SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 30 STEVE DI MATA EMAK ADALAH...


__ADS_3

Pagi hari. Suara alarm dari ponsel milik Dodi membangunkan mereka untuk sholat subuh.


"Do, bangun! Tuh alarm ponselmu bunyi terus dari tadi", aku mengguncang lengan Dodi yang masih tidur membelakangiku.


Dodi yang merasa lengannya diguncang segera bangun. Ia kemudian pergi menyusulku yang lebih dulu berlalu untuk mengambil air.


"Sini biar aku saja!", pinta Dodi mengambil alih membawa ember.


"Ini berat. Jangan dipaksain kalau nggak kuat".


"Yee, gitu amat Jo. Aku udah sering kaya gini bantu eyangku kalau pas berkunjung kesana", Dodi menjelaskan.


Kini mereka berdua sudah duduk berdua untuk sarapan. Berkat tiap hari membantu Emak, Jovan sudah terampil kalau cuma memasak telur dadar.


Suasana hening. Hanya terdengar kecapan mulut yang nyaring tak terdengar. Sampai mereka selesai.


Dengan mengendarai motor Dodi. Perjalanan ke sekolah tak memakan waktu cukup lama seperti biasanya.


"Jo, mampir ke rumah sebentar ya balikin gitar. Nggak mungkin kita ke sekolah bawa gitar begini", pekik Dodi sambil menyetir motornya.


"Iya", jawabku setengah berteriak.


Bandar udara Soekarno-Hatta.


Terlihat Steve dan Marvel masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya dari satu jam yang lalu.


Ia memutuskan untuk menemui mantan istrinya dulu ke perusahaan tempat dimana istrinya bekerja. Menurut kabar yang ia terima, pagi ini istrinya sudah kembali ke luar kota dan langsung menuju kantornya tanpa ke rumah lebih dulu.


40 menit berlalu. Sampailah ia di depan gedung tinggi. Ia memandang sejenak bangunan itu sebelum masuk ke dalam. Mengingatkan dulu, awal dirinya memegang kendali perusahaan ini dari papa mertuanya.


Namun semua telah berlalu. Kenyataan dirinya sekarang sudah bukan menantunya. Dan harus mengembalikan perusahaan ini di pegang oleh mantan istrinya. Yang memang pantas mendapat haknya.


Dengan langkah gagah ia mulai memasuki perusahaan. Dengan statusnya mantan atasan mereka, para karyawan tak mempersulit dirinya bertemu mantan istrinya. Karena sejauh ini Eva juga tidak pernah melarang dirinya menemuinya kalau menyangkut soal Jessy.


"Apa bosmu ada di dalam?", tanyanya setelah sampai di depan meja sekretaris Eva.

__ADS_1


"Ada Pak! Sebentar saya telpon Bu Eva".


Dengan menekan telpon ruangan Eva, sekretaris itu mempersilahkan Steve masuk setelah mendapat persetujuan.


Steve langsung membuka pintu. Tanpa mengetuk terlebih dulu. Menyuruh Marvel menunggunya di luar.


Eva segera meletakkan pulpennya. Memandang wajah yang sudah berdiri di depannya. "Aku perlu bicara!", dengan nada penuh penekanan.


Eva menunjuk sofa dan mempersilahkan mantan suaminya duduk. "Katakan!", jawabnya.


"Jauhkan Jessy dengan anak yang bernama Jovan! Kalau kau tidak becus, aku yang akan turun tangan", tanpa basa-basi lagi langsung ke pokok permasalahan.


Eva yang belum tahu masalah ini segera bertanya. "Siapa Jovan? Memang kenapa dengan anak itu?".


"Sudah ku duga. Kau pasti belum tahu soal ini. Karena kau hanya mementingkan pekerjaanmu tanpa peduli sedikitpun tentang Jessy", tuduhnya.


Deg. Eva memegang dadanya. Ia memang bukan Ibu yang baik bagi Jessy. Tidak pernah mendengar keluhan putrinya itu. Tapi semua ini ia lakukan semata-mata hanya untuk Jessy.


Tanpa perlu tahu apa yang sedang di pikirkan mantan istrinya saat ini. Steve melanjutkan bicaranya. "Anak itu sedang dekat dengan Jessy. Dan membuat Bagas tersisihkan. Parahnya lagi anak itu tidak sebanding dengan kita dan tidak ada apa-apanya di banding Bagas", jelasnya.


"Dan kau harus bisa membujuk putrimu itu untuk tidak mengabaikan Bagas", jelasnya lagi penuh penekanan.


"Suka tidak suka, Jessy akan tetap dengan Bagas", ucap Steve yang meninggalkan mantan istrinya begitu saja setelah mengatakan itu.


Eva tertunduk lemas. Ia sudah merasa sangat gagal menjadi seorang Ibu. Menyesal sekalipun bukan merupakan solusi saat ini. Mengingat Steve yang tak pernah main-main kalau sudah menyangkut putrinya.


Setelah pergi dari perusahaan mantan istrinya. Kini Steve tahu harus menemui siapa. Dan kemana ia akan pergi.


"Kemana kita bos?", tanya supir pribadinya.


"Ke rumah Eva!", jawabnya cepat.


"Lhoh bukankah kita dari perusahaan menemui Bu Eva Tuan, untuk apa ke rumahnya?", tanya Marvel.


"Jangan banyak bertanya kalau kamu masih mengharapkan bonusmu cair!", tegasnya.

__ADS_1


Akhirnya Marvel dan pak sopir hanya bisa diam menuruti permintaan bosnya.


Perjalanan menjadi hening tidak ada yang berani bertanya lagi. Sampai mereka tepat berada di halaman rumah mewah. Rumah yang dulu pernah menjadi kehangatan untuk Steve.


Steve turun dari mobilnya dengan langkah cepat. Menekan tombol bel dan dengan segera mendapati Mak Silah membukanya.


"Pak Steve?", ucap Mak Silah terkejut.


Jelas Emak terkejut. Steve adalah bosnya di tempat bekerja sebelumnya. Yang sangat banyak membantu Emak saat mengalami kesulitan. Untuk apa mantan bosnya di tempat bekerjanya dulu kemari.


Steve tidak menjawab ucapan Mak Silah. Ia langsung masuk ke dalam tanpa diijinkan masuk lebih dulu. Membuat Mak Silah semakin penasaran dan takut.


Takut kalau di marahi majikannya karena membawa masuk tamu begitu saja tanpa ijin terlebih dulu.


Dengan Mak Silah yang masih bengong, datanglah ART lain yang datang dari arah belakang menyapa Steve. Menambah kebingungan emak semakin kuat.


"Lhoh Pak Steve, gimana kabarnya Pak?", ART tersebut menjabat tangan mantan suami majikannya.


"Mak, ini Pak Steve, papanya Non Jessy", jelasnya memberi tahu Mak Silah yang terlihat bingung.


Deg. Papa Jessy? Berarti itu adalah mantan suami Bu Eva yang sering diceritakan suka seenaknya sendiri. Bagaimana bisa? Selama ini ia mengenal Steve adalah orang yang baik dan dermawan.


"Maaf Pak, saya tidak tahu", jawabnya kemudian.


"Duduklah. Saya perlu bicara denganmu!", ucap Steve. Membuat ART tadi segera kembali ke belakang. Meski ia juga sangat penasaran untuk apa mantan majikannya menemui langsung emak yang belum lama bekerja di rumah ini.


Emak pun duduk. Sebelum akhirnya ia mendengar semua ucapan Steve.


"Langsung saja. Selama saya membantu biaya sekolah anakmu, saya tak pernah tahu siapa nama anakmu. Dan baru akhir-akhir ini saya terpaksa mencari tahu sendiri setelah semuanya ada kaitannya dengan putriku", jelasnya panjang lebar.


"Iya Pak. Maaf saya juga tidak tahu kalau Non Jessy putri Bapak. Dan kalau boleh saya tahu apa yang di lakukan anak saya, sampai-sampai Bapak langsung datang menemui saya?", tanya emak.


"Kesalahan anakmu bagi saya cukup besar. Berani-beraninya ia mendekati anak saya! Sampai-sampai Jessy melawan saya hanya demi membela anakmu!", tuduh Steve.


"Jauhkan anakmu dari putriku! Kalau kamu masih ingin mendapatkan beasiswa itu untuk anakmu!", ucapnya lebih tegas.

__ADS_1


Perkataan yang sangat menusuk. Namun Emak tidak bisa menjawab. Ia hanya mampu berdiam. Karena pada dasarnya dialah yang mengharapkan beasiswa itu untuk Jovan dan tanpa sepengetahuan Jovan.


Selama ini Emak telah menyimpannya. Hanya karena ingin Jovan tak mencari tahu siapa orang yang telah membantunya agar tidak merasa terbebani dan bisa fokus pada sekolahnya.


__ADS_2