SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAB 50 MABUK


__ADS_3

Jessy sampai di rumahnya jam sepuluh malam. Sebenarnya nggak tega lihat wanita yang aku cinta pulang malam dengan taksi online. Ada rasa was-was dalam diriku. Tapi ini juga demi menghindari perselisihan. Di antara kami bertiga. Aku, Bagas, dan Jessy sendiri.


"Darimana kamu? Anak sakit malah keluyuran", tegur Bagas di samping pintu kamar sambil bersedekap. Rupanya dia menunggu Jessy pulang.


"Lalu apa kabar dengan kamu? Yang Bapak kandungnya sendiri nggak becus ngurus anak!", Jessy tak kalah melawan.


"Sejak kapan kamu berani membentakku haah?", tanyanya pada Jessy seakan tidak terima di anggap kurang becus ngurus anaknya sendiri.


"Kenapa mau pukul lagi? Pukul ayo pukul sesukamu! Semakin ingin aku lepas dari kamu!", ancam Jessy.


"Lakukan kalau kamu mampu!".


"Baik akan ku buktikan! Papa harus tahu perlakuan kasarmu selama ini padaku", Jessy tak main-main. Keputusan untuk segera mengakhiri hubungan penuh tekanan ini semakin mantap setelah ia bertemu denganku.


Bagas hanya diam. Selama ini ia memang selalu main tangan. Dia pikir dengan main tangan Jessy akan takut dengannya. Tapi ternyata malah sebaliknya. Lama kelamaan Jessy semakin membangkang dan selalu mengancam pisah darinya.


Ia meninggalkan begitu saja Bagas yang masih diam memaku dengan ucapannya. Ia sadar, beberapa tahun berada di samping wanita itu tak pernah bisa meluluhkan hati wanita itu sedikitpun.


Justru keinginan kuat ingin berpisah darinya malah semakin santer terdengar ditelinganya. Begitu sulit merobohkan benteng pertahanan Jessy untuk bisa berbalik mencintainya.


Malam ini. Menjadi saksi bisu seorang Bagas memilih untuk diam merenungi perbuatannya. Langit mendung dan sembribit angin menemani tubuhnya yang bersandar di teras depan.


Harta kekayaan sudah ia punya. Apapun yang wanita minta akan ia turuti. Tapi satu yang ia tak bisa. Memenangkan hati seorang Jessy teman masa kecilnya.


"Argggghhhhhh", ia menghantam meja kayu di depannya.

__ADS_1


Jessy yang mendengar dari dalam kamar tak berani mendekat. Takut kena amukan juga. Karena disaat seperti itu, Bagas hanya butuh waktu sendiri. Untuk meluapkan segala emosi.


Tak lama kemudian terdengar mobilnya keluar dari halaman. Rupanya pria itu pergi di jam segini.


"Gas, Lo ada masalah rumah tangga apalagi? Lo nggak lagi ngehamilin anak orang lagi sampai orang tua Lo marah kan?", tanya Andi yang melihat temannya itu sudah meneguk beberapa botol minuman.


Meski dulu Andi sempat juga menyukai Jessy, tapi persahabatan mereka tetap nyambung sampai sekarang. Dan jika Bagas sedang berada di Indonesia seperti saat ini, mereka sering berkumpul sekedar nongkrong atau ngopi.


Lampu sorot yang remang-remang dengan perpaduan kerlap kerlip dan bunyi musik berdentum membuat semua larut terbuai dalam kenikmatan duniawi.


Disinilah Bagas berada. Di sebuah club malam bersama Andi dan Rangga.


"Gas, udah stop! Lo dah mabuk. Gue antar pulang ya!", ajak Rangga.


Bagas masih terus menenggak botol minuman. Tak menghiraukan ucapan kedua sahabatnya. Rangga hanya bisa menahan botol yang sudah dipegang Bagas untuk kesekian kali entah itu botol keberapa.


"Ngeyel sih ni anak. Kalau udah kaya gini kita juga yang repot. Ada masalah apalagi sih dia?", Andi mengomel sambil meraih lengan Bagas untuk di papah.


Rangga keluar duluan menyiapkan mobil. Sehingga begitu Bagas dan Andi sampai di depan, langsung bisa naik ke mobil. Sudah sekitar 15menit melajukan mobil namun mereka bingung harus membawa Bagas kemana.


Kalau dibawa ke rumah, sudah jelas pasangan suami istri nikah siri ini sedang ada masalah. Karena mereka sering mendengar keluhan Bagas yang menceritakan keadaan hubungan mereka selama berumah tangga.


Tak ada pilihan lain lagi selain membawa Bagas ke rumah orang tuanya.


"Tok...tok...tokkk", Andi mengetuk pintu sedikit keras setelah membunyikan bel belum juga ada yang keluar membukakan pintu.

__ADS_1


Jam segini sudah pasti kedua orang tuanya sudah tidur. Atau memang rumah sedang kosong ditinggalkan karena menjaga Kessy di rumah sakit.


Andi sempat frustasi. Mereka sudah hendak memutar tubuh dan kembali membawa Bagas. Namun sebuah kunci pintu terdengar sedang diputar dari dalam.


Ceklek.


"Ada apa dengan Bagas?", tanya laki-laki paruh baya yang tak lain papa Bagas.


Ketika mendekat bau alkohol menyengat barulah ia sadar apa yang terjadi dengan putranya. "Cepat bawa masuk dia ke dalam kamarnya", titahnya kemudian.


Papa Bagas meminta penjelasan kepada Rangga dan Andi. Dengan gamblang mereka berdua menceritakan kepada papa Bagas sesuai yang diketahui mereka. Papa Bagas pun mengucapkan terimakasih pada mereka.


Papa Bagas menatap marah kepada putranya. Namun yang ditatap sudah tertidur pulas dengan pakaian yang belum diganti.


"Dasar anak tak berguna, ada masalah dikit selalu mabuk, bagaimana istrimu akan bisa mencintaimu?", gerutunya ke arah Bagas.


Sedang di sebuah kamar. Karena tidak kunjung bisa memejamkan mata. Jessy memilih keluar rumah menuju rumah sakit. Benar kata Jovan, anak itu tak bersalah. Tidak seharusnya Jessy juga membencinya.


Ia mengendarai mobilnya sendiri. Karena sudah memiliki akses masuk, dan pihak rumah sakit tahu kalau itu adalah mama dari pasien, Jessy bisa masuk dengan mudah.


Dilihatnya mama mertuanya yang sudah terlelap di samping Kessy sambil menggenggam tangan mungil itu. Hal yang belum pernah Jessy lakukan dan berikan selama ini.


Timbul rasa bersalah dalam dirinya. Meski kesalahan terbesar bukan dilakukan olehnya. Tapi semua wanita akan merasa bersalah ketika melihat anak kecil yang tanpa tahu apa-apa ini menjadi korban tak mendapat kasih sayang.


Kalau dia juga mengabaikan Kessy dan tak peduli dengannya, apa bedanya dengan ibu kandung Kessy yang pergi begitu saja meninggalkannya.

__ADS_1


Air matanya menetes begitu saja. Tak ingin membangunkan keduanya, ia pun segera menyeka air mata dan duduk di atas sofa. Disitulah Jessy merebahkan tubuhnya malam ini.


Menurut kalian, novel ini lanjut nggak ya...hayati lelah bang....cuma dilihat doang sedikit yang mendukung. Sedang di tuntut buat up terus.....


__ADS_2