
Keesokan hari. Sang mentari masih terlihat malu menampakkan sinarnya. Pagi ini adalah awal memasuki semester pertama di kelas dua. Jovan pagi-pagi sudah rapi menyisir rambutnya.
Memakai parfum yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu. Tas compang camping yang biasa ia pakai dulu kini sudah tiada lagi.
Semenjak emak bekerja di rumah Jessy dan biaya Jovan sekolah di tanggung beasiswa, perekonomian mereka sedikit demi sedikit mulai membaik.
Meski keadaan ekonomi tak seburuk sebelumnya tapi orang masih akan sama memandang mereka. Masih seperti tak nampak.
Begitu juga teman di sekolahnya. Hanya Dodi yang mau menjadi temannya. Yang lain hanya memandang rendah sebagai anak penerima beasiswa yang tak setara dengan mereka.
Jovan pamit dengan emak kemudian berangkat ke sekolah. Mengayuh sepedanya perlahan. Berusaha agar tidak mengeluarkan keringat banyak yang akan membuat basah seragamnya.
"Hei, tumben berangkat lebih awal dari biasanya", sapa Dodi sahabat baiknya.
"Halah, baru selang lima menit", jawab Jovan. Keduanya senang bercanda. Dan saling melempar bahan candaan.
Sesampainya di sekolah. Banyak anak-anak yang berangkat lebih awal dari hari biasanya. Mereka berebut tempat duduk berdasarkan keinginannya.
Semua mata tertuju pada pasangan yang datang dengan menaiki mobil yang sama memasuki halaman sekolah. Banyak para wanita berteriak seolah tahu siapa yang datang.
Ya, Bagas meski berwatak jahat tapi ia memiliki wajah tampan. Dan itu menjadi pusat perhatian para kaum hawa. Apalagi dia berasal dari keluarga kaya. Menambah nilai plus dalam dirinya untuk diperebutkan.
Namun seketika mereka terdiam saat Bagas membukakan pintu untuk seseorang yang ada di sampingnya. Banyak kaum hawa bertanya-tanya Bagas berangkat dengan siapa.
"Wah cantik banget", ucap salah satu siswi.
Semua mata memandangnya. Bak melihat idola sekolah yang sedang naik daun. "Mereka serasi sekali. Yang satu tampan yang satunya cantik", sahut yang lain.
Jovan yang tadinya sedang duduk asyik membaca. Seketika bergabung di kerumunan masa yang sedang bercakap-cakap memuji keindahan di depan mata.
"Jo, kamu lihat siapa yang datang. Kabarnya dia cewek Bagas dari London", ucap Dodi memberitahu Jovan.
Jovan hanya diam setelah melihat itu Jessy. Jessy sahabatnya yang kini sedang bersama Bagas. Bukan ini yang ingin ia lihat dan dengar di hari pertama masuk.
__ADS_1
Bahkan ia tak ingin melihat Jessy lebih lama lagi. Karena sampai saat ini Jessy tak menemuinya atau sekedar menghampirinya.
Sadar Jo, sadar. Kita berbeda dunia. Dan selamanya akan tetap tak sama dan bisa setara dengannya. Ucapnya sambil mencubit-cubit kedua pipinya.
"Kamu kenapa Jo?", tanya Dodi yang melihat keanehan sahabatnya.
"Tidak papa. Ayo pergi ke kelas", ajaknya. Lalu pergi duluan dan diikuti Dodi dibelakangnya.
Di dalam kelas Jovan terus berdiam diri. Dodi yang melihat sahabatnya tak seperti biasanya, menaruh curiga. "Kamu kenapa sih Jo? Dari tadi diam saja. Apa tidak mau berbagi cerita denganku?", tanyanya.
"Sebenarnya aku mengenal cewek tadi".
"Siapa? Yang tadi bersama Bagas?", tanya Dodi semakin penasaran.
"Iya namanya Jessy. Dia adik kelasku dulu. Tapi tiba-tiba pindah ke London ikut papanya".
"Lalu kenapa tadi kamu menghindar dan tidak menyapanya?".
"Sepertinya dia sudah melupakanku. Nyatanya dia pergi begitu saja dan pulang kembali tanpa memberiku kabar".
Lama keduanya berbincang, tiba-tiba walikelas datang memasuki kelas. Memperkenalkan diri pada siswanya. "Hallo anak-anak. Perkenalkan saya Bu Wati walikelas kalian yang baru. Selamat datang di kelas 2B. Semoga kalian bisa mengukir prestasi dengan baik ke depannya".
Semua siswa serentak menjawab. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian kepengurusan kelas. Dimana walikelas menunjuk Jovan sebagai ketua kelas.
Tapi hanya Dodi yang memilih setuju. Sedangkan teman lainnya tidak memeberikan pilihan. Dan hanya memilih kertas kosong alias golput.
Karena hanya memiliki satu suara akhirnya walikelas tetap menetapkan Jovan sebagai ketua kelas mereka. Hal ini bukan tanpa alasan. Semua berdasarkan pertimbangan. Salah satunya Jovan memiliki prestasi di atas rata-rata dari kelas satu.
Beberapa jam berlangsung dengan lancar. Jam istirahat pun tiba. Dodi berniat untuk mentraktir Jovan hari ini. Karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Jo, hari ini kamu bisa pesan apa aja. Nanti biar aku yang bayar", ucap Dodi.
Jovan dan Dodi berangkat menuju kantin sekolah. Ketika hendak memesan sebuah minuman Jovan berpapasan dengan Jessy. Namun Jovan hanya tersenyum padanya lalu pergi.
__ADS_1
"Kak, Kak Jovan!", panggil Jessy. Namun belum sempat Jovan membalas. Tangan Jessy sudah lebih dulu ditarik oleh Bagas.
"Hei, sudah pesan makannya?", tanya Bagas pada Jessy.
Jessy hanya mengangguk kemudian mengikuti kemana Bagas mengajaknya duduk. Pandangan Jessy terus mengarah kepada Jovan. Seperti ingin menyampaikan sesuatu hal.
Kalau di sekolah dasar ia memiliki tempat persembunyian yang tidak diketahui orang lain. Tapi kalau di sekolah menengah pertama ini semua hal yang dilakukan Jessy diketahui oleh Bagas.
Karena mamanya Jessy telah menitipkan Jessy kepada Bagas. Meminta Bagas untuk menjaga Jessy di sekolah. Dan kemanapun Jessy pergi Bagas selalu mengikuti.
"Di, kita makannya bawa ke kelas saja ya. Aku pesan cemilan aja kok", ucap Jovan. Ia tak mau terus dilihat oleh Jessy berada lama disitu.
Akhirnya Dodi menyetujui. "Yakin mau pesan camilan saja?", tanya Dodi memastikan.
Jovan mengangguk. Kemudian mereka mengambil beberapa makanan ringan dan membayarnya lalu pergi.
Jessy masih terus memandang Jovan pergi. Ia tahu mungkin Jovan kecewa dengan dirinya. "Ayo dimakan kenapa diam saja?", tanya Bagas pada Jessy.
Jessy kemudian memakan makanan yang di pesannya tadi. Bagas terus mengajaknya bicara dan bercerita. Namun Jessy tidak bisa menangkap cerita Bagas. Karena ia tidak bisa fokus. Dalam otaknya hanya memikirkan Jovan.
"Pulang sekolah nanti temani aku main basket ya!", ajak Bagas.
"Jess, kamu dengerin aku nggak?".
"Eh iya. Nanti ya. Oke aku temani kamu".
Bagas sengaja membawa Jessy ke pertandingan basket nanti. Karena kebetulan kelas Bagas bertanding melawan kelas Jovan. Bagas ingin semua orang tahu kalau Jessy hanyalah miliknya. Meski belum ada ikatan di antara keduanya.
Bagas tak peduli. Yang jelas kedua orang tuanya sudah setuju mereka bersatu. Berhubungan lebih dari sekedar sahabat sekalipun.
Bagas senang . Jessy mau menemaninya. Dengan begitu semua orang akan tahu hubungan antara keduanya sedekat apa. Ia senyum-senyum sendiri. Penuh kegirangan dalam hatinya.
"Gas, kamu kenapa? Tapi nggak sampai larut sore kan?", tanya Jessy.
__ADS_1
"Iya nggak sampai sore banget kok. Lagian nanti aku telfon tante Eva dulu deh", ucapnya. Membuat Jessy tenang.