
Siska begitu terkejutnya dengan kehadiran suaminya yang tiba-tiba pulang lebih awal. Mereka seketika menghentikan aksinya. Marvel yang berada tepat di belakang bosnya segera beringsut mundur karena tak berani menatap istri majikannya tanpa busana.
Biarlah mereka suami istri yang menyelesaikan masalah pribadi mereka. Marvel tahu betul bagaimana Steve begitu geramnya mendapati istri tercintanya berselingkuh dengan mantan pacarnya.
Kalau ia bisa mengambil pelajarannya, mungkin ini bentuk teguran dari Tuhan karena dia telah menyia-nyiakan wanita sebaik Eva. Tergoda dengan adik iparnya namun ternyata secara diam-diam ia masih menjalin hubungan dengan pacarnya.
Steve telah gagal menjadi suami dalam menjaga istrinya. Hal segila ini ia sampai kecolongan. Matanya telah buta dengan ucapan berbisa wanita itu. Yang menyatakan benar-benar tulus mencintainya.
Sekarang, apa yang kau tanam. Itulah yang kau tuai. Karena apa yang sudah kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. Dan nasi telah menjadi bubur. Menyesal sekalipun hanya akan sia-sia.
"Angkat kaki kalian dari rumahku!", bentak Steve semakin geram.
"Dan kau wanita, saat ini juga aku akan menceraikan!", bentaknya lagi tak kalah keras.
Bahkan Steve sendiri enggan menyebut nama wanita itu. Baginya kini Siska tak ubahnya hanya seorang wanita jalang. Pantas saja sampai sekarang ia belum bisa hamil.
Mungkin wanita itu menggunakan cara liciknya sengaja tidak ingin memiliki anak dengan Steve. Meski ia pernah berjanji dengan sangat meyakinkan Steve untuk segera memberikannya anak.
"Mas, aku bisa jelasin! Aku nggak mau kita sampai bercerai", ucapnya memohon setelah menggunakan pakaian lengkapnya.
Steve tak kunjung menanggapinya. Ia hanya mengibaskan kakinya yang di peluk oleh Siska. Berusaha untuk menyingkirkan tangan yang melilitnya seperti ular.
Sedangkan kekasih Siska bisa tersenyum sangat puas. Meski Siska tak lagi bisa memberikannya pundi-pundi uang dari Steve, tapi ia merasa senang wanitanya kembali menjadi miliknya seorang. Tanpa harus berbagi dengan pria lain.
"Vel, segera urus perceraianku dengannya!", teriak Steve karena tahu Marvel sengaja menunggunya diluar ketika melihat adegan panas tadi.
"Ba...baik Tuan", ucapnya sedikit gugup. Takut kena luapan amarah bosnya.
Siska terus menangis meraung-raung sambil memohon pada Steve. Tapi dengan segera kekasihnya membantunya untuk berdiri.
"Ayo kita pergi", ajaknya pada Siska.
__ADS_1
"Tidak, aku tak mau bercerai dengannya. Aku masih ingin disini", membuat kekasihnya jengkel dengan ulah Siska.
"Aku beri waktu satu menit untuk segera membawa kekasihmu itu dari rumahku. Kalau tidak ingin asistenku menyeretnya dengan paksa", ucap Steve dengan tatapan membunuh pada kekasih Siska.
"Sebaiknya Anda segera pergi dari sini", ucap Marvel dengan lantang. Memperingatkan mereka.
Akhirnya kedua pasangan yang gagal kaya itu segera pergi meninggalkan rumah Steve. Menyisakan Steve yang tiba-tiba meluapkan amarahnya begitu saja setelah kepergian mereka.
Ingin rasanya Steve meninju pria tadi tapi setelah di pikir-pikir untuk apa? Untuk apa dia melakukan itu sedangkan istrinya sama sekali tidak pantas dibela. Karena istrinyalah yang paling bersalah. Tapi rasanya kurang pantas jika harus melayangkan tinju kepada wanita.
Kini ia hanya bisa merutuki kebodohannya karena pernah tergoda dengan wanita berbisa itu.
Sore hari di Indonesia.
Emak tengah berkemas membereskan sisa pekerjaanya. Ia sudah memutuskan hari akan pamit kepada Eva majikannya. Bahkan alasan yang menurutnya tepat sudah ia siapkan dari semalam.
Ia tak mungkin bercerita yang sesungguhnya kepada Eva. Karena itu hanya akan memperkeruh hubungan mantan suami istri ini ke depannya. Dan dengan berbohong adalah cara terbaik dalam kondisi kepepet.
Banyak teman-temannya yang bertanya kepadanya. Padahal emak sangat rajin bekerja. Dan baru dua minggu yang lalu ia mengatakan pada teman-temannya kau betah bekerja disini.
Namun mengapa tiba-tiba hari ini akan pamit?
Biasanya Eva akan pulang ketika menjelang maghrib. Dan akan keluar lagi setelah isya' kalau ada urusan mendadak atau ada pekerjaan di luar.
Untuk itu, emak yang biasa pulang di antara jam 4 atau 5, kini masih duduk di belakang untuk menunggu Eva majikannya.
Beruntung saat itu Jessy sedang tidak ada di rumah. Karena siang tadi sepulang sekolah ia hanya terlihat mengambil buku pelajaran dan pergi lagi bersama Bagas dan Amel.
Ya, semenjak dipaksa berbaikan dengan papanya, Bagas kembali mengekornya lagi. Bahkan Jessy pergi dengan Amel sekalipun. Dia siap mengantar Jessy kemanapun pergi.
Terdengar deru suara mobil memasuki halaman rumah. Emak segera mengambil secangkir teh hangat kemudian dibawanya menemui Eva di ruang tengah setelah melihat Eva memasuki rumah beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Tehnya buk!", ucapnya sambil meletakkan nampan berisi teh hangat.
Eva hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia mengenal Emak selama ini, pekerja yang sangat rajin. "Ada apa Mak?", tanyanya karena melihat guratan raut wajah cemas dari emak yang masih berdiri mematung di depannya.
"Buk saya minta waktunya. Ada hal yang ingin saya sampaikan", ucapnya sesaat menjadi hening.
Eva langsung mempersilahkan emak duduk dan menyampaikan apa yang menjadi uneg-unegnya setelah menyesap teh buatan emak.
"Ada apa?", mata Eva menatap lurus ke arah emak. Menerka-nerka hal apa yang disampaikannya tapi tidak menemukan jawabannya.
"Mak, ada apa?", sampai ia mengulang pertanyaan yang sama karena emak belum juga bersuara dan menggantung rasa penasarannya.
"Saya mau pamit berhenti bekerja buk", ucapnya pelan. Akhirnya kalimat itu terlontar.
"Ada apa Mak? Apakah gaji yang saya kasih tidak cukup?".
"Sungguh bukan soal gaji buk. Tapi saya pamit karena diminta membantu di warung teman saya", ucap emak berbohong. Boro-boro membantu di warung, entah bisa mendapat pekerjaan lagi secepatnya atau tidak dia masih harap-harap cemas.
"Benarkah begitu alasannya? Sayang sekali, padahal saya sudah menyukai kinerja emak dari awal emak bekerja. Tapi karena ini keputusan emak, saya bisa apa".
"Sebentar, tunggu saya kembali Mak", pamit Eva menuju kamarnya.
"Ini Mak, saya harap emak menerimanya. Anggap saja karena saya suka dengan kinerja emak selama ini", ucapnya menyerahkan amplop coklat.
"Terimakasih buk, semoga Tuhan membalas semua kebaikan Ibu", terasa berat sebenarnya. Meninggalkan orang sebaik Eva. Yang mau menampung dirinya dengan gaji yang lebih besar dari sebelumnya.
"O ya, kalau emak suatu hari nanti tidak cocok bekerja di tempat teman Emak, Emak bisa kapan saja kembali kesini. Tidak perlu sungkan", bahkan Eva berpesan pada dirinya seperti itu.
Emak hanya mengangguk. Dan segera pamit pergi. Takut kalau Jessy akan segera pulang dan bertanya dan menaruh curiga terhadapnya.
Dengan langkah pelan juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya, ia pulang ke rumah.
__ADS_1