SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 47 FAKTA TENTANGNYA


__ADS_3

Obrolan kami bertiga masih berlanjut. Intinya kebanyakan membahas soal Jessy. Hingga terdengar bunyi adzan isya baru kami tersadar sudah pukul berapa saat ini.


"Udah jangan tunda-tunda lagi. Gaspol Jo!", ucap Dodi padaku ketika berpisah di parkiran memasuki mobil masing-masing. Kebetulan pasangan itu datang dengan mobil juga.


Di perjalanan aku banyak menimbang dan mengingat semua ucapan Dodi dan Amel. Benar kata mereka memang selama ini aku payah. Tidak percaya diri. Dan sibuk memikirkan kemungkinan yang terjadi dengan orang-orang di sekitarku. Tanpa peduli dengan perasaanku sendiri yang selalu mengalah.


Tululit. Tululit.


Di tengah pikiranku yang sedang mengingat hal tadi, ponselku berdering keras. Ku lihat emak menelepon.


"Kamu dimana to Le? Mesake Nak Kintan lho, nyetop taksi tapi penuh terus. Mau pesen online ponselnya habis batrei", teriaknya panik.


"Lhah Kintan belum pulang dari tadi Mak?".


"Yo belum. Buruan pulang Le, antar Nak Kintan pulang", ucap emak memerintah di seberang telepon.


"Iya Mak, Jovan sudah perjalanan pulang ini bentar lagi sampai", jawabku membuat emak senang.


Tak perlu masuk ke rumah ternyata Kintan masih menunggu di depan. "Sorry Jo, jadi ngrepotin. Ganggu ketemuan kamu sama Dodi", ucapnya tak enak.


"Nggak papa. Aku juga udah perjalanan pulang kok tadi", jawabku meyakinkan.


Mobil kembali melaju. Menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai saat itu. Kintan terlihat diam sejak tadi masuk ke mobil. Entah apa yang membuatnya murung begitu.


"Kamu kenapa?", tanyaku padanya. Dia seperti kaget lalu menoleh.


"Ehm capek aja kok Jo", jawabnya masih enggan untuk bercerita. Selebih dari itu aku tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Esok hari.


Aku berlari-lari menyusuri koridor rumah sakit. Jam di tanganku masih menunjukkan pukul enam pagi. Padahal jam praktikku masih nanti jam sembilan.


Pihak rumah sakit meneleponku meminta aku datang untuk menangani pasien yang pingsan. Pihak keluarga tidak ingin ditangani dokter lain dan memintaku yang menangani cucu mereka. Dengan alasan pasti cucunya akan segera sadar kalau aku yang menangani.


Tibalah di sebuah kamar. Ku lihat tubuh kecil sedang terbaring lemah. "Dok, tolong cucu saya, tolong!", ucap wanita sambil menangis sesenggukan.


Wanita yang sama saat itu. Dan tubuh yang terbaring lemah tak berdaya itu adalah Kessy cucunya. "Bu, kenapa Kessy bisa pingsan?", tanyaku meminta penjelasan.


"Kessy selalu murung. Sepulang dari rumah sakit ini dia tidak mau makan dan hanya terus menangis", ucap wanita itu menjelaskan.


Aku lanjut memeriksanya tanpa banyak bertanya lagi. Kemungkinan Kessy dehidrasi dan kekurangan asupan di dalam tubuhnya yang mengakibatkan dia lemah tak bertenaga kemudian pingsan.


Bagaimana bisa anak ini tidak makan dan dibiarkan saja oleh orang tuanya? Padahal ia baru dalam masa pemulihan pasca DBD kemarin.


Setelah memeriksanya, dan suster memasang infus di tangannya, aku mengajak bicara ibu itu kembali. Yang sudah pasti aku sangat yakin orang di depanku ini adalah mama Bagas.


"Cucu saya tinggal bersama papanya Dok".


"Apa hanya berdua? Pasalnya anak ini baru dalam masa pemulihan. Makannya harus teratur dan harus ada yang memperhatikan. Apalagi dia masih sangat kecil", jelasku.


Ibu itu malah menangis. Sambil sesenggukan dia menjawab. "Menantu saya jarang ada di rumah Dok. Saya kira dengan mewujudkan impian kita menyatukan mereka dalam pernikahan, akan membuat mereka saling mencintai Dok, tapi ternyata kami salah".


Aku masih mendengarkan ibu ini bercerita. Banyak pertanyaan dalam hatiku tapi aku tidak sopan memotong ceritanya. Dan ku rasa kurang pantas aku ngotot ingin tahu perihal yang terjadi di antara mereka. Semua ini ku lakukan semata-mata hanya ingin Kessy mendapatkan perhatian khusus dari keluarganya.


"Anak saya telah lama mencintai istrinya Dok. Tapi istrinya tidak pernah mencintainya. Sampai suatu saat anak saya frustasi dan menghamili wanita lain. Sehingga lahirlah Kessy. Kami sebagai orang tua yang sudah lama berteman ingin sekali menyatukan keduanya. Untuk itu kami menikahkan mereka dengan harapan mereka akan saling mencintai di tengah-tengah hadirnya anak tak berdosa ini. Karena ibu kandung Kessy pergi entah kemana setelah mendapat apa yang dia mau", jelas ibu itu membuatku syok.

__ADS_1


Pantas saja kalau sikap Jessy tega begitu dan egois mementingkan karirnya daripada mengurus Kessy. Karena Kessy bukanlah anak kandungnya. Bukan hasil pernikahannya dengan Bagas. Melainkan hasil buah hati Bagas dengan wanita lain. Astaga. Tak pernah ku bayangkan jalan yang dilalui Jessy seberat ini.


Bagimana rasanya hidup dengan orang yang sama sekali tidak kita cintai? Terlebih harus mengurus anak yang bukan dari rahim sendiri melainkan dari rahim wanita yang ditiduri suaminya?


"Maaf, saya disini hanya sebagai pendengar yang baik. Tidak ingin mencampuri urusan anak ibu. Tapi saya sarankan, demi kebaikan Kessy lebih baik untuk sementara Kessy tinggal dulu bersama Ibu. Dia perlu perhatian lebih, kasihan anaknya. Di masa kecilnya saat ini kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya".


"Baik Dok, nanti akan saya bicarakan dengan papanya".


Meninggalkan Kessy dan neneknya di ruangan itu. Aku terus memikirkan Jessy. Mungkinkah Amel dan Dodi juga tau cerita ini?


Aku meminta saran kepada Dodi setelah aku menghubunginya dengan chat tadi.


"Udah tahu kan sekarang? Malah langsung dari emaknya Bagas tuh", ucap Dodi lewat panggilan telepon.


"Iya aku nggak nyangka Jessy menghadapi hal serumit ini".


"Sekarang kamu sudah tahu Jo. Cepetan ajak Jessy buat ketemu. Karena aku sama Amel yakin dia cuma bakal nurut sama nasehat kamu. Selama ini Jessy juga cinta sama kamu Jo. Tapi dia udah nggak bisa bergerak bebas selama ini karena pernikahan terpaksanya dengan Bagas".


"Bahkan tante Eva aja udah nyerah. Segala cara ia coba untuk buat Jessy bisa menerima Kessy".


"Ya aku juga paham sih, orang Kessy bukan darah dagingnya. Tapi anak itu nggak bersalah. Bagas tuh yang harusnya ngertiin. Orang tuanya dan papanya Jessy juga bisa-bisanya maksain mereka buat nikah", celoteh Dodi masih di panggilan telepon.


"Iya. Oke aku akan hubungi dia sekarang", jawabku sambil mengakhiri panggilan telepon.


Aku beralih menghubungi nomor Jessy beberapa kali. Tapi wanita itu tak mengangkat panggilanku. Terus saja ku coba tapi hasilnya nihil. Lalu aku memutuskan untuk mengirim pesan padanya.


"Dok, pasien kamar vip tadi sudah sadar!", teriak perawat yang menghampiri ke ruanganku. Aku pun segera bergegas kesana. Ya, Kessy sudah sadar. Aku berharap wajahnya akan ceria kembali setelah bertemu denganku.

__ADS_1


"Hallo sayang, om periksa ya! Kenapa sih sampai nggak mau makan?", ternyata aku salah. Nampak di wajahnya sangat mendung. Tidak seperti harapanku. Apa yang membebani pikiran anak kecil ini?


Tekan tombol lovenya dan kasih like komen ya sayang.....


__ADS_2