
Bel sekolah telah berbunyi. Para siswa siswi sibuk mengemasi barang-barang mereka ke dalam tas masing-masing. Hanya Jovan dan beberapa temannya yang masih santai karena akan melanjutkan ekstra basket nanti.
Semilir angin menyapu halaman sekolah. Membawa dedaunan kering yang berjatuhan terbang kesana kemari. Seorang siswi menjinakkan rambut panjangnya. Yang terbawa tiupan angin.
Berjalan menyusuri lorong demi lorong kelas bersama seorang siswa di sampingnya. Menjadi pusat perhatian wajah yang memandang keduanya.
Berjalan di barisan depan bak raja dan ratu. Di belakangnya diikuti oleh teman yang lain seakan menjadi pasukannya.
Jessy dan Bagas menuju ke lapangan basket siang itu. Meski pertandingan akan diadakan sore nanti tapi mereka memasuki lapangan karena akan mendapat bimbingan terlebih dulu di kelas basket siang itu.
Jessy mengambil tempat duduk di barisan paling depan. Ia sapukan pandangan. Hanya dirinya dan dua orang siswi lain yang hadir.
Pandangannya belum berhenti disitu. Setelah ia mendapati Jovan dan teman-temannya memasuki lapangan. Jovan masuk bersama rombongan teman sekelasnya.
Ya, meski mereka tak pernah menganggap Jovan di kelas tapi mereka membaur bersama ketika di lapangan. Hal itu dikarenakan Jovan pintar dan jago dalam bermain basket.
Entah hanya memanfaatkan atau apa. Hal itu tak dipermasalahkan oleh Jovan. Masih mending mereka mau menerimanya meski menganggapnya tak nampak. Daripada selalu menyapa tapi hanya menghina.
Jovan tak kalah terkejut setelah kedua matanya bertemu dengan mata Jessy yang sedang duduk menikmati cemilan di tangannya.
Jantungnya seperti mau lari ketika merasa diperhatikan. Tapi seketika ia tersadar karena menyadari Jessy ada disitu karena ada Bagas pula. Jelas Jessy ingin melihat Bagas bukan dirinya.
Selang lima menit guru ekstra basket mereka meniupkan peluit. Mulai menyampaikan materi yang dilanjutkan dengan praktik.
Semua siswa mengikuti dengan damai. Hingga waktu sore hari pun tiba. Pertanda pertandingan akan segera dimulai.
Bola basket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan.
__ADS_1
Bola basket dapat di lapangan terbuka, walaupun pertandingan profesional pada umumnya dilakukan diruangtertutup. Lapanganpertandingan yang diperlukan juga relatif tidak besar, misal dibandingkan dengan sepak bola.
Selain itu, permainan bola basket juga lebih kompetitif karena tempo permainan cenderung lebih cepat jika dibandingkan dengan olahraga bola yang lain, seperti voli dan sepak bola.
Mereka sudah di posisi masing-masing. Pertandingan kali ini dilakukan di dalam ruang tertutup gor milik sekolah.
Suara sorak sorai mulai rame dengan datangnya segerombolan siswi yang baru datang memasuki gor. Jessy hanya bisa bertepuk tangan. Ia bingung harus menyoraki Bagas atau Jovan.
Seketika Amel datang dengan menepuk bahunya. "Hei, sorakin Bagas dong. Lihat tuh daritadi lihatin kamu!", ucapnya. Amel adalah teman dekat Jessy di kelas. Meski baru saja kenal mereka langsung akrab.
"Kamu ngagetin aja. Sini duduk!", Jessy menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Ye, ngarep yang ngagetin Bagas bukan gue ya?", tanyanya setelah mendaratkan pantatnya di samping persis Jessy.
Mereka saling bercanda sambil sesekali bersorak memberi dukungan bagi pemain basket yang sudah memulai pertandingan.
Mona adalah mantan Bagas yang hanya ia pacari dua minggu saat kelas satu dulu. Ia merupakan teman satu kelas Bagas. Yang berarti kakak kelas Jessy. Bagas memutus Mona begitu saja karena merasa tidak ada lagi kecocokan di antara keduanya. Dan karena ia mengira Jessy tidak akan kembali lagi.
Selang beberapa menit babak pertama selesai. Dengan nilai unggul yang dipimpin kelas Bagas. Bagas pergi menghampiri dimana Jessy dan Amel duduk.
Jessy memberikan botol minuman yang tadi ia bawakan untuk Bagas. Tiba-tiba raut wajahnya sedih ketika teringat waktu SD dulu ketika tak pernah melihat Jovan pergi ke kantin.
Ia sapukan matanya ke arah Jovan. Terlihat Jovan hanya mengelap keringatnya yang bercucuran. Ia memperhatikan Jovan yang hanya mengobrol dengan Dodi.
Apa Kak Jovan hanya memiliki teman Kak Dodi saja? Apa masih sama seperti dulu ketika semua temannya tak menganggapnya?
Amel tiba-tiba menyenggol lengan Jessy. "Tuh ditanya sama Bagas, kok kamu diem aja daritadi?".
__ADS_1
"Hah, iya apa Gas?", tanya Jessy gelagapan.
"Duh, yang lagi mikirin seseorang. Jelas-jelas sudah di depan mata masih aja bengong", sindir Amel yang mengira Jessy mikirin Bagas.
"Apaan sih?", sergahnya pada Amel.
"Aku nanya, kamu belum capek nungguin aku kan?", tanya Bagas sekali lagi.
"Belum kok. Nanti kalau aku capek dan bosen naik taksi pulang duluan", jawabnya. Sebenarnya sih ngerasa malas nungguin Bagas. Tapi karena ada Jovan ia jadi betah. Dan karena Jovan alasan ia untuk bertahan.
Peluit dibunyikan kembali. Babak kedua di mulai. Beberapa menit berlalu ketika Jovan hendak merebut bola, kakinya tersandung kaki teman Bagas. Ia pun terjatuh. Kepalanya membentur trelali beton. Hingga menimbulkan pendarahan kecil.
Sontak membuat Jessy panik. Ia pun langsung berdiri hendak menolong Jovan. Namun ia tersadar ketika Amel menegurnya.
"Hei, mau kemana? Emang Lo kenal sama dia? Ganteng sih tapi ogah gue jadi pacarnya kalau nggak kaya. Gue denger kan dia anak beasiswa", crocos Amel pada Jessy. Ingin sekali Jessy memarahi sahabatnya itu tapi diurungkannya. Yang ada Amel akan curiga dan melapor pada Bagas.
Jessy kembali mendaratkan pantatnya dengan keadaan lesu. Hal ini diperhatikan oleh Mona dari seberang sana. Mona penasaran mengapa Jessy ingin sekali menolong Jovan.
Tak terasa pertandingan telah usai. Dan di menangkan oleh kelas Jovan. Juara bertahan yang tak pernah tergeser dari kelas satu.
Satu persatu berhamburan keluar gor. Terlihat Dodi masih membantu Jovan mengobati lukanya. Sedangkan teman lainnya mereka langsung pulang dan tak peduli dengan kondisi Jovan.
Jessy nampak enggan menjauh pergi. Ia masih ingin disitu menanyakan kondisi Jovan. "Yokk, kita pulang. Kamu kenapa sih bengong terus daritadi?", tanya Bagas yang menarik tangan Jessy.
Jessy hanya pasrah. Ia mengikuti langkah Bagas menuju keluar dengan berat hati. Mobil yang menjemput mereka telah menunggu di depan gerbang sekolah.
Bagas berjalan mendahului Jessy dan pergi membuka pintu mobil untuk Jessy. Jessy tak begitu menganggap perhatian yang diberikan Bagas untuknya. Baginya Bagas adalah teman sedari kecilnya. Wajar saja ia selalu bersikap baik dengannya. Sama sekali tak berpikiran kalau Bagas punya niatan lebih dari itu.
__ADS_1
Mobil sudah berjalan. Jessy masih terlihat murung. Hal ini menjadi pertanyaan Bagas. "Kenapa sih? Murung terus cantiknya ilang lho!", mencubit pipi Jessy.