
"Bangun kamu! Kerjaan cuma mabuk terus. Sampai kapan akan tetap kaya gini hah?", teriak sang papa sambil memercikkan air di atas wajah anaknya.
Bagas sesekali mengusap-usap wajah merasa tak nyaman.
"Anak sakit bukannya dijaga malah bikin ulah terus!", masih saja melanjutkan kata-katanya seakan belum lelah memarahi anaknya.
Bagas yang mulai sadar dimana dirinya sekarang. Mulai mengingat satu persatu memory semalam. Mengapa ia sampai mabuk dan apa penyebabnya. Masih teringat jelas dibenaknya.
Ia bangkit tanpa menghiraukan papanya yang masih saja mengomel.
"Pa, aku mau ngomong serius dengan Papa", ucapnya setelah selesai membersihkan diri. Duduk di samping papanya.
"Katakan!".
"Aku ingin bercerai dengan Jessy", ucapnya mantap.
"Apa-apaan kamu ini? Dari kecil kami sudah menjodohkan kalian. Dan semua keinginan kamu sudah papa penuhi. Sekarang apa? Kamu malah ingin menceraikannya", papanya merasa dipermainkan.
"Bagas sadar Pa. Kalau keinginan Bagas terlalu memaksakan kehendak. Bertahun-tahun Bagas berusaha membuatnya jatuh cinta tapi apa? Dia malah semakin membenci Bagas Pa", ucapnya sendu. Kali ini papanya bisa melihat sosok rapuh seorang Bagas. Anak itu yang biasanya angkuh dan sombong namun kini sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Hanya kerapuhan dalam diri laki-laki itu.
"Jangan gila kamu Gas! Pikirkan bagaimana nasib putrimu. Dia masih kecil untuk menerima kedua orang tuanya bercerai".
"Soal Kessy, biar Bagas nanti bicara sama Jessy. Papa tidak usah khawatir".
Bagas meninggalkan papanya yang masih tak percaya atas keputusan putranya. Ia pergi menemui Jessy untuk membicarakan hal ini.
Tidak menemukan Jessy dirumah. Apa artinya Jessy di rumah sakit? Bagas segera menyusulnya.
Terdengar suara laki-laki dari dalam kamar inap Jessy. Rupanya ada Jovan di dalam sedang memeriksa Kessy. Timbul rasa cemburu dalam hatinya. Namun sesaat rasa itu padam kala Bagas mengingat kalau kebahagiaan Jessy memang terletak pada pria itu. Dan dialah dulu yang telah memisahkan keduanya.
Ia pun masuk tanpa ragu. Berusaha mengusir kecanggungan yang dirasa. "Papa?", teriak Kessy antusias. Membuat Jessy dan Jovan bersamaan menoleh ke arahnya.
Bagas berusaha menampilkan senyum yang sedikit terpaksa. Demi sang buah hatinya. "Hallo sayang? Gimana kondisi kamu?", tanyanya mendekat ke arah Kessy. Ia mengulas senyum sesaat kepada Jovan. Dan dibalas oleh anggukan oleh Jovan sebelum akhirnya pamit undur diri.
__ADS_1
"Tadi malam mama jagain Kessy disini sama Oma. Papa kemana? Kenapa tidak ikut kesini? Apa Papa tidak suka tidur dirumah sakit?", tanya Kessy beruntun.
"Papa ada pekerjaan tadi malam sayang, maafin Papa. Papa suka kok tidur disini temani Kessy. Nanti malam ya, Papa gantian jaga Kessy", Bagas sadar selama ini banyak waktu yang terbuang dan kurang memperhatikan buah hatinya. Ia terlalu sibuk mengejar cinta Jessy.
"Makasih Papa".
"Kessy istirahat dulu ya! Papa pinjam mama dulu. Ada hal yang harus Papa omongin sama Mama", Bagas meminta izin.
"Boleh Papa".
"Anak pintar, udah sekarang bobok!", membenarkan selimut Kessy. Gadis kecil itu menurut dan segera memejamkan mata.
Bagas membawa Jessy ke taman. Tempat dimana ia pernah menampar Jessy. Memory ingatannya satu persatu muncul. Membuat ia menyesal tak pernah bisa membahagiakan wanita cantik yang beberapa tahun menemaninya.
"Aku sudah bilang ke Papa, kita akan bercerai".
Jessy spontan tak percaya apa yang ia dengar barusan. Namun ia masih menyimak apa yang diucapkan Bagas selanjutnya.
"Maafin aku, selama ini aku tak pernah bisa membuatmu mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku selalu memaksamu untuk selalu disampingku dan menerimaku. Aku egois".
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu Gas?", tanya Jessy masih tak percaya.
"Aku yakin. Aku telah banyak menyakitimu. Aku hanya berambisi memilikimu tanpa pernah memikirkan perasaanmu. Sekarang tugasku, hanya tinggal meyakinkan papamu. Ku harap kamu bisa membantu".
"Baiklah. Aku akan bantu bicara dan meyakinkan Papa kalau kita pisah baik-baik. Tentang Kessy, pintu rumahku selalu terbuka untuknya datang dan memelukku sebagai mamanya".
"Terimakasih Jess", Bagas memeluk dan mencium kening Jessy. Mungkin itu pelukan paling hangat yang pernah diberikan selama ini. Pelukan terakhir sebagai tanda perpisahan.
Dari ujung sana, Jovan memperhatikan mereka berpelukan. Namun salah diartikan oleh Jovan yang ,mengira mereka sedang berdamai. Memang benar sedang berdamai, tapi berdamai untuk berpisah mencari bahagia masing-masing bukan berdamai untuk bersatu.
Di sebuah ruang perusahaan. Dari pagi tadi Steve mulai tak tenang dalam mengerjakan pekerjaan kantornya. Pikirannya tertuju pada Jessy. Setelah ia tahu kabar dari besannya bahwa mereka memutuskan akan bercerai.
Ia meminta penerbangan ke Indonesia paling awal pada asistennya. Ia akan menemui langsung mereka berdua dan menyidang mereka.
__ADS_1
Tanpa memberitahu kedatangannya, Steve terbang ke Indonesia.
Setelah menangani beberapa pasien, Jovan terlihat lesu. Hal ini menarik perhatian Kintan yang dari tadi keluar masuk ruangannya.
"Kamu sakit Jo? Wajahmu pucet gitu?".
"Mana ada? Aku baik-baik aja", Jovan mengelak.
"Lah beneran deh. Lihat sana ke cermin. Muka pucat lesu gitu dibilang nggak papa. Pengen makan apa? Aku cariin ya", tawar Kintan. Ia memang selalu perhatian.
"Nggak usah Tan. Aku baik-baik aja".
"Coba sini aku telpon Emak kalau kamu bilang baik-baik aja. Biar emak lihat tuh wajah kusut kamu", Kintan selalu bisa mengancamnya dengan cara seperti biasa. Jovan akan diam tak berkutik kalau sudah menyangkut soal emak dibawa-bawa.
"Ah kamu ini sukanya ngadu".
"Makanya buruan pengen makan apa?", tanya Kintan.
"Terserah apa aja, nanti aku makan".
Kintan sukses membuat Jovan menurut.
Kintan sengaja memesan gado-gado di kantin rumah sakit. Jarak yang dekat lagi pula gado-gadonya enak menjadi pertimbangannya.
"Bu, gado-gadonya dua pake lontong ya. Sama es teh dua juga dibungkus semua".
"Aduh si eneng, buat makan sama Pak Dokter ya? Tumben-tumbenan nggak ikut turun?", tanya ibu kantin yang sudah hafal Kintan beli dua porsi untuk siapa.
"Iya Bu, biasalah lagi nggak mood. Patah hati mungkin", Kintan berucap tanpa melihat sekeliling. Dimana disitu ada Jessy yang sedang makan bersama Bagas mendengar semua percakapan itu. Posisinya yang membelakangi Kintan, sehingga bisa menutupi bagian wajahnya.
"Lhoh patah hati sama siapa? Setahu Ibu kan eneng pacarnya".
"Bukanlah Bu. Saya mah cuma cinta bertepuk sebelah tangan. Dia yang saya kejar, tapi yang dikejar sedang ngejar istri orang", ucapan Kintan berhasil membuat Jessy tersedak. Namun ia masih berhasil menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat oleh Kintan.
__ADS_1
"Waduh, kok ribut gitu ya? O ya Neng pedes apa enggak nih?", tanya si Ibu lagi.