih tahu Jovan sih kebenaran soal Jessy?", tanya Dodi setelah Amel mengatakan segalanya soal Jessy padanya.
"Jangan, saat ini Jessy lagi nggak bisa di ganggu. Jadwalnya padat banget. Kemarin aja sampai ngeluh ke aku", Amel menjelaskan.
"Lagian sih Yank, temenmu itu aneh. Udah jelas-jelas cinta mati. Ngapain nggak hubungi Jessy sendiri coba? Kan udah aku kasih nomornya?", gerutu Amel kepada Dodi.
"Entahlah. Aku juga terkadang kesel sendiri dengan sikapnya".
"Kasih tahu dia dong, kalau cewek itu pengen dikejar, pengen diperjuangin. Selama ini mana ada tindakan Jovan? Yang ada dia bisa mati penasaran kalau kelamaan menduga-duga nggak tahu kebenarannya", Amel masih saja mengungkapkan segala unek-uneknya.
Sedang yang diomongin lagi sibuk magang di rumah sakit ibu dan anak.
Sungguh aku ingin segera menemui tante Eva. Tapi kesibukan masing-masing yang membuatnya harus menunda lagi.
Untuk soal pekerjaan di cafe, aku sudah pamit dengan Omnya Dodi. Karena jelas tidak bisa membagi waktunya untuk magang dan bekerja.
Urusan magang sendiri saja memakan waktu. Hampir tiap malam aku baru pulang. Dan itu menguras otak dan tenagaku karena membludaknya pasien.
Beruntung rumah sakit tempatku magang hanya tiga puluh menit dari rumah. Sehingga tidak memakan waktu lama untuk bisa pulang dan pergi.
__ADS_1
Empat tahun ku lalui menyelesaikan kuliahku. Dan gelar seorang doktor telah ku dapatkan. Hingga aku praktik di rumah sakit sekarang. Ya, rumah sakit yang menjadi tempatku magang dulu. Rumah sakit ibu dan anak Harapan Bunda.
Namun disini aku tidak sendiri. Karena ternyata takdir berkehendak lain. Ketika aku semakin gencar akan menghindari Kintan. Berusaha tidak bertemu dengannya. Tapi mengapa malah justru hari-hariku di hadapkan dengannya.
Kami bertemu setiap hari. Karena memang kami bekerja di dalam rumah sakit yang sama.
Tapi terlepas dari itu semua. Aku mengucap syukur dengan kesuksesan yang aku punya. Usaha dan perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Hanya saja kisah cintaku tidak seberuntung seperti suksesku dalam bekerja. Nyatanya sampai sekarang aku masih saja menyandang status single.
Beberapa tahun hanya ku lakukan untuk mencintai dalam diam. Kisah percintaanku tidak ada perkembangan. Untuk mendapatkan seorang model terkenal seperti Jessy, rasanya perlu waktu untuk bisa mematut diri. Paling tidak mensejajarkan diriku dengannya. Dan selama ini ku lakukan hanya untuknya.
"Dokter, cepat tangani pasien di igd yang barusan masuk", teriak perawat menghampiriku ketika aku sedang mengecek suhu tubuh balita tiga tahun.
Aku segera pergi meninggalkan pasien sebelumnya yang sudah kembali normal suhu tubuhnya setelah beberapa hari demam dan diare.
Kulihat anak perempuan berumur sekitar empat tahunan sedang terbaring lemah disana. Dengan kondisi demam tinggi.
Wajahnya pucat. Aku segera mengambil tindakan untuk memeriksanya. "Sudah berapa lama demamnya?", tanyaku pada seseorang yang dari tadi terisak menunggunya.
"Ibu tenang...banyak-banyak berdoa semoga ananda cepat membaik", ucapku memberi semangat.
Ibu itu hanya mengangguk sambil sibuk dengan ponselnya. Kelihatannya sedang menghubungi seseorang. Apakah orang tua anak ini?
Aku segera mendekati ibu itu kembali setelah memeriksanya. "Bu, kemungkinan cucu ibu terkena DBD. Demamnya terlalu tinggi. Untuk memastikannya saya perlu melakukan cek darah lebih dulu".
"Iya Dok. Silahkan. Saya akan mendampingi cucu saya", ucap ibu itu.
"Baik, mari ikut saya ke lab. Maaf sebelumnya kemana orang tua anak ini?", tanyaku yang entah mengapa penasaran.
"Bekerja Dok. Saya sudah menghubunginya. Pasti mereka akan datang kemari", jawab ibu itu.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk. Ah, kasian sekali anak ini. Minimal ada ibunya kandung yang menunggu dalam kondisi seperti ini. Pikirku.
"Tenang ya sayang, Om mau minta darahnya sebentar", ucapku pada anak itu. Anak kecil yang memiliki bulu mata lentik dan kulit putih.
Anak itu hanya mengangguk. Nampak wajahnya tenang dan tidak ada ketakutan yang terlihat. Di bantu oleh Kintan, aku mulai mengambil sample darah setelah mengikat bagian lengan atas dengan tourniquet, bertujuan agar aliran darah pada bagian ini terhambat dan membuat pembuluh vena terlihat menonjol, sehingga pengambilan sampel darah akan lebih mudah.
Ku lihat anak itu sedikit tangannya mencengkeram kursi kuat-kuat sambil memejamkan mata disaat jarum menembus lengannya. "Tidak apa-apa. Ini hanya sepeti digigit semut", ucapku tersenyum.
"Nah, sudah selesai. Bobok lagi di ruang inap ya, sambil menunggu hasilnya", ucapku lagi.
"Makasih Om Dokter".
"Sama-sama", ucapku sambil tersenyum.
"Om ganteng siapa namanya?", celoteh anak itu yang tiba-tiba menanyakan namaku. Kintan yang masih berada di sampingku merapikan jarum suntik hanya tersenyum mendengar obrolan kami.
"Nama Om Jovan. Kamu sendiri siapa namanya sayang?", tanyaku balik. Hidup tanpa memiliki saudara kandung satupun, membuatku menyukai anak-anak sejak dulu.
"Namaku Kessy. Cantik kan seperti aku?", dengan pedenya anak itu menganggap dirinya cantik. Dengan gaya centilnya seakan menutupi kalau dirinya saat ini sedang sakit.
Aku pun mengangguk sambil tersenyum membalasnya. Kemudian ia melambaikan tangannya ketika Kintan sudah berlalu sambil mendorongnya dengan kursi roda.
Anak itu memiliki semangat dan keinginan tinggi untuk sembuh. Di saat anak yang lain mungkin akan merengek pada ibunya mengeluh kesakitan. Tapi berbeda dengannya.
Ia bahkan bisa menghibur dirinya sendiri dan meyakinkan omanya kalau dia akan baik-baik saja. Entah mengapa sikap cerianya, wajah polos dan cantiknya membuatku mengingat seseorang. Seseorang yang diam-diam selalu ku nantikan. Seseorang yang selalu ku harapkan dalam doa siang dan malam.
Jessy apa kabar kamu disana?
bersambung
__ADS_1
ayokkkk vote like dan tekan tombol lovenya.