SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 45 PERSETERUAN DIMULAI


__ADS_3

Suara sepatu pantofel menggema memenuhi koridor yang saat itu terlihat sepi. Tak ada orang yang lalu lalang karena ini belum memasuki jam besuk rumah sakit.


Pria yang berjalan dengan sangat percaya diri. Tatapan angkuh yang dimilikinya tak pernah berubah meski sudah beberapa tahun tak melihatnya.


"Hallo sayang, gimana kondisimu saat ini?", tanyanya pada putri kesayangan.


"Baik Papa. Kessy sudah bisa pulang nanti", ucapnya memberitahu.


"Benarkah? Papa seneng dengernya", mengusap puncak kepala.


Jessy hanya memperhatikan interaksi mereka sambil sesekali mempermainkan ponselnya. "Papa tahu tidak ternyata Mama kenal dengan Om Dokter ganteng yang suka memeriksa Kessy selama disini", ceritanya dengan penuh ceria. Tak bisa membohongi perasaan sukanya. Namun tidak untuk sang Papa yang tiba-tiba berubah menampilkan aura dingin.


Bagas menatap Jessy sekilas yang dari tadi nampak tenang dan diam saja. "Om Dokter ganteng? Siapa namanya?", tanya Bagas penasaran. Orang seperti apa yang selalu putrinya ceritakan dengan sangat ceria itu.


"Namanya Om Jovan. Apa Papa juga mengenalnya?", tanyanya penasaran. Ingin segera mendapat jawaban dari sang Papa.


"Ehm...sepertinya Papa lupa sayang. Boleh Papa pinjam Mama sebentar ya", pintanya lalu mengajak Jessy keluar.


Kessy hanya mengangguk. Mungkin ada hal penting yang harus di bicarakan papanya diluar. Ia bersikap layaknya anak kecil yang memilih asik kembali memainkan bonekanya.


"Siapa Jovan?", pertanyaan dari Bagas pada Jessy. Ia sengaja membawa Jessy ke taman agar bisa leluasa bicara berdua.


Rupanya Bagas belum melihat aku waktu itu. Atau mungkin ia pura-pura acuh malas mengenalku. Dengan pertanyaannya ke Jessy barusan, sedikit banyak berarti ia ingat denganku. Musuh bebuyutannya dari sekolah dasar.


"Apa aku harus memperjelas siapa dia kalau kamu sendiri sangat mengenalnya", jawab Jessy tak kalah angkuh. Ternyata hubungan mereka berdua belum membaik seperti yang ku bayangkan. Dan Bagas masih tetaplah Bagas yang dahulu meski penampilannya berubah. Tetap saja over protektif dan angkuh.


"Jadi benar dia Jovan si tengil itu? Mengapa kamu tak memberitahuku kalau dia bertemu denganmu? Haa?", selidik Bagas dengan nada tinggi.


"Sampai aku harus tahu dari anakku", keluhnya.


"Memangnya kenapa? Lagipula aku hanya menyapanya", jawab Jessy jujur.


"Jangan kamu kira aku tak tahu kalau kamu diam-diam mencari tahu tentang dia dari Amel", tunjuk Bagas ke arah Jessy.

__ADS_1


"Diam-diam kamu kepo terhadap kehidupannya. Aku tahu semuanya Jessy", bentak Bagas lebih keras.


"Kalau sudah tahu lalu apa maumu?", tantang Jessy.


"Kamu tahu rumah sakit ini milik siapa. Jika dia berani menyinggungku lagi aku bisa pastikan dia dipecat dari rumah sakit ini", ancam Bagas.


"Lakukanlah! Lakukan jika itu bisa membuatmu puas. Jangan mentang-mentang kamu orang yang berkuasa bisa seenaknya saja menggunakan kekuasaanmu. Kamu tidak lebih dari seorang anak mami yang semua keinginanmu harus dipenuhi", ucap Jessy penuh tekanan.


"Aku capek Gas! Capek harus selalu menuruti keinginanmu. Kamu selalu mengekangku. Tidak memberi kebebasan padaku sedikitpun untuk memilih. Tidak pernah mengijinkan aku menentukan bahagiaku sendiri", keluh Jessy sambil terisak tangis.


"Kamu.......", bentaknya sambil mengangkat tangan ingin menampar.


"Pukul. Pukul lagi. Kalau perlu bunuh saja sekalian!", teriak Jessy.


Bagas segera menurunkan tangannya. Ia hilang kendali. Dan baru menyadari kalau mereka sekarang di lingkup rumah sakit. Kemudian memilih meninggalkan Jessy yang masih duduk sambil terisak.


Di gedung lantai tiga. Sepasang mata tak sengaja menangkap perkelahian mereka.


Apa yang ku lewatkan dari hubungan keduanya? Bukankah mereka sudah menikah dan memiliki anak? Bukankah seharusnya rumah tangganya baik-baik saja.


"Jo, kamu nggak makan?", kedatangan Kintan membuatku menghentikan pikiran-pikiranku sebelumnya.


"Enggak. Kamu beli apa?", tanyaku melirik makanan yang dibawanya.


"Ini aku habis beli rujak pesan online. Kamu mau?", ia menawariku memakan rujak.


"Eh jangan deh. Kamu belum makan nasi. Mau aku pesankan ya!", tanpa mendapat persetujuan dariku ia pun langsung memesan menu favoritku. Nasi padang. Itulah Kintan setiap harinya.


Akhirnya aku hanya pasrah menunggu nasi padang datang. "Jo, nanti sore aku ikut ke rumah ya. Kangen sama Emak", pintanya yang langsung aku angguki kepala.


Sore itu. Aku pulang bersama Kintan. Aku memenuhi permintaannya yang hendak bertemu dengan emak. Kintan memang sering menemui emak meski tidak adanya aku dirumah sekalipun.


"Tapi sorry nanti aku tinggal ya. Aku ada janji sama Dodi".

__ADS_1


"Santai aja, aku kalau ke rumah kamu kan memang sudah sering kamu tinggal pergi", sindirnya.


Di perjalanan ke arah parkir. Aku menangkap sosok yang begitu aku kenal. Jessy. Sedang bersama Kessy hendak masuk ke dalam mobil.


Aku berusaha menghindar. Karena sudah pasti ada Bagas di depan kemudi. Tapi keburu Kessy melihatku dan memanggil namaku.


"Om...Om Dokter", teriaknya keras sekali. Langkahku bersama Kintan menjadi terhenti.


Dengan terpaksa aku menghampirinya. Terlihat Jessy juga mengurungkan niat masuk ke mobil. "Dah mau pulang ya? Hati-hati ya!", ucapku dengan wajah setenang mungkin.


"Iya. Ini semua kan juga berkat Om Dokter yang udah bantu untuk kesembuhan Kessy. O ya Kessy minta nomer ponsel Om saja deh. Soalnya tanya ke Mama, nggak tahu rumah Om", dengan polosnya menjelaskan.


Terdengar pintu dibuka dari arah depan. Menampilkan sosok yang penuh dengan tatapan tajam. "Kessy, cepat masuk. Kamu masih perlu banyak istirahat untuk pemulihan", ucapnya.


"Tapi Kessy mau minta nomer Om Dokter".


"Tidak perlu. Nanti Papa yang akan menghubunginya", ucapnya tegas.


"Jadi Papa udah tahu nomer Om Dokter?", tanyanya masih dengan kepolosan.


"Kessy masuk!", perintahnya seakan tak terbantahkan.


Kessy akhirnya masuk ke mobil. Tidak berani berucap lagi. Ia bisa menyimpulkan kalau papanya tidak suka dengan om dokternya itu. Terlihat dari tatapannya.


"Ku peringatkan kepada Anda! Jangan terlalu dekat dengan putri saya! Karena saya tidak akan pernah mengijinkannya bergaul dengan Anda!", ucapnya datar penuh penekanan. Kembali masuk ke dalam mobil tanpa menungguku berbicara. Mobil melesat meninggalkan kami berdua. Aku dan Kintan.


Mungkin Kintan bertanya-tanya siapa dia. Namun seperti biasa ia enggan bertanya kalau aku tidak mengawali.


"Ayo masuk ke mobil", ajakku padanya.


"Mungkin kamu terkejut melihat barusan", akhirnya aku membuka suara setelah kami masuk ke mobil dan sudah berkendara.


Kintan menoleh seakan menyimak apa yang akan aku ceritakan padanya.

__ADS_1


"Dia siapa? Maksudku orang tua Kessy apa kalian saling mengenal?", itulah pertanyaannya pertama padaku.


Jangan terlalu percaya diri, dengan kekuasaan bisa melakukan segalanya. Karena diatas langit masih ada langit. (nie yha)


__ADS_2