
Seperti biasa aku mengacuhkan perkataan mereka yang selalu merendahkanku. Aku melanjutkan langkahku untuk berkeliling melihat-lihat ruang sekolah.
"Hei, tengil. Sudah berani mengacuhkanku ya?", teriak Bagas.
Bugggg. Baru berjalan beberapa langkah aku di tabrak oleh seseorang berkacamata yang sedang terburu-buru. "Maaf-maaf, aku tidak sengaja. Tolong aku! Mereka mengejarku!", ucap orang itu.
"Siapa yang mengejarmu? Ada apa?", tanyaku.
"Nanti aku jelaskan. Pinjam badanmu untuk menutupi", dia menyuruhku berdiri di depannya dengan pura-pura membaca buku.
Aku melihat segerombolan anak seusiaku sedang mencari-cari seseorang. Apa yang dia takuti adalah anak-anak itu? Lalu mengapa dia harus takut?
"Sudah keluarlah! Mereka telah pergi".
"Terimakasih telah menolongku. Hmmm, namaku Dodi", mengulurkan tangannya dan aku menerimanya dengan senang hati. Setidaknya nasibku lebih baik daripada di sekolah dasar. Di awal masuk disini aku mendapat seorang teman.
"Aku Jovan!", balasku.
"O ya kenapa kamu dengannya? Apa ada masalah?", tanyaku kemudian.
"Aku tidak sengaja menabraknya tadi di kantin. Aku sudah meminta maaf kepadanya tapi dia malah menyuruhku berlutut di kakinya. Lalu aku berlari", jawab Dodi.
"Nasibmu sama sepertiku. Aku juga selalu ditindas oleh mereka orang-orang kaya".
"Ayo duduk disana kita bertukar cerita", ajak Dodi yang mulai akrab karena merasa senasib.
Mereka duduk di kursi halaman sekolah. Saling bertukar cerita asal mereka. Meski keadaan Dodi lebih beruntung daripada Jovan tapi keduanya bisa saling menerima.
Tak terasa sudah cukup lama keduanya berbincang. Mungkin ini malaikat kedua yang dikirim oleh Tuhan. Ada Dodi setelah Jessy pergi. Tak disangka mereka juga satu kelas.
Aku beruntung kali ini. Tidak sekelas dengan Bagas dan temannya. O iya aku lupa. Aku hanya anak beasiswa. Tentu mereka di kelas A. Sedangkan aku hanya bisa masuk di kelas B.
"Jo, kamu duduk di sebelahku ya!", ucap Dodi.
__ADS_1
Hari pertama masuk sekolah cepat berlalu. Karena hari ini hanya pembagian kelas dan buku pelajaran saja. Lagipula tidak ada yang spesial bagi Jovan.
Kalau di sekolah dasar mungkin tiap hari aku bisa melihat Jessy. Orang pertama yang menganggapku ada. Sangat berkesan sehingga sulit untuk di lupakan.
"Jo, kenapa melamun? Ayo pulang", ajak Dodi.
"Iya ini juga mau pulang".
"O ya kamu ke sekolah naik apa Jo?".
"Setengah perjalanan naik angkot selebihnya turun dan jalan kaki", jawabku.
"Ya sudah besok aku temani kamu naik angkot ya. Hari ini aku bawa sepeda jadi pulang duluan maaf ya".
"Iya santai saja. Hati-hati. Sampai berjumpa besok", ucap Jovan.
Dodi sudah berlalu dan tak terlihat lagi. Sementara aku masih menunggu angkutan umum. Sudah dua kali lewat tapi aku harus mengalah demi mengutamakan seorang ibu-ibu dan bayinya naik duluan.
"Haduh-haduh, tengil dari SD sampai sekarang juga belum berubah", ucap Bagas tiba-tiba.
"Maksudmu mau berubah apanya? Kalau miskin ya tetep aja miskin", sahut teman Bagas. Aku mengacuhkan mereka. Biarkan mereka sampai puas meledekku.
Selang lima menit angkutan pun datang. Lagi-lagi aku memberikan tempat dudukku untuk kakek paruh baya. Aku biasa berjalan kaki jauh jadi tak masalah bagiku untuk berdiri.
Tak lama aku telah sampai tujuanku. Pinggir jalan raya yang sudah dekat rumahku. Meski harus berjalan empat ratus meter lagi. Tapi itulah jarak terdekat dari jalan raya menuju rumahku.
Satu bulan, dua bulan, hingga menginjak tiga bulan telah ku lewati di sekolah menengah pertama ini. Aku bersyukur temanku satu kelas memperlakukan aku dengan baik meski hanya Dodi yang mau berteman dan menyapaku.
Paling tidak, nasibku tidak seburuk waktu dulu. Yang selalu dihina dan mendapat tatapan tajam dari murid satu kelas.
Hanya sesekali di jam istirahat Bagas dan segerombolan temannya datang menghampiri. Mereka terus saja mengangguku. Dan mengucapkan kata-kata hinaan. Tapi lagi-lagi ku acuhkan.
Hatiku seperti sudah kebal. Dan kesempatan ini aku gunakan untuk terus mengasah otakku fokus dalam pelajaran. Karena nasib beasiswa ini tergantung pada kemampuanku.
__ADS_1
Memang benar beasiswa ini direkomendasikan seseorang untukku. Tapi bukan berarti aku berpangku tangan. Itu sama halnya orang bekerja menerima gaji buta.
Aku harus bisa membuktikan kalau aku tidak mengecewakan. Dan aku memang pantas mendapatkannya. Ngomong soal beasiswa, aku jadi teringat kepala sekolahku dulu pernah berjanji akan memberitahu siapa orang yang membantuku.
Untuk itu sepulang sekolah nanti ku putuskan mampir dulu di SD. O ya, emak dengan susah payah mengumpulkan gajinya. Sehingga aku bisa dibelikan sepeda. Dan itu aku gunakan untuk pulang pergi ke sekolah.
Jam pulang sekolah tiba. "Di, nanti kita pisah dijalan A ya. Aku harus ke SD ku dulu", ucapku pada Dodi.
"Baiklah", jawab Dodi.
Kami menuju parkiran bersama. Nampak disana Bagas dan gengnya. "Haha, biarpun ke sekolah sudah pake sepeda tapi tetep aja jauh dengan kita. Hei kemana aja, yang lain udah pake mobil Lo masih pake sepeda. Dasar tengil!!", ucapnya.
Dodi maju hendak melabrak mereka. Namun segera aku menarik tangannya. Karena tidak akan ada gunanya meladeni mereka.
"Mau apa Lo barusan? Punya nyali Lo sama kita?", ucap Bagas menunjuk Dodi.
Sekali lagi aku segera menarik Dodi untuk pergi mengambil sepeda dan meninggalkan orang-orang itu. Mereka tak akan pernah puas untuk menghina orang-orang sepertiku.
Seperti tadi yang aku bilang, kita akan berpisah di jalan A. "Hati-hati Jo, sampai ketemu besok", teriak Dodi menyalipku dan berbelok arah.
Aku membalas dengan lambaian tangan kepadanya. Aku berjalan lurus ke SD ku dulu. Menemui kepala sekolahku. Berharap beliau masih ada disana.
Aku mempercepat kayuhan sepedaku. Kalaupun kepala sekolah sudah tidak ada di sekolah tapi aku tahu dimana rumah beliau. Sedikit memberi ketenangan.
Aku parkirkan sepedaku di halaman. Aku melihat kepala sekolah sedang mengunci pintu akan meninggalkan ruangan. "Bu, selamat siang", ucapku dari belakang.
"Jovan, selamat siang. Apa ada hal yang ingin kamu perlukan?", kepala sekolah membuka kunci kembali dan menyuruhku untuk masuk ke ruangan beliau.
Aku senang sekaligus dengan detak jantung berdebar. Menantikan siapa nama malaikat tak bersayap yang menolongku kala itu.
"Bu, semoga Ibu tidak melupakan sesuatu. Seperti yang Ibu bilang waktu itu akan memberitahukan siapa orang yang menolong saya waktu itu", ucapku memberanikan diri. Aku juga tidak mau banyak menyita waktu beliau di jam pulang.
"Ibu tidak lupa Jo. Tapi tidak sekarang. Orangnya menelepon Ibu meminta agar kamu bersabar dan menunggu kelulusan", ucap Bu Kepsek yang membuatku sedikit kecewa.
__ADS_1