
Sesuai ucapannya. Malam ini ayah Dodi pergi ke rumah Jovan memberi kabar pada Emak. Sebenarnya beliau tidak akan membeli tanaman hias malam-malam begini. Tapi demi untuk membantu Jovan terpaksa berbohong.
Tidak rela membiarkan putranya berangkat ke rumah Jovan malam-malam begini. Dan tidak ingin juga melihat Jovan merasa tidak enak dengannya. Oleh karenanya memilih untuk berbohong demi sebuah kebaikan.
Pagi hari. Suara burung berkicau nampak ramai. Jovan dan Dodi merasa silau ketika ada seseorang menyingkap gordyn kamar membangunkan mereka untuk sholat subuh.
"Subuh dulu Nak, sudah jam lima lebih lho!", ucap ibu Dodi masih sibuk menyingkap gordyn yang sebelah lagi.
Dodi langsung bangun bersandar di tembok. Sedangkan aku merintih kesakitan ketika mencoba untuk bangun. Ternyata pusing di kepalaku belum sembuh betul. Padahal dari semalam aku sudah cukup beristirahat.
"Sholat sambil duduk bersandar nggak papa Nak!", ucap ibu Dodi lagi. Aku hanya patuh. Sementara Dodi bangkit mengekori ibunya.
Jam enam pagi keluarga Dodi sudah berkumpul di meja makan. Sebelum mereka pergi dengan aktivitas masing-masing.
Aku yang sudah merasa tidak
sepusing tadi pagi saat bangun tidur, ikut dengan Dodi bergabung bersama mereka.
"Lhoh, kenapa kesini? Biar ibu antar saja ke kamar makanannya!", ucap ibu Dodi penuh perhatian. Sungguh perlakuan keluarga ini membuatku terharu.
"Tidak usah Bu. Jovan sudah enakan".
"Bagaimana pusingmu? Kalau belum kembali vit jangan dipaksakan ke sekolah", jelas ayah Dodi.
"Sudah tidak apa-apa Pak! Terimakasih atas bantuan Bapak dan keluarga yang telah menolong saya", ucapku sopan.
"Jangan sungkan. Kami tulus menolongmu! Kamu anak yang baik. Pantas mendapatkan itu", kata-katanya bijak.
"O ya biar Bapak antar ke sekolah kalian! Kita berangkat bersama", ucapnya lagi.
__ADS_1
Setiba di sekolah. Bel langsung berbunyi karena tadi sempat mengalami kemacetan panjang. Seperti biasa suara murid berhamburan menuju kelas masing-masing.
Ibarat kata anak ayam yang lari hendak menyusul induknya pergi ke kandang karena tidak ingin tertiggal. Seperti itulah gambaran suasana pagi hari.
"Wah gawat hari ini ulangan matematika. Mana aku belum belajar lagi", teriak salah satu siswa.
"Sama aku juga. Semalam aku habiskan buat nonton drakor", sahut seorang siswi.
Percakapan panjang yang hanya membahas mereka tidak belajar terjadi di kelasku. Aku dan Dodi seperti biasa hanya menyikapi mereka dengan tenang.
Hingga suara ketukan sepatu berjalan di lantai memasuki ruangan kelas. Mengagetkan mereka yang masih bergerombol membentuk team gibah.
Membuat hening seketika ruangan kelas. Tidak ada lagi yang berani bersuara. Mereka menerima kertas ulangan yang dibagikan ketua kelas dengan terpaksa lapang dada meski apapun itu jawaban mereka nantinya.
Jam istirahat pertama berbunyi. Menampilkan tawa sumringah dan nyaring terdengar dari mereka yang bisa bernapas dengan lega. Bagaimana tidak? Dua mapel sekaligus secara berurutan semuanya mengadakan ulangan. Sungguh membuat kelabakan.
"Jo, ayo ke kantin!", ajak Jovan.
Akhirnya Dodi pergi lebih dulu ke kantin. Ia melihat Jessy berjalan ke arahnya. "Dimana Jovan? Kamu temannya kan?", tanya Jessy pada Dodi.
"Dia ada di kelas. Untuk apa mencarinya? Ini akan sangat membahayakan Jovan!", tegas Dodi pada Jessy.
"Aku janji hanya sebentar. Aku akan minta maaf padanya", ucap Jessy langsung berlari ke kelas Jovan. Tanpa mempedulikan Dodi yang mengingatkannya.
Namun rasa was-was dalam diri Dodi yang terlalu besar. Membuat ia urung ke kantin. Memilih menunggu di luar pintu. Berjaga-jaga kalau sampai Bagas melihat dan akan membuat kekacauan.
Ia pun bertanya-tanya. Kenapa sampai Jessy bisa ke kelasnya menemui Jovan. Biasanya gadis itu kan kemana-mana dibuntuti Bagas?
Jovan yang masih membenahi mejanya dari tumpukan buku-buku pelajaran. Kaget ketika Jessy memanggil namanya di depan pintu berdiri tegak melihat ke arahnya.
__ADS_1
Dengan tatapan yang sulit diartikan, ia melangkah ke arahku. Duduk di kursi kosong sampingku. Yang merupakan kursi tempat duduk Dodi ketika pelajaran.
"Maaf Jo, atas kejadian soal kemarin. Aku meminta maaf atas nama Bagas", ucapnya sambil berkaca-kaca.
"Tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salahmu!", aku menatap Jessy sekilas kemudian sibuk kembali dengan buku-bukuku.
"Bagaimana dengan lukamu?", Jessy hendak memegang pipiku tapi aku lebih dulu menghindar. Tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi kalau Bagas mendapati kami.
"Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja. Sekarang kembalilah ke kelas. Aku tidak ingin Bagas salah paham lagi denganku!", ucap Jovan sedikit memohon.
"Tapi.....", ucapnya menggantung setelah aku memberi anggukan. Dengan sorot mataku yang penuh harap. Akhirnya Jessy pergi meninggalkan kelasku.
Ada rasa tidak rela dia pergi meninggalkan aku begitu saja tapi aku bukan siapa-siapa.
Aku menyukaimu. Kamu adalah cahaya yang ku temukan di saat yang lain mengabaikanku. Kamu begitu cemerlang tapi sulit untuk ku gapai. Karena kita memang tak sama.
Ku tatap punggung itu yang seketika tak terlihat lagi. Dodi segera masuk menghampirku. "Apa kamu di luar saat ia datang?", tanyaku.
Dodi mengangguk. Dengan jawaban iya. "Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan Jessy. Itu akan sangat berbahaya bagi keselamatanmu. Dan kelangsungan belajarmu disini. Ku lihat dari tatapannya dan kekhawatirannya kepadamu tadi, aku yakin Jessy juga menyukaimu", Dodi menasehati. Seperti biasa iya selalu bisa menebak tanpa meleset sedikitpun. Dia bak paranormal bagiku yang bisa membaca perasaan orang.
"Aku tahu. Aku juga kaget dia tadi menghampiri ke kelas ini. Biasanya kan dimana ada dia, selalu ada Bagas di sampingnya".
"Ya sudah semoga ini yang pertama dan terakhir ia datang menemuimu di sekolah. Aku tak rela kalau sahabatku ini kena pukul lagi dan babak belur!", ucap Dodi sambil menepuk bahuku. Kami pun berdiri dan segera pergi ke kantin untuk membeli cemilan. Karena waktu istirahat hanya tersisa tujuh menit saja.
Waktu pulang sekolah tiba. Dodi mengantarku pulang ke rumah. Aku tak lagi takut untuk bercerita keadaanku pada Emak. Karena tidak mungkin aku tinggal di rumah Dodi sampai luka di wajahku ini sembuh.
Hanya saja aku tidak akan bercerita yang sebenarnya terjadi pada Emak. Aku tidak ingin membebani pikiran Emak apalagi ini soal Jessy. Pasti Emak akan marah padaku dan memintaku untuk menjauhi Jessy.
Memang aku akan menjaga jarak dengannya sesuai saran Dodi. Tapi untuk menjauhinya dengan tidak memperhatikan setiap gerak geriknya aku tak bisa.
__ADS_1
Terkesan egois memang. Aku yang telah menyadari tak sebanding dengannya ini masih berharap untuk terus memperhatikannya. Bukankah itu sama halnya aku mengharapkan untuk dekat dengannya? Oh mengapa perasaan sukaku padamu harus seperti ini hanya karena kita berbeda.