SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 21 PENGUMUMAN PAJAK JADIAN


__ADS_3

Setelah selesai makan di kantin satu persatu mulai pergi membayar di kasir. Namun seketika langkah mereka terhenti karena mendengar pengumuman dari Bagas yang tiba-tiba berdiri mengumumkan sesuatu.


"Untuk hari ini yang makan di kantin, gue yang bakal traktir bayarin kalian semua!", ucapnya lantang sehingga semua penghuni kantin mendengar.


"Ciee....yang kasih pajak jadian nih!", seru salah seorang teman yang duduk tak jauh dengan Bagas.


Tak banyak yang bersorak gembira karena mendapat gratisan. Mereka berhambur mengucapkan terimakasih pada Bagas. Dan Bagas menyambut mereka dengan senang hati sekaligus bangga.


Berbeda dengan ekspresi yang ditunjukan Jessy saat itu. Jessy menampakan wajah datar seperti tak senang dengan pengumuman Bagas saat ini.


Begitu pula dengan Mona dan segerombolan temannya. "Wah dapet saingan berat Lo Mon!", celetup temannya yang langsung mendapat bentakan dari Mona. "Diam Lo! Berisik!", Mona langsung pergi meninggalkan kantin sekolah.


Flashback on.


Ya, kemarin setelah maghrib Bagas menepati janjinya berkunjung ke rumah Jessy. Mungkin terdengar tidak aneh karena keluarga dan rumah mereka dekat.


Tapi kali ini kedatangan Bagas memberi kejutan bagi Jessy dan mamanya. Secara terang-terangan diusianya yang masih sebiji jagung menyatakan perasaannya kepada Jessy.


Sontak membuat Jessy tak percaya. Bahwa Bagas akan menukar hubungan kekerabatan di antaranya dengan hubungan yang lebih serius di usia dini. Parahnya lagi ia membawa serta kedua orang tuanya.


"Tidak apa-apa kalau kamu sekarang tidak cinta dengan Bagas. Tapi suatu saat nanti kamu pasti akan menyukainya. Karena cinta berawal dari adanya kebersamaan yang terjalin", ungkap pak Alex papanya Bagas sore itu.


Jessy tak bisa berkutik kala itu. Tak punya alasan juga untuk menolak. Selama ini keluarga Bagas memang baik padanya. Dan juga tak sekalipun Bagas menyakiti keluarganya.


Terlebih setelah perceraian kedua orang tuanya papanya menitipkan Jessy pada keluarga Bagas. Karena tahu mama Jessy sangat sibuk dan jarang di rumah. Sehingga keluarga Bagas lah yang sering membantunya.


Entah ini yang dinamakan memberi kesempatan atau hanya merasa tidak enak karena harus membalas budi baik mereka. Dengan ragu Jessy menerima Bagas sebagai kekasihnya.


Papa Jessy yang menyaksikan itu lewat sambungan video call tersenyum puas melihat putrinya bisa bersatu dengan Bagas anak sahabatnya. Yang memang sedari dulu sudah menjadi kesepakatan dan rencana keduanya. Steven dan Alex.


Sedang Eva mama Jessy. Ia hanya memberikan senyum. Walau kenyataan dalam hatinya sakit. Ia merasa kasihan dan tak tega pada Jessy. Karena secara tak langsung ini merupakan sebuah perjodohan.

__ADS_1


Flashback off.


"Nggak usah diumumin gitu kali, kalau mau traktir ya traktir aja", protes Jessy pada Bagas yang saat itu tengah sibuk mendapat ucapan selamat.


"Why? Apa kamu keberatan? Lagipula biar tidak ada orang yang mengincarmu lagi dan berangan-angan untuk jadi kekasihmu!", sindir Bagas dengan keras. Rupanya Bagas telah menyelidiki kalau Jovan menaruh rasa pada Jessy yang saat ini menjadi kekasihnya.


Jovan dan Dodi sudah kembali ke kelas. Setelah mereka membayar makanan mereka sendiri. Tak ingin menerima traktiran dari Bagas.


"Jo, kira-kira siapa ya yang dimaksud Bagas tadi?", tanyanya pada Jovan penasaran. Dan langsung membuat Jovan gelagapan. Meski tidak diungkapkan dan tanpa disadari Jovan memang menaruh rasa pada Jessy.


"Nggak tahu", jawabnya setelah sempat gelagapan.


"Jo, jangan coba menyembunyikan sesuatu dariku. Karena aku pasti akan mengetahuinya", ancam Dodi dengan nada menuntut.


"Kalau udah tahu kenapa nanya?", ucap Jovan santai. Ia terlihat putus asa.


"Jadi yang dimaksud Ba...", ucapannya terpotong setelah mulutnya dibungkam oleh Jovan. Takut seisi kelas mengetahuinya .


"Pelankan suaramu! Kamu mau aku di bully satu kelas lagi?", sambil menurunkan tangannya.


Dodi masih tak percaya temannya berani menaruh rasa pada seorang Jessy. Wanita sempurna di mata lelaki merupakan idola satu sekolah. Tapi ia juga tak bisa menyalahkan perasaan yang dimiliki temannya. Karena cinta bisa datang kapan aja dan untuk siapa aja.


Dodi hanya bisa menasehatiku. Agar aku tak mencari masalah dengan Bagas. Karena mulai sekarang apapun yang menyangkut Jessy merupakan masalah Bagas juga.


*****


Benda bulat yang berada di dinding berputar dengan cepat. Tak terasa waktu berubah begitu saja. Hingga pagi pun datang. Tepatnya di hari minggu.


Jovan membuka matanya ketika rumah sudah terlihat kosong dan hanya dirinya yang ada. Emak pasti sudah berangkat bekerja. Meski ini hari minggu ia tetap berangkat ke rumah Jessy.


Emak mengijinkan Jovan tidur lagi setelah sholat shubuh di setiap hari minggu. Jadi ia tak heran kalau mendapati Jovan masih terlelap tidur ketika berangkat bekerja.

__ADS_1


Aku beranjak duduk. Sambil sesekali masih menguap dan mengusap kedua mataku yang masih terasa mengantuk. Nyawaku belum terkumpul sepenuhnya.


Setelah cukup membuat nyawaku terkumpul kembali, aku segera mengambil air untuk mandi. Keadaan rumahku masih sama. Belum mengalami perubahan karena renovasi. Hanya saja kini aku memiliki kamar mandi sendiri.


Karena aku tak tega jika emak bangun tengah malam untuk buang air harus keluar rumah. Sehingga aku dan emak membuka uang yang sudah kita kumpulkan untuk membuat kamar mandi di dalam rumah.


Tepat jam sembilan pagi. Aku menepati janji mengayuh sepedaku ke rumah Dodi. Untuk pergi memancing. Jalanan yang mulai panas, membuatku berkeringat.


Aku berhenti sejenak di pinggiran trotoar mengelap keringatku yang sudah lengket. Ketika seseorang dengan membonceng motor besar melewatiku dengan begitu saja.


Dia adalah pasangan yang baru ngehits di sekolahku. Siapa lagi kalau bukan Jessy dan Bagas.


Kenapa harus sesakit ini perih yang kurasa? Ketika melihat tangannya memeluk erat pinggang Bagas tanpa pembatas.


Ku kayuhkan lagi sepedaku. Setelah keduanya berlalu semakin jauh. Tidak ingin Dodi dan bokapnya menunggu lama.


Sepuluh menit kemudian aku telah sampai di depan rumah Dodi. Rumah bercat putih dengan pagar besi berwarna hitam.


Aku tahu Dodi anak orang berada di banding denganku ia jauh lebih beruntung. Memiliki keluarga yang masih lengkap dan harmonis.


Bapak ibunya adalah seorang guru sekolah menengah pertama di sekolah swasta. Tapi keluarganya sangat hangat. Dan sangat menghargai orang-orang seperti kami. Tak pernah memandang rendah orang tak punya.


"Ayo cepat langsung naik!", pekik Dodi yang sudah berada dalam mobil.


Mereka akan pergi memancing dengan menaiki mobil ayah Dodi. Jovan segera memarkirkan sepeda dan langsung masuk sesuai perintah Dodi.


Melihat temannya bercucuran keringat, Dodi langsung menyodorkan air mineral pada temannya itu. "Nih, haus kan?", memberikan.


"Terimakasih. Pagi Om!", sapaku pada ayah Dodi. Dan berbalas senyum dari raut wajahnya.


"Rumah Nak Jovan jauh tidak dari sini? Tahu gitu biar Bapak jemput saja tadi tidak usah bawa sepeda", ungkapnya membuat Jovan terkejut. Tak terasa di pelupuk matanya sudah ada yang mengalir dan jatuh begitu saja hanya karena ucapan ayah Dodi.

__ADS_1


"Tidak usah Om, malah merepotkan. Saya sudah terbiasa kemana-mana dengan sepeda. Itung-itung olahraga", jawab Jovan meyakinkan.


Seperti inikah mendapat perhatian dari seorang ayah? Ucapku dalam hati.


__ADS_2