SEPERTI TAK NAMPAK

SEPERTI TAK NAMPAK
BAG 9 MAK, JOVAN PASTI BISA!!!


__ADS_3

Memasuki ruang kelas yang masih terlihat sepi. Belum ada siswa lain yang datang selain diriku. Biasanya aku sampai di kelas lima belas sebelum bel berbunyi. Tapi karena hari ini aku mendapat tumpangan aku bisa datang lebih pagi dari biasanya.


Aku duduk di bangkuku dengan tangan menyangga kepalaku. Tidak ada kegiatan yang harus aku lakukan selain terus memikirkan nasib sekolahku.


Terlalu berat bebanku. Seharusnya hal seperti ini di pikirkan oleh orang tua. Tapi mungkin itu tidak berlaku untukku. Karena aku hanya memiliki emak seorang.


Dan kondisi emak saat ini tidak mungkin ia pergi mencari pinjaman. Dengan melihat kondisi kami seperti ini sepertinya juga tidak akan ada orang memberi tawaran pinjaman kepada kami dengan cuma-cuma. Karena berpikir kami tidak bisa membayarnya.


Tak terasa satu persatu temanku memasuki ruang kelas. Mereka datang seperti biasa tidak menganggapku ada. Hingga satu kelas sudah lengkap. Dan pelajaran dimulai ketika Bu Ana datang ke kelas.


"Anak-anak, hari ini akan dibagikan kartu ujian. Dan besok sampai sabtu kalian belajar di rumah untuk masa tenang. Kalian mengerti? Silahkan kalau ada yang perlu ditanyakan!", ucap Bu Ana memberi pengumuman.


Hari ini mereka hanya mengulas soal-soal latihan ujian yang dirasa sulit. Satu persatu siswa mengajukan pertanyaan untuk meminta pembahasan.


Jovan terus menunggu. Tiba-tiba namanya di panggil Bu Ana maju ke depan untuk menerima kartu ujian. Betapa kagetnya dia. Senang sekaligus bertanya-tanya kenapa dirinya bisa menerima kartu itu.


Bukankah aku belum membayar tunggakanku? Lalu mengapa aku sudah mendapatkan kartu ujianku? Tanyanya dalam hati sambil menerima kartu itu dengan riang gembira.


Jam kelas akhirnya selesai. Bu Ana masih ada di kelas karena membereskan buku-buku yang di bawanya. Aku memberanikan diri untuk bertanya.


"Bu, bukankah saya belum melunasi tunggakan administrasi. Lalu mengapa saya sudah mendapat kartu ujian saya?", tanyanya.


"Maaf Jo, Ibu hanya bertugas membaginya. Kamu bisa bertanya ke bagian administrasi sekolah. Belajar yang rajin ya, akhir-akhir ini nilaimu meningkat!", ucap Bu Ana sebelum akhirnya meninggalkan kelas.


Aku hanya menjawab dengan anggukan. Hingga aku memutuskan pergi ke ruang administrasi. Menanyakan siapa malaikat yang sudah menyelamatkan hidupku.


Tok..tok...tok...


Aku mengetuk pintu ruangan itu. Hingga bunyi suara menyuruhku masuk dari dalam sana. Aku segera membuka pintu untuk masuk. Dan aku dipersilahkan untuk duduk.

__ADS_1


"Maaf Nak Jovan. Ibu sudah berjanji untuk tidak membocorkan siapa yang telah melunasi uang sekolahmu. Karena ini permintaan yang bersangkutan. Tapi Ibu berjanji akan jujur kepadamu kalau kamu sudah SMP nanti", itulah jawaban dari petugas administrasi di sekolahku ketika aku bertanya siapa orang yang sudah membantuku. Dan mengapa aku harus menunggu SMP dulu baru tahu siapa orangnya?


Aku keluar dari ruangan itu akhirnya. Karena biarpun aku memaksa petugas itu untuk jujur ia tak akan memberitahuku. Aku hanya bisa bersyukur. Masih ada orang yang sudi menolongku. Meski aku tak tahu siapa orangnya.


Buat kamu yang sudah menolongku, semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu. Dan semoga aku bisa bertemu kamu suatu saat nanti. Dan juga membalasmu jika kamu perlu bantuanku nanti.


"Mak, aku pulang", sesampainya aku di rumah. Melepas sepatuku kemudian tidur berbaring di atas tikar.


"Kamu kenapa Nak? Apa capek?", melihat wajah Jovan sedikit tak bersemangat.


"Tidak Mak. Jovan hanya bersyukur hari ini".


"Ada apa Nak?", tanya Emak menantikan ceritaku.


"Jovan sudah mendapat kartu ujian Mak. Ada orang yang sudah melunasi uang sekolah Jovan".


"Lalu apa kamu sudah bertanya siapa yang membayarnya Nak?".


"Emak senang Nak. Akhirnya kamu bisa ikut ujian. Siapa pun orang yang sudah menolong kita lebih baik kita doakan yang terbaik untuknya", peluk emak pada Jovan.


Sore hari Emak mulai berlatih berjalan tanpa tongkatnya. Obat yang diberikan dokter kemarin benar-benar manjur.


Jovan terus mondar-mandir di belakang rumah. Ia kepikiran dengan Jessy. Karena pagi tadi ia bilang akan menjenguk emaknya. Tapi mengapa ia tak datang ke rumah sore ini?


Ya sudahlah. Mungkin Jessy tidak akan datang hari ini. Ucapnya kemudian masuk ke dalam rumah.


"Kamu mikirin apa Nak? Dari tadi mondar-mandir lho kaya orang bingung", tanya Emak yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.


"Tidak ada Mak", ucapnya bohong. Kali ini rupanya ia sedang tidak ingin bercerita.

__ADS_1


Emak juga bukan tipe orang tua yang pemaksa. Ia akhirnya memilih untuk lebih baik diam dan tidak bertanya lagi.


Jovan kemudian membantu emak menyiapkan menu makan malam. Menu sederhana kali ini sayur lodeh dengan sambal dan kerupuk.


"Mak, berasnya habis ya?", tanyanya melihat beras hanya tinggal untuk masak besok saja.


"Iya Nak. Kamu tidak usah pikirkan itu. Besok emak akan membelinya", ucap Emak. Padahal selama libur dua hari tidak bekerja ia tidak memiliki simpanan uang.


Jovan bukan anak yang bodoh sehingga percaya begitu saja. Emak pasti akan selalu menutupinya. Karena tidak mau menjadi beban pikiran Jovan jika mengetahuinya. Bukankah semua orang tua seperti itu? Selalu berusaha mencukupi kebutuhan anaknya tanpa ingin anaknya tahu bagaimana cara ia mendapatkannya.


"Mandi dulu Nak. Ini air hangatnya sudah matang", ucapnya kemudian.


"Jovan mandi pakai air dingin saja Mak. Yang itu buat Emak saja. Jovan ambil air dulu ya Mak", ucapnya dengan membawa dua ember.


Emak hanya mengangguk pasrah. Anaknya memang selalu pengertian dengannya. Penuh kasih sayang perhatian.


Di rasa sudah cukup untuk mereka berdua. Jovan berhenti mengambil air. Ia meminta emaknya mandi lebih dulu baru kemudian dirinya. Karena tidak ingin emak kedinginan kalau mandi larut petang.


Malam hari.


Jovan fokus dengan belajarnya. Benar-benar ingin menunjukkan hasil terbaiknya. Meski terkadang rasa percaya dirinya kurang. Tapi ia harus rajin berusaha. Karena segala sesuatu yang kita usahakan akan mendapatkan hasil yang terbaik.


Itulah yang selalu menjadi prinsipnya selama ini. Dengan usaha kerasnya pasti tidak akan sia-sia. Apalagi Bu Ana telah menyampaikan untuk lulusan terbaik akan di ajukan beasiswa.


Hal itu menjadi motivasi Jovan. Karena kalau mengandalkan uang ia tak akan mampu untuk melanjutkan. Tapi kalau dia bisa melanjutkan sekolah dengan beasiswa bukankah itu akan meringankan beban emaknya.


Mak, Jovan pasti bisa!!!! Ucapnya sambil membereskan buku-buku yang telah dipelajarinya. Kemudian memposisikan dirinya untuk menggapai alam mimpinya.


"Selamat malam Mak! Semoga esok lebih membahagiakan!", ucapnya.

__ADS_1


"Terimakasih Nak! Jangan lupa panjatkan doamu!!", emak selalu mengingatkan.


__ADS_2